Memiliki visi “Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia”, Pertamina senantiasa bekerja keras membangun bangsa. Untuk memperkuat bisnis energi yang terintegrasi dari hulu ke hilir, Pertamina terus menciptakan SDM unggul untuk mendukung pemenuhan kebutuhan sumber energi, diversifikasi usaha dan portofolio, sejalan dengan tema sentral negeri ini “SDM Unggul, Indonesia Maju!”

Dalam menghadapi disrupsi industri yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 dan tantangan bisnis masa depan, Pertamina mengambil langkah strategis dengan sederet inovasi untuk penguatan bisnis, BUMN ini juga mengantisipasi peningkatan konsumsi energi nasional, kompetisi bisnis jangka panjang serta disrupsi dari sisi supply dan demand bisnis.

Sebagai BUMN di bidang energi, Pertamina memiliki kewajiban dalam memenuhi kebutuhan energi untuk konsumen, termasuk menyediakan dan mengembangkan sumber energi terbarukan untuk mewujudkan availa­bility, accessibility, affordability, acceptability, dan sustainability. Di sisi lain, Pertamina sebagai korporasi tidak hanya mengejar keuntungan namun juga berperan sebagai agent of development, pe­rintis kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh swasta, pembangun­an ekonomi, peman­faatan umum dan ekonomi kerakyatan.

Sehubungan dengan itu, Direktorat Sumber Daya Manusia Pertamina secara berkesinambungan, terukur dan masif menyiapkan profil dan posture employment untuk terus menjawab kebutuhan saat ini dan dinamika di masa mendatang.

“Human capital sebagai aset penggerak berharga bagi perusahaan memiliki peran sangat penting terhadap ketersediaan sumber energi dan kemajuan bisnis perusahaan. Sudah menjadi tanggung jawab semua pihak dan lebih khusus tim Human Capital untuk memproduksi SDM unggul yang kompeten, gesit, berpikiran maju dan terbuka, berkarakter serta berwawasan kebangsaan, terlebih dalam pengertian Pertamina ekosistem, SDM adalah motor penggeraknya, tidak hanya di bidang bisnis tapi juga meliputi community development, environment dan pendidikan,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

Hal tersebut karena bisnis (Profit), lingkungan (Planet), dan pendidikan (People) (development “3P”) merupakan pilar dari ekosistem yang saling mendukung dan menguatkan. Penjabarannya adalah energi pertumbuhan ekonomi yang besar dapat semakin memperkokoh modal finansial sekaligus menjadi elemen energi untuk pertumbuhan ekonomi (Profit). Sementara itu, masyarakat dan lingkungan merupakan energi besar bagi pertumbuhan untuk terus menjaga kesinambungan sumber daya alam (Planet). Tidak kalah penting, insan yang kompeten, bersemangat dan berkarakter kuat, dengan pengembangan dan pemberdayaannya akan menjadi energi besar bagi pengembangan SDM Indonesia (People).

“Dengan jumlah SDM lebih dari 32 ribu pekerja, ditambah lebih dari 5 ribu mahasiswa di Universitas Pertamina, siap untuk ikut mengisi pembangunan negeri ini,” jelas Direktur SDM Pertamina Koeshartanto. Ditambah dengan beneficiaries program CSR dan lebih dari 60 ribu mitra binaan, Pertamina memiliki hampir 100 ribu insan terlibat dalam ekosistem Pertamina.

Kekuatan SDM

Dalam menjalankan bisnis energi, Pertamina menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk ke dalam ranking 175 Top Fortune Global 500 tahun 2019 dan bertekad pada 6 tahun mendatang akan berada pada posisi Top 100. Dari total 32 ribu pekerja aktif, terdapat 62 persen berusia di bawah 35 tahun (generasi milenial), 71 persen memiliki latar belakang pendidikan tinggi, dan 75 persen memiliki masa kerja di bawah 10 tahun yang berpotensi memberikan nilai tambah lebih besar di masa depan. “Ini adalah people strength Pertamina yang didukung series of HC Development yang berkelanjutan dalam menjaga daya saing di era yang sangat dinamis,” kata Koeshartanto.

Untuk mengakselerasi bisnis, pemenuhan kebutuhan pekerja dilakukan melalui sumber domestik dan global. Program seleksi ketat dan mutakhir didukung teknologi digital, dalam upaya mendapatkan kualitas SDM unggul. Dalam memenuhi Dynamic Man Power Plan, dilakukan cara baru dan terbarukan seperti people analytics, machine learning, digital savvy, agility mindsets melalui sourcing domestik dan global, termasuk pelatihan bagi staf rekrutmen yang mutakhir, bersertifikasi, dan skillsets untuk mendapatkan SDM unggul. “Kerja sama dengan institusi tepercaya berskala internasional, menjaga governance process, berinovasi dalam sourcing process, dan quality assurance untuk mendapatkan talented people yang diperlukan bagi penguatan organization capability saat ini dan ke depan, menjadi prioritas kami,” kata Koeshartanto.

Pengembangan Kapabilitas

Dalam 3 tahun terakhir, Pertamina mengalami peningkatan produktivitas pekerja yang cukup signifikan, masuk dalam 15 teratas pada industri migas di Fortune 500, dengan tetap menjaga efektivitas biaya pekerja tidak lebih 1,51 persen dari revenue Perusahaan.

Untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan produktivitas pekerja, peran Pertamina Corporate University (PCU) sangat penting. PCU merupakan “kawah candradimuka” dalam menciptakan talenta Pertamina. Revitalisasi peranan PCU terus digulirkan dalam rangka menjalankan program pengembangan yang tidak saja fokus pada terciptanya keandalan operasio­nal, namun juga mampu mengantisipasi kondisi disrupsi dengan adanya bisnis baru yang pastinya memerlukan kompetensi baru, misalnya Petrokimia dan Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Untuk mempersiapkan hal itu, paradigma SDM dalam me­ngembangkan pekerja pun harus berubah. Mengutip Peter F. Drucker: ‘If you want to get something new, stop doing something old’, kita tidak bisa lagi menggunakan cara lama untuk menjawab kondisi saat ini, dibutuhkan SPECS – Solid, Purpose, Endurance, Crazy, & Speed,” kata Koeshartanto. Pada 2019, Pertamina secara agresif telah berhasil mencapai 1 juta jam pembelajaran (learning hours), yang meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya, dengan metode yang dititikberatkan pada experiential learning dan coaching/mentoring. Tahun 2020, target pembelajaran akan ditingkatkan lagi menjadi 2 juta jam pembelajaran. Metode pembelajaran pun bertransformasi, dari kegiatan pembelajaran didominasi face to face training, berubah dengan memanfaatkan teknologi, salah satunya melalui mobile learning dan e-learning, dimana pekerja dapat langsung mengakses ratusan modul pembelajaran baik bersifat teknikal, leadership, bisnis atau pun manajemen.

FOTO-FOTO: DOK. PERTAMINA.

Program pengembangan pekerja disusun secara sistematis dan terstruktur melalui kolaborasi dengan institusi global. Di samping itu, Pertamina juga memberdayakan pimpinan di level atas untuk memiliki tanggung jawab dalam melakukan transfer knowledge melalui coaching/mentoring. Program tersebut di antaranya Functional Program, Managerial/Leadership Program, Corporate Values Program, HSSE Program, Strong National Commitment Program (SNCP), dan Series of Formal Education. Khusus untuk SNCP, hal ini menjadi concern untuk lebih menanamkan kecintaan dan bela negara. Program ini untuk membangun karakter kebangsaan yang kuat dan kelak tidak saja kehadirannya diperlukan bagi Pertamina namun bagi bangsa dan negara.

Di samping itu, dengan banyaknya Anak Perusahaan (AP) serta Joint Venture (JV), Pertamina memiliki program directorship khusus bagi calon pimpinan AP dan JV yang bertujuan membekali sisi strategi bisnis, GCG and Compliance, kemampuan mengelola stakeholder dan, meningkatkan budaya berkinerja tinggi serta mengantisipasi dinamika regulasi. Dalam mem­persiapkan Leaders, Pertamina juga memiliki program akselerasi bagi future leader, di antaranya Catalyser, Talent Development Acceleration (TDA), Advance Leadership Program (ALP), GM Academy dan CFO Academy.

Dalam mengelola operasi luar negeri, Pertamina menugaskan pekerja di lebih dari 13 negara untuk mendapatkan exposure dalam multicultural environment dalam rangka meningkatkan kapabilitas dan mempersiapkan pekerja yang siap go global.

Penguatan Budaya Perusahaan

Terkait dengan budaya perusahaan, terdapat agen perubahan budaya (culture change agent/CCA) sebagai pendorong bagi pekerja Pertamina dalam menanamkan nilai-nilai per­usahaan 6C (Clean, Collaboration, Competitive, Capable, Commercial, Customer Focus) sehingga adaptive dan agile terhadap dinamika perubahan. Saat ini lebih dari 600 CCA aktif yang bertemu secara regular dan bersinergi melakukan berbagai program budaya, di antaranya program engagement berupa Board Greeting, Segar Bugar Sehat (SeBuSe), Ngobrol Pintar (NgoPi), Idea Generation (IG) dan Pertamina Energi Negeri (PEN) yang melibatkan pekerja Pertamina dengan secara sukarela menyediakan waktu dan biaya pribadi untuk mengajar di berbagai pelosok negeri.

Kondusivitas Hubungan Industrial

Pertamina juga memiliki tingkat hubungan industrial yang baik dengan menggunakan pengelolaan Hubungan Industrial yang mengedepankan harmonisasi dan pendekatan kerja sama kemitraan/mutualisme. Bersama de­ngan Serikat Pekerja (SP), SDM berkolaborasi menciptakan kondisi hubungan industrial yang harmonis pada tingkat Mutual Collaborative.

Kolaborasi tidak hanya tecermin dalam penyusunan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau pelaksanaan Bipartit, dan pembahasan atas disrupsi bisnis secara periodik, pelatihan hubungan industrial, namun juga menyediakan akses employees queries berbasis web-based dan digital. Lebih dari itu, Perusahaan juga bersama dengan SP menyelenggarakan kegiatan sosial berupa pembersihan pantai, penanganan bencana, dan program CSR yang diarahkan sebagai fondasi mutual trust dan respect.

“Kami yakin, dengan implementasi Pertamina Ekosistem, Pertamina tidak hanya menyediakan sumber energi saja, namun Pertamina juga menjadi energi yang sesungguhnya bagi kemajuan bangsa, melalui ketersediaan SDM yang andal, kompeten, bertanggung jawab serta terwujudnya kesinambungan sumber daya alam,” pungkas Koeshartanto. [BYU]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 20 November 2019.