Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serius mengubah wajah Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM). Kawasan yang ke depannya diharapkan menjadi simpul ekosistem kebudayaan ini didesain ramah lingkungan, ramah penyandang disabilitas, dan mengoptimalkan ruang publik.

Rencana revitalisasi PKJ-TIM dikukuhkan Gubernur DKI Jakarta pada peringatan 50 tahun TIM akhir 2018. Proses pembangunannya sendiri dimulai pada medio 2019. Salah satu poin penting revitalisasi ini adalah pengembalian fungsi pusat kesenian tersebut seperti rancangan awal saat pendiriannya pada 1968.

PKJ-TIM yang berulang tahun 10 November, awalnya memiliki Teater Tertutup, Teater Terbuka, Teater Arena, Teater Halaman, Teater Besar, Sanggar Baru, Masjid Amir Hamzah, Sanggar Tari Huriah Adam, Wisma Seni, serta perumahan anggota Dewan Kesenian Jakarta dan dosen Institut Kesenian Jakarta. Namun, Teater Tertutup, Teater Halaman, Teater Terbuka, dan Teater Arena ditiadakan pada 1996. Dalam revitalisasi PKJ-TIM, keempat teater itu dibangun kembali.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Iwan Henry Wardhana mengatakan, PKJ-TIM akan memiliki fasilitas baru dan fasilitas yang direvitalisasi. “Fasilitas budaya yang baru, yakni Teater Halaman, Teater Arena, Galeri Annex, dan Pusat Latihan Budaya. Sedangkan, fasilitas yang direvitalisasi adalah Graha Bhakti Budaya; Galeri Cipta 1, 2, dan 3; serta Perpustakaan,” katanya.

Pemprov DKI Jakarta menugaskan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk memperelok dan meningkatkan fungsi PKJ-TIM. Revitalisasi PKJ-TIM ini menggunakan desain karya arsitek Andra Matin yang menang sayembara pada 2007 lalu.

Per 14 November 2021, progres pembangunan revitalisasi TIM mencapai 60 persen. Pembangunan ini dibagi menjadi tiga fase. Fase 1 meliputi pembangunan Masjid Amir Hamzah, Gedung Parkir Taman, Gedung Perpustakaan, dan Wisma Seni. Fase 2 meliputi revitalisasi Graha Bhakti Budaya, Teater Halaman, Galeri Annex, pemutakhiran Planetarium, serta Pusat Latihan Seni dan Pekerjaan Kawasan. Sementara itu, fase 3 mencakup pekerjaan interior dan pengoperasian alat.

Kawasan PKJ-TIM juga akan kembali hijau dengan pepohonan. Pasalnya, dahulu ruang terbuka hijau (RTH) di PKJ-TIM hanya 11 persen. Dengan revitalisasi, RTH akan bertambah menjadi 28 persen. Arsitekturnya pun dirancang ramah penyandang disabilitas.

Baca juga:
Platform Indonesiana, Upaya Pemajuan Kebudayaan

Pemprov DKI Jakarta Dorong Perkembangan UMKM dengan Jakpreneur

Barometer Seni dan Budaya

Revitalisasi Taman Ismail Marzuki tentu tidak sekadar perkara fisik, tetapi juga ke depannya kelak disertai dengan revitalisasi sistem pengelolaan kesenian dan budaya. Hal ini dinilai penting agar Jakarta, yang menjadi salah satu barometer perkembangan seni dan budaya di Indonesia, akan dapat kembali unggul di mata internasional.

Kepala UPT Kerja Sama dan Komunikasi Institut Kesenian Jakarta, Suryana Paramita, MSn menilai, revitalisasi TIM adalah keputusan yang baik, terutama mempertimbangkan usia bangunannya yang sudah cukup tua dan perlu adanya akomodasi terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat. “Revitalisasi ini diharapkan dapat memberi wajah baru dan semangat berkesenian dalam merespons zaman,” tutur Paramita.

Ia menambahkan, revitalisasi PKJ-TIM akan dapat membuka peluang kolaborasi program seni antarnegara serta inovasi dalam karya seni dan teknologi. Wajah baru TIM juga diharapkan menarik minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk semakin dekat dengan lingkungan seni.

“Saya berharap revitalisasi ini tidak hanya menjadikan TIM sebagai bentuk bangunan fisik baru, tetapi juga disertai visi dan misi yang sejalan—yang berpihak pada seniman dan pendidikan seni. Semoga transparansi terjadi, sehingga tidak hanya seniman yang merasakan wajah baru TIM, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat,” pungkas Paramita. [NOV]