/CERITA

Oleh: Angelia Rizky
Instagram: @angeliarzky

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Belitung, membawa saya pada kesimpulan, berwisata di Belitung itu seru!

Saya newbie, pendatang baru untuk urusan pelesir di Belitung. Awalnya saya kira, serunya wisata di Belitung hanya di pantainya saja yang memang tersohor. Namun, pandangan saya akan Belitung berubah setelah 3 hari 2 malam berwisata Bentara di Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung.

Bentara adalah program wisata agronomi dan konservasi yang digagas PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) yang bernaung di bawah grup perusahaan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ). Asyiknya Bentara, saya tidak sekadar berwisata, tetapi juga belajar tentang lingkungan, konservasi alam, sejarah, dan budaya masyarakat setempat.

Keanekaragaman hayati

Lewat ekowisata Bentara, saya berhasil melihat tarsius secara langsung pada saat melakukan night trekking di Hutan Balok. Tarsius merupakan primata terkecil di dunia dan langka, serta hanya bisa ditemukan malam hari. Ciri utama Tarsius, matanya besar dan mendominasi wajahnya.

Senang sekali saya bisa melihat langsung Tarsius. Matanya bersinar terang pada malam hari dan mampu melompat seperti tupai.

Tarsius yang bisa dilihat di area konservasi ANJ.

Tidak mudah menemukan tarsius. Saya harus menapaki hutan dengan dipandu tim konservasi SMM. Sembari melewati pohon demi pohon, saya belajar tentang jenis pohon. Pihak perusahaan menempatkan QR code yang bisa dipindai untuk mengetahui nama, jenis, dan kategori pohon tersebut.

Malam itu saya juga melihat satwa lain seperti burung raja udang punggung merah.

Petualangan saya berlanjut di area konservasi yang dikelola sangat baik oleh SMM. Saya berkesempatan menyusuri Sungai Balok di pagi hari dengan kapal kecil yang difasilitasi komunitas nelayan Keretak Nibong. Dalam bahasa lokal, keretak artinya jembatan penyeberangan, sedangkan nibong adalah jenis pohon lokal untuk membuat jembatan.

Pemandangan susur Sungai Balok.

Saya ditemani pemandangan burung-burung beterbangan, seperti elang dan punai, serta para monyet. Yang tak kalah seru, saya melihat dari dekat, sekitar 30 centimeter saja, ular sanca kembang yang “tidur” di pecahan batang pohon di pinggir sungai.

Perjalanan saya berakhir di muara sungai yang langsung menghadap laut. Di situ, salah satu nelayan memperlihatkan blangkas, hewan laut serupa ikan pari, tapi bercangkang seperti kepiting.

Seluruh pengalaman bertemu satwa itu saya catat di form Peduli Keanekaragaman Hayati (Pendaki). Jika berkunjung ke sini dan mengisi form tersebut, kalian sudah menjadi bagian dari citizen science, yang memang tidak memerlukan latar belakang science. Pencatatan ini dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan baru dan membantu pihak Bentara menginventarisasi keanekaragaman hayati di area konsesi milik ANJ ini. Seru!

Tak hanya alam, saya juga belajar sejarah. Area ini memiliki situs makam Raja Balok pertama Kigede Ya’kub Cakraningrat. Saya juga melewati runtuhan yang diyakini sebagai gerbang Kerajaan Balok, kerajaan terbesar di Belitung.

Blankas, hewan laut yang dilindungi.

Lebih kenal dengan sawit

 Selama berwisata di sini pemandangan perkebunan kelapa sawit menjadi “teman”. Saya melihat langsung bagaimana ANJ memisahkan area perkebunan kelapa sawit dengan area konservasi dengan baik. Di sinilah keindahannya yang saya lihat dari Bukit Jungkong. Dari ketinggian, area kebun sawit dan konservasi sangat indah terlihat dengan pegunungan menjadi latar.

Petualangan singkat saya ditutup di sini. Setelah berswafoto di menara pandang, saya menikmati es kelapa muda sembari mendapatkan penjelasan bagaimana cara melakukan konservasi dan mengolah perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Fill your life with experiences, not things. Have stories to tell, not stuff to show. Jadi, jika kalian ke Belitung, jadikan Bentara destinasi wajib kunjung dan jadilah Pendaki. Rasakan keseruannya!

/CUTTING EDGE

Inovasi Padi Apung

“Awalnya, saya dan petani lain tidak percaya lahan yang tergenang air ini bisa ditanam padi,” ujar Bahiman (53), ketua kelompok petani binaan SMM di Desa Jangkang, Belitung Timur. Ungkapan para petani itu terucap karena lahan pertanian di tempat tersebut acap terendam air, bahkan ada yang setinggi 1 meter.

“Namun berkat pendampingan tim dari SMM, kami diperkenalkan dengan sistem tanam padi apung dan metode tanam jajar legowo. Hasilnya sungguh menggembirakan,” ujarnya.

FOTO-FOTO: B. YURIVITO/KOMPAS KLASIKA.

Kelompok tani yang berjumlah 30 orang ini merasakan panen pertamanya sejak didampingi SMM pada Maret 2021. Hasilnya, dari 100 rakit (setara 0,06 hektar) mampu menghasilkan 7 ton gabah per hektar, padahal, selama ini di lahan konvensional, panen maksimal hanya mencapai 3–4 ton per hektar.

Oleh karena itu, Bahiman berharap, program ini dapat terus berlangsung ke depannya. “Kami sangat senang mendapat pendampingan dari SMM dan semoga program ini tidak berhenti pada masa depan,” pungkasnya.

/LITERASI

Potensi Ekowisata Belitung Timur

Wisata di Belitung sebenarnya sangatlah lengkap. Tidak hanya melulu berbicara wisata pantai. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah terobosan dan kolaborasi untuk memperkenalkan wisata Belitung secara utuh. Hal ini dikatakan oleh Bupati Belitung Timur Burhanuddin, Rabu (13/10/2021) di Manggar, Belitung Timur.

“Struktur pulau ini didominasi batu granit. Tapi, ini justru menjadi bukti sejarah dan bukti bagaimana pulau ini mampu memperjuangkan diri menjadi geopark nasional dan internasional. Termasuk juga memperkenalkan diri sebagai destinasi wisata yang menarik nan unik,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, selama ini paket travel yang ada hanya terpaku pada wisata pantai dan destinasi yang cenderung monoton. Oleh karena itu, pihaknya kini berkolaborasi dengan PT Sahabat Mewah dan Makmur dari Grup ANJ mengembangkan ekowisata yang bernama Bentara.

“SMM memiliki fasilitas yang bagus dan sayang kalau tidak dioptimalkan. Selain itu, area konservasi yang mereka kelola juga sangat baik. Saya sebagai pemerintah daerah, tidak mungkin menutup diri dengan perusahaan yang memiliki itikad baik, yang sangat terbuka dan mau membantu pengembangan pariwisata yang salah satunya kebetulan ada di wilayah mereka,” ujarnya.

Burhanuddin menyebut contoh, di wilayah konservasi SMM, wisatawan tidak hanya bisa belajar tentang perkebunan sawit berkelanjutan, dari hulu sampai hilir, tetapi juga sejarah Kerajaan Balok, melihat hewan langka tarsius, dan lainnya.

Sekarang, tugas yang harus segera digarap adalah bagaimana mengemas wisata ini menjadi menarik. Sebab, bagi pria penggemar sepakbola ini, wisata tidak bisa dilepaskan dari cerita, yang nantinya jika sukses akan mampu menggerakkan ekosistem pariwisata secara keseluruhan.

“Saya berharap bisa mengemas Bentara, bersama SMM, menjadi objek wisata yang menarik dan memperkenalkan pesisir Belitung Timur sehingga bisa menjadi daya tarik wisatawan. Jadi, wisatawan tahu, Belitung tidak hanya punya wisata pantai,” ujar Burhanuddin.

/KOLEKTIF

Menikmati Belitung

Menikmati Belitung bisa dengan banyak cara, tak melulu soal keindahan pantai dan lautnya. Berkunjung ke sini pastinya juga harus mencicipi kelezatan kulinernya.

Ada Mie Atep Belitung yang legendaris. Mi kuah kental dengan rasa yang unik bisa menjadi “pembuka” untuk menikmati Belitung. Jika ingin yang berbeda, coba santap gangan (sop) ikan. Sop ikan ini diracik dengan nanas yang rasanya menggugah selera. Jika haus, redakan dengan es jeruk kunci yang segar.

Sesaat sebelum pulang, jangan lupa membawa oleh-oleh khas Belitung, yaitu ketam isi kepiting yang sangat disukai banyak orang. Untuk tanda mata, bisa dipilih kerajinan tangan daun lais karya warga setempat, ada yang berbentuk aneka tas, topi, dan aksesori lain.

Kerajinan ini dibuat oleh ibu-ibu warga setempat memanfaatkan daun lais, yang menyerupai pandan tetapi berduri. Kerajinan ini menjadi suvenir khas yang pasti menarik minat orang terdekat Anda.

/ULAS.

Peduli dengan Lingkungan dan Manusia

Perusahaan perkebunan kelapa sawit kerap sekali dibenturkan dengan kehilangan biodiversitas dan kerusakan lingkungan. Hal tersebut tidaklah benar. PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) membuktikannya dengan contoh nyata.

“Salah satu nilai yang ANJ anut adalah respect for people and environment. Ini DNA ANJ. Kita tidak memungkiri bahwa kegiatan usaha yang terkait sumber daya alam pasti ada dampak lingkungannya. Namun, kami tidak hanya bicara tentang bagaimana meminimalkan, tetapi juga berusaha lebih jauh dari itu,” ujar Direktur Sustainability and Corporate Communications Grup ANJ Nunik Maharani.

Contohnya, di setiap area ANJ beroperasi, perusahaan selalu mengalokasikan area konservasi. Misaln ya di Ketapang, Kalimantan Barat. Di tempat ini bahkan area konservasinya ada dua, di dalam HGU (657 hektar) dan di luar HGU (2.330 hektar). Keduanya merupakan habitat orangutan.

Sejak 2019 ANJ membentuk program Peduli Keanekaragaman Hayati (Pendaki) untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan pada lingkungan sembari memperlihatkan komitmen mereka pada konservasi alam.

Lewat Pendaki, ANJ mengajak masyarakat untuk ikut menjadi citizen scientist dengan membantu mencatat keanekaragaman hayati yang ada di area operasi ANJ. Hasilnya cukup signifikan. Sejak dibentuk Maret 2019, sudah ada 778 citizen scientist, 36.713 data lapangan terkumpul, dan sekitar 400 jenis satwa teridentifikasi di area konsesi ANJ.

ANJ juga mengenalkan Belitung Alternative Integrated Tourism (Bentara). Jadi, wisatawan tidak hanya menginap dan berwisata alam, tetapi juga bisa belajar banyak hal, baik tentang keanekaragaman hayati maupun perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Selain alam, ANJ peduli dengan masyarakat di sekitar operasional perusahaan. General Manager SMM Ridwan Damanik bercerita, ANJ telah melakukan banyak kegiatan tanggung jawab sosial.

Mulai dari sosialisasi tentang pola hidup sehat dan bersih dengan membantu membangun jamban bagi warga, mengajak bertanam sayur, membuat kolam lele untuk dikelola warga, mengenalkan inovasi padi apung, hingga mengajarkan menanam tanaman edamame sebagai alternatif pendapatan masyarakat.