Oleh: Rafael Arsono
Arsitek I @rafaelmirantiarchitects I @rafaelarsono I #tatakota

Pembagian ruang wilayah yang tepat antara ruang privat dan publik, area terbuka dan tertutup, menjadi satu hal yang perlu disoroti dalam setiap pengembangan sebuah kawasan. Hal ini tidak semata demi menampilkan kawasan permukiman yang indah, tetapi juga mendukung terwujudnya lingkungan yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan.

Pembagian fungsi ruang dalam kawasan yang baik berpengaruh pada vitalitas sebuah kota. Umumnya, pengembang perumahan membagi area kawasan memisahkan zona hunian dengan zona komersial dan perkantoran secara jelas (urban sprawl) demi alasan kenyamanan dan keamanan. Namun, dengan besarnya masing-masing zona, membuat jarak berkendara akan terasa semakin jauh dari satu zona ke zona lain.

Ruang di antara kedua atau beberapa zona akan terasa kosong pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, area hunian akan sepi pada siang hari dan sebaliknya area perkantoran akan sepi ketika malam hari. Apabila jarak antara hunian, ruang komersial, kerja dan rekreasi semakin berdekatan, vitalitas sebuah kawasan akan otomatis meningkat. Penghuni dapat mengakses beragam kebutuhan hidup dengan transportasi umum, bersepeda, maupun berjalan kaki. Dengan demikian, sehari-hari jalanan akan ramai dengan beragam aktivitas: orang berolahraga, belanja kebutuhan keseharian, pergi kerja, makan siang dan lain-lain. Rasa aman terbangun dari ramainya sebuah kawasan.

Singapura, contohnya, di tengah padatnya kawasan perkantoran dan komersial Tanjong Pagar, ada zona perumahan vertikal seperti The Pinnacle Duxton yang dikembangkan oleh Housing Development Boards (HDB) atau badan pengelola perumahan rakyat di Singapura. Bersama dengan tipe hunian lain seperti rumah kopel peninggalan era kolonial dan apartemen yang dikembangkan swasta, kawasan Tanjong Pagar selalu ramai dari pagi sampai malam. Semua kebutuhan dari bank, tempat makan, grocery store, hotel, kantor, dan stasiun MRT bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki.

Baca juga: Futopia, Tempat Kuliner di Alam Sutera yang Kekinian

Untuk mewujudkan kota yang nyaman dan aman, dibutuhkan integrasi visi dan komitmen dari pengembang dan negara. Di Indonesia, pengembangan sebuah kawasan umumnya masih diinisiasi dan dikendalikan oleh pengembang, yang kebanyakan masih menggunakan metode urban sprawl dengan mengandalkan kendaraan pribadi. Namun, sudah ada beberapa pengembang yang mencoba melakukan pencampuran zona (mixed use development) yang diimbangi dengan penyediaan transportasi kawasan (seperti shuttle bus) bagi warga.

Kesadaran untuk menciptakan kawasan yang tidak sekadar tempat untuk berhuni, tetapi juga menciptakan hidup berkualitas, di antara pengembang pun kian tinggi. Dewasa ini, pengembangan kawasan permukiman berwawasan lingkungan menjadi salah satu konsep yang banyak digadang-gadang. Perumahan yang dibangun dengan konsep berwawasan lingkungan terbukti mampu meningkatkan nilai investasi di masa mendatang. Salah satunya adalah Alam Sutera, yang sejak dikembangkan pertama kali pada 1994, konsisten menerapkan konsep ini.

Pembagian ruang wilayah

Kawasan Alam Sutera terbilang unik dibandingkan kebanyakan kawasan di sub-urban Jakarta lainnya. Umumnya, jalan utama sebuah kawasan memiliki satu aksis yang lurus dari pintu gerbang ke ujung kawasan. Di Alam Sutera, jalan bulevar terbagi menjadi beberapa ruas yang tidak linear sehingga tidak terasa monoton. Apalagi dengan tatanan lanskap yang rindang, membuat suasana kawasan terasa adem.

Baca juga: Padu Kenyamanan Hunian ala Rumah Tapak dan Vertikal di Alam Sutera

Area bulevar ini juga ditata dengan menghadirkan berbagai jenis bangunan. Mulai dari tempat jajan (Flavorbliss), pusat perbelanjaan (Living World, Mall @Alam Sutera), kantor showroom material bangunan, rumah sakit (OMNI), apartemen dan lain-lain. Ini membuat wajah kawasan beragam dan tidak melulu dipenuhi deretan ruko yang “dingin” dan kurang berkarakter. Kalaupun ada ruko, desainnya beragam dengan setback yang cukup jauh dari jalan dan dipecah beberapa blok sehingga secara keseluruhan wajah kawasan enak dipandang karena tidak masif.

Foto-foto: Iklan Kompas/E. Siagian & Antonius SP

Sementara itu, keberadaan jalur pedestrian dan bersepeda konsisten menghubungkan tiap kluster dan bulevar. Tidak heran banyak yang menilai kawasan Alam Sutera cocok untuk dipakai berolahraga. Program car free day di bulevar depan Mall @Alam Sutera juga berkontribusi menegaskan visi pengembang untuk meningkatkan kualitas hidup.

Ada banyak alasan yang kerap mengemuka di antara penghuni Alam Sutera memilih kawasan ini. Salah satunya, menurut klien saya, adalah karena dekat dengan fasilitas pendidikan berkualitas.

Anak-anaknya saat ini tengah bersekolah di Santa Laurensia. Selain itu, udara yang lebih segar ketimbang di Jakarta serta lokasi yang strategis menuju Jakarta atau ke pabrik di kawasan Pasar Kemis, tempat klien saya bekerja.

Kelengkapan fasilitas penunjang rumah tangga juga penting untuk kelangsungan hidup di sebuah kota. Alasan di atas ditunjang dengan keberadaan beberapa sekolah sampai ke jenjang universitas (Binus & UBM), supermarket (Lotte Mart, Giant, Food Hall, Hero), serta pusat perabot dan aksesori rumah tangga, IKEA, adalah keunggulan Alam Sutera.

Pengembang juga terbilang tanggap dalam memenuhi kebutuhan gaya hidup terkini dengan menghadirkan konsep smart city, yang kini tengah didorong oleh pemerintah Indonesia. Hal ini diterapkan antara lain dengan sistem penataan lingkungan terintegrasi. Alam Sutera mengembangkan konsep e-town melalui aplikasi yang meningkatkan kenyamanan warga dalam berinteraksi dengan kawasan, mulai dari memantau biaya perawatan lingkungan, mencari jasa untuk membantu kebutuhan rumah tangga, sampai ketersediaan panic button untuk keadaan darurat yang terhubung langsung ke command center. Manajemen keamanan tidak luput dari perhatian, Alam Sutera sudah melengkapi gerbang kluster dan jalan utamanya dengan CCTV.

Aplikasi eTown pun hadir untuk memudahkan komunikasi antara penghuni dan pihak pengembang. Enam fitur utama yang terdapat di dalamnya memudahkan warga untuk mendapatkan berbagai pelayanan, mulai dari pembayaran iuran pemeliharaan lingkungan, penyediaan jasa terkait kebutuhan rumah tangga, hingga pelayanan keluhan. Penghuni juga dapat terus mengikuti informasi terbaru di sekitar kawasan melalui fitur berita.

Menciptakan lingkungan yang berkualitas, sekaligus membangun interaksi di dalamnya menjadi kunci dari sebuah kenyamanan berhuni. Semua itu pun berawal dari penataan konsep yang matang dan penerapan yang konsisten.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 21 Maret 2019

Tags : Alam Sutera

Leave a Response