Virus dan racun yang paling merusak ruang digital adalah hoax dan penipuan (47 persen), ujaran kebencian (27 persen), dan diskriminasi (13 persen). Tentunya ketiga poin ini harus kita waspadai dengan cermat. Mengapa bisa virus dan racun ini muncul di media digital? Mereka dapat muncul karena adanya perilaku kepo masyarakat; banyaknya keingintahuan orang-orang tanpa melihat keadaan, situasi, ataupun perkembangan teknologi. Kita kepo tetapi tidak mau belajar dan tidak mau baca, dan akhirnya terjadi hoax dan provokasi. Oleh karena itu penting untuk membekali diri dengan literasi digital agar dapat terhindar dari hal-hal negatif saat berselancar di internet.

Menyikapi hal itu, maka lembaga Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital dalam menggelar webinar dengan tajuk “Hindari Virus dan Racun di Ruang Digital”. Webinar yang digelar pada Rabu, 10 November 2021, pukul 13.00-15.30 diikuti oleh sejumlah peserta secara daring.

Dalam forum tersebut hadir Yusuf Mars (Pemred PadasukaTV & Direktur Eksekutif ITF), Erwan Widyarto (Mekar Pribadi, Penulis & Jurnalis), Eva Yayu Rahayu (Konsultan SDM & Praktisi Keuangan IAPA), Muhammad Bima Januri, ST, MKom. (Co-Founder Localin), dan Bella Nabila (Producer & Entrepreneur) selaku narasumber.

Dalam pemaparannya, Erwan Widyarto menyampaikan informasi penting bahwa racun di ruang digital membuat manusia menjadi individualis, mengubah otak secara perlahan, membuat orang jadi bodoh, membuat orang jadi pemarah, dan membuat orang makin malas. Sudah banyak penelitian menyebutkan kalau remaja saat ini rasa empatinya jauh berkurang dibandingkan remaja pada 30 tahun lalu. Setelah diteliti, ternyata hal ini diakibatkan oleh peran internet. Remaja sekarang 40 persen kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka lebih terlihat sebagai seorang individualis; jika bukan urusannya, maka mereka tak akan turut campur. Terkait itu, kita harus membangun budaya digital dalam rangka mengatasi racun digital. Beberapa cara yang harus dilakukan adalah  masyarakat harus bisa memanfaatkan teknologi dengan bijak, kemudian membuat prioritas berdasarkan moral dan menumbuhkan kembali semangat gotong royong, karena dengan cara gotong royong, kegiatan yang dikerjakan lebih cepat selesai dan setiap individu dapat merasakan dampaknya. Selain itu, kita juga harus meningkatkan rasa solidaritas atau kepedulian antar individu yang satu dengan yang lain.

Bella Nabila selaku narasumber Key Opinion Leader juga menyampaikan bahwa berita-berita hoaks yang banyak beredar di internet itu  bisa dianggap sebagai virus. Kini banyak kemudahan yang diberikan karena adanya media digital, dan hal ini menjadikan kita lebih menyukai hal-hal yang instan. Apapun menjadi mudah, contohnya seperti kita ada soal ujian, yang sering kita lakukan adalah tinggal searching, copy, dan paste tanpa kita olah dan saring lagi, sehingga sikap berpikir kritis kita kurang terasah. Ketika masuk ke dalam media digital, kita harus ketahui niat kita apa karena semua yang kita lakukan ada risikonya. Kita harus ketahui tujuan kita ingin sampai mana. Ia juga ingatkan bahwa kita menerima informasi apapun kita tidak bisa terima mentah-mentah, dan apapun yang kita bagikan di internet harus bisa kita pertanggungjawabkan.

Para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Yessika Anwar menyampaikan pertanyaan “Negara kita dikenal dengan keramahan dan kesopanannya, tetapi faktanya di dunia digital masih banyak yang menyebarkan berita hoax dan hal-hal negatif, berkomentar tidak sopan, dan mem-bully di media sosial. Salah satu alasannya karena minimnya edukasi sejak dini baik dari orang tua, sekolah, ataupun lingkungan sekitar. Edukasi seperti apa yang mudah diberikan kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk lebih bijak beretika dalam menggunakan media sosial?”

Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan lugas oleh Eva Yayu Rahayu, bahwa tentu dalam berselancar itu memang kita harus mempunyai etika. Harus diperhatikan bahwa kita membangun jejak digital yang baik dengan bijak menggunakan media sosial itu untuk branding. Hal yang kedua; ingatlah keberadaan orang lain dan selalu taat kepada standar perilaku online yang sama dengan yang kita jalani kehidupan nyata. Pikirkan terlebih dahulu sebelum berkomentar dan yang tidak kalah penting adalah hormati privasi orang lain. Hal-hal inilah yang perlu terus diingatkan oleh orang-orang terdekat dan sekitar generasi muda yang menggunakan media digital.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kota Jakarta Barat. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten. Juga, bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa ikuti akun Instagram @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, mengingat program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.