Tak dapat dimungkiri, perkembangan dunia digital telah menyasar ke segala sisi kehidupan. Saat ini, rasanya hampir tidak ada sisi kehidupan manusia yang tidak terpengaruh proses digitalisasi.

Namun, masih banyak pengguna internet yang hanya mampu menerima informasi tanpa kemampuan memahami dan mengolah informasi tersebut secara baik sehingga masih banyak masyarakat terpapar oleh informasi yang tidak benar.

Menyikapi hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar seri webinar literasi digital #MakinCakapDigital dengan tajuk “Literasi Digital untuk Membangun Karakter Bangsa”. Webinar yang digelar di Kabupaten Serang, Rabu (30/6/2021), diikuti oleh puluhan peserta secara daring.

Webinar ini mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian dan profesi, yakni Andreas Adi Trinoto Skom MMSI (dosen Teknik Informatika Universitas Indraprasta PGRI), Puji F Susanti (Kaizen Room), I Putu Putra Jaya Wardana SE MT (MsTR dab Direktur Utama Kawiwara Konsultan Digital Promotion), dan Antonius Andy Permana (Founder CEO of Haho.co.id).

Pengenalan komputer

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Andreas Adi membuka webinar dengan mengangkat topik “Basic Skills Tentang Hardware & Software dan Penggunanya”.

Menurut Andreas Adi, prosesor merupakan otak dari komputer, lalu ada motherboard/papan induk untuk tempat interaksi perangkat keras, semua perangkat masuk ke dalam papan induk ini, “Seperti kapal induk, tempat pesawat tempur dan semua persenjataan berada,” katanya.

Sementara itu, sistem operasi adalah sistem perangkat lunak yang mengelola perangkat keras komputer/laptop, sumber daya perangkat lunak, dan menyediakan layanan umum untuk program komputer.

“Bisa dibilang jembatan antara perangkat keras dan aplikasi yang akan digunakan oleh user. Jika PC/laptop/smartphone kita tidak ada sistem operasi ini, user tidak menggunakan perangkat kerasnya,” papar Andreas.

Terakhir, ada software atau perangkat lunak, yang terbagi dalam free software yang gratis, kemudian ada aplikasi berbayar yang dapat kita jalankan tentu dengan membayar sejumlah uang, jika tidak bayar, aplikasi tidak akan jalan.

“Dan, ada aplikasi open source yang aplikasi/perangkat lunak ini benar-benar ditujukan bagi orang yang ingin menciptakan lingkungan atau cara kerja mereka sendiri agar lebih cepat, efektif, dan efisien,” tuturnya.

Netiket

Puji F Susanti menambahkan, dalam bermedia sosial atau mengakses internet, diperlukan etika internet (netiket). “Netiket adalah segala aturan tata krama dan etika dalam berinteraksi menggunakan media digital dan internet,” ucapnya.

Namun, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan netiket, yakni penyebaran konten negatif, penipuan online, cyber bullying, menyebarkan berita hoaks, perjudian online, cyber crime, ujaran kebencian/provokasi/hinaan, pornografi, hingga pencemaran nama baik.

Pemahaman netiket haruslah kita terapkan sebagai pengetahuan dan sebagai salah satu soft skill yang melekat pada individu maupun sebagai bagian budaya dari institusi. Ketidakpahaman atas netiket bisa menimbulkan dampak negative yang sangat merugikan, karena internet memiliki jejak digital yang tidak mudah dihapus,” ujarnya.

Sementara itu, I Putu Putra Jaya menambahkan, digital culture adalah suatu kebiasaan yang penerapannya sudah menggunakan sistem teknologi revolusi industri 4.0. Untuk itu, kita perlu mempertahankan karakter bangsa.

“Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas baik tecermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa, dan karsa serta olah dari raga,” tuturnya.

Adapun nilai-nilai karakter berlandasakan budaya bangsa yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Literasi digital

Melalui literasi digital, masyarakat dapat mengakses, memilah dan memahami berbagai jenis informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Literasi digital dapat berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berpolitik dengan menyampaikan aspirasinya di kanal-kanal tertentu, masyarakat dapat menyuarakan perspektif dan opininya demi keadilan tanpa merugikan pihak lain. “Literasi digital juga dapat mencapai tujuan ekonomi yaitu melalui pemahaman  mengenai transaksi online,” ujarnya

Sebagai narasumber terakhir, Antonius Andy mengajak masyarakat untuk memahami dan memproteksi perangkat digital, baik proteksi perangkat keras maupun proteksi perangkat lunak.

“Langkah untuk memproteksi identitas digital adalah dengan menggunakan identitas asli atau samaran saat mengelola akun platform digital, serta bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Amankan identitas utama yakni alamat surat elektronik yang kita gunakan untuk mendaftar suatu platform digital,” ujarnya.

Selain itu, membangun karakter bangsa dilakukan dengan pembelajaran menggunakan media digital juga melibatkan pembelajaran mengenai nilai-nilai universal yang harus ditaati setiap pengguna seperti kebebasan berekspresi, privasi, keberagaman budaya, serta hak intelektual.

“Kita akan memahami bahwa media digital seperti sekeping mata uang, kebebasan berekspresi dan informasi di satu sisi dan pelanggaran privasi di sisi lain. Kedua sisi itu harus dipahami dan digunakan dalam jangkauan tertentu sehingga tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain,” paparnya.

Dalam webinar ini, para partisipan yang hadir juga dipersilakan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Ara bertanya seputar efek dari terlalu asyik bermedia sosial yang tanpa disadari ternyata sudah membentuk karakter seseorang menjadi introver, individualis, dan sulit beradaptasi.

Menanggapi hal tersebut, Puji menjelaskan, jangan sampai kita kecanduan media sosial sehingga mengabaikan sekitar atau bisa disebut mabuk gawai. “Jadi, namanya netiket tidak hanya mengatur orang di dunia digital, tetapi juga mengatur perilaku kita terhadap manusia nyata yang ada di samping kita,” pungkasnya.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kabupaten Serang. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui Instagram @siberkreasi.dkibanten.

Kegiatan webinar ini juga mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak sehingga dapat berjalan dengan baik, terutama kepada Kominfo. Mengingat program literasi digital ini hanya akan berjalan dengan baik dan mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak.