Tak dapat dimungkiri, perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh proses digitalisasi.

Namun, masih banyak pengguna internet yang hanya mampu menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik, sehingga masih banyak masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Menyikapi hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tajuk “Cakap Ber-media Digital”. Webinar yang digelar pada Rabu (21/7/2021) di Kabupaten Lebak, diikuti oleh puluhan peserta secara daring.

Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni Zahid Asmara (Art Enthusiast), Ali Elanshory (Account Excecutive MNC Group), Novi Paramita Dewi, SIP, MDP (Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM), dan Fariz Zulfadhli, MBA (CEO of @kubikkreatif). Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety.

Kecapakan digital

Zahid Asmara membuka webinar dengan mengatakan, kecakapan digital terdiri atas tiga komponen, yakni teknis, strategis dan kreatif.

“Adapun elemen kecakapan digital terdiri dari empathy, viable, measure, dan visible. Sedangkan metode dalam kecakapan digital yakni divine, deserve, diverse. The art of everyday life included literasi, creativity and kolaborasi,” jelasnya.

Novi Paramita Dewi menambahkan, etika tradisional adalah etika offline menyangkut tata cara lama, kebiasaan, dan budaya yang merupakan kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat, sehingga menunjukkan apa yang pantas dan tidak pantas.

“Etika bisa dilihat sebagai pedoman sikap dan perilaku anggota masyarakat,” tuturnya. Sementara etika kontemporer, adalah etika elektronik dan online menyangkut tata cara, kebiasaan, dan budaya yang berkembang karena teknologi yang memungkinkan pertemuan sosial budaya secara lebih luas dan global.

Lalu dalam melakukan kegiatan di dunia digital, diperlukan etika digital (digital ethics). Artinya adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan, dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiket) dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahwa menggunakan media digital mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama. Demi meningkatkan kualitas kemanusiaan,” jelas Novi.

Ia mengajak masyarakat untuk menggunakan media sosial dan email dalam hal yang bermanfaat. “Sebisa mungkin ikutilah aturan yang ada di dunia digital dengan sebaiknya, jagalah etika dalam bermedia digital,” katanya.

Keamanan

Ali Elanshory turut menjelaskan bahwa Industry 4.0 Indonesia saat ini ditandai dengan banyaknya bermunculan start up baru di Indonesia. Contohnya di bidang e-commerce ada big 3 company, yakni Tokopedia, Shopee dan BukaLapak.

Keberadaan start-up tersebut tentunya meberikan kemudahan bagi kita dalam memenuhi kebutuhan sehari, hari mulai dari kesehatan pendidikan, transaksi keuangan, perjalanan dan lain sebagainya.

“Kemudian kita dituntut juga harus menguasai beberapa skill digital yang tentunya butuh dan perlu kita untuk kita pelajari. Di antaranya yaitu digital marketing, content creator, designer, programmer/UI, dan lain sebagainya. Apalagi dalam dunia kerja, semua skill tersebut sangat diperlukan untuk era saat ini,” ucapnya.

Sebagai pembicara terakhir, Fariz Zulfadhli mengatakan bahwa dampak positif media digital dalam bidang pendidikan yakni adanya e-learning. Sehingga, siswa dapat belajar secara online.

Sementara dalam bidang kesehatan, muncul teknologi smart card, yang memungkinkan tenaga medis atau yang berkepentingan bisa memperoleh riwayat penyakit pasien dan penanganannya. Sayangnya, kemajuan teknologi digital juga menimbulkan tindak kejahatan baru, seperti penipuan, hingga spamming.

Agar terhindar dari tindak kejahatan, Fariz menyarankan untuk sebisa mungkin demi keamanan perangkat digital, maka hindarilah penggunaan wifi publik karena tidak semua provider wifi publik memiliki tingkat keamanan yang baik.

“Hidari juga menggunakan browser yang atau aplikasi yang tidak terpercaya, demi keamanan data-data pribadi. Kemudian hindarilah mengunjungi website-website yang tidak aman dalam protokol pengiriman dan penerima informasi,” pungkasnya.

Mengajarkan anak

Dalam webinar ini, para partisipan yang hadir juga dipersilahkan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Franz menanyakan tentang cara yang mudah untuk mengajarkan anak agar cakap bermedia sosial dan memiliki netiket yang baik?

“Anak usia remaja memang lebih susah untuk dikendalikan daripada anak usia dibawah 13 tahun, untuk hal yang perlu dilakukan orang tua adalah melakukan pendekatan kepada si anak layaknya seorang teman bermain, mulai dari menanyakan kesukaan dan hobinya, support mimpi dan cita-citanya, kemudian arahkan ke yang baik,” jawab Novi.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kabupaten Lebak. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui Instagram @siberkreasi.dkibanten dan @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, terutama kepada Kominfo. Mengingat program literasi digital ini hanya akan berjalan dengan baik dan mencapai target 12,5 juta partisipan, jika turut didukung oleh semua pihak.