Oleh: Dian Rosdiana
CCPHI | www.ccphi.org | #csr

Pendidikan bermutu merupakan salah satu tujuan utama dalam Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) sesuai arahan PBB. Hal itu seyogianya dapat dirasakan oleh semua lapisan di manapun bertempat tinggal. Namun, hingga kini, ketidakmerataan pendidikan masih menjadi tantangan.

Meski menjadi tugas pemerintah, kerja sama dengan pe­mangku kepen­ti­ngan lain, uta­ma­­nya perusahaan-perusahaan yang beroperasi di berbagai pelosok Nusantara masih sangat diperlukan.

Misalnya saja, di Kabupaten Mimika, Papua. Meski wilayah ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, masyarakatnya terutama dari Suku Amungme, Kamoro, Damal, Nduga, Moni, Dani, dan Mee belum memiliki akses untuk mengenyam pendidikan bermutu. Bukan hanya sekolah, dari tingkat dasar sampai menengah ke atas, Kabupaten Mimika juga masih kekurangan guru.

Kemitraan

Kemitraan dalam kerangka corporate social responsibility (CSR) menjadi kunci utama agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan bersama. Hal inilah yang dilakukan PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan bermitra bersama Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), sebuah organisasi nirlaba yang berlokasi di Mimika, Papua.

PTFI dan LPMAK menjalankan program peningkatan kualitas pen­didikan dasar di Kabupaten Mimika. Keduanya sepakat untuk bekerja sama berdasarkan pada kondisi rendahnya minat dan kesadaran orangtua dan masyarakat akan pen­tingnya pendidikan, terbatasnya jumlah guru yang bersedia ditempatkan di daerah ter­pencil, rendahnya kapasitas dan kom­petensi guru, serta terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Kerja sama tersebut bertujuan untuk memperbaiki akses, meningkatkan kapasitas guru, dan meningkatkan fasilitas pendidikan dasar bagi anak usia 4 hingga 12 tahun di Mimika.

Kegiatan berfokus pada beberapa hal, beberapa di antaranya dalam menangani kekurangan jumlah sekolah, PTFI dan LPMAK men­dirikan lima sekolah asrama untuk putra-putri Papua. Sekolah asrama ini bertujuan untuk memberikan fasilitas akomodasi dan program pengayaan bagi anak usia sekolah dari wilayah yang terpencil, serta mempersiapkan pusat persemaian calon intelektual dan pemimpin masyarakat.

LPMAK mendirikan Asrama Tsinga di Beanekogom, Tsinga, yang kini memiliki 84 orang siswa di jenjang SD dan SMP. Di Mimika, LPMAK mendirikan Asrama Solus Populi di jenjang SD dengan jumlah siswa 279, serta Bintang Kejora Putra dan Putri jenjang SMP dan SMA berjumlah 200 siswa. Sementara itu, Asrama Taruna Papua di Timika menampung 340 siswa jenjang SD dan SMP.

LPMAK juga membangun asrama yang terletak di luar Papua, yaitu Asrama Amor di Semarang, Jawa Tengah, dengan jumlah siswa 100 jenjang SMP dan SMA sehingga total jumlah seluruh peserta asrama mencapai 1.003 siswa.

Selain itu, terdapat program Beasiswa LPMAK yang sudah mulai berjalan dari 1996. Pada periode 1996–2006, program beasiswa LPMAK memberikan beasiswa motivasi. Bantuan pendidikan diberikan kepada siswa dari tujuh suku di Kabupaten Mimika untuk semua jenjang pen­didikan, mulai dari jenjang TK hingga perguruan tinggi. Tercatat dalam periode 1996–2006, sejumlah 7.765 siswa berhasil menyelesaikan studinya di berbagai jenjang.

Jumlah lulusan paling besar dari beasiswa motivasi saat itu dari beasiswa motivasi tingkat perguruan tinggi (40 persen dari total penerima beasiswa), yang diikuti dengan tingkat SD (20 persen dari total penerima beasiswa). Di tingkat perguruan tinggi, jumlah lulusan terbanyak adalah di jurusan teologi (381 orang), ekonomi (374 orang), serta ilmu sosial dan politik (323 orang).

Pada 2007, LPMAK melakukan perbaikan pengelolaan beasiswa. Program beasiswa motivasi dikem­bangkan menjadi beasiswa prestasi. Penerima beasiswa diarahkan pada jurusan-jurusan yang diperlukan dalam pembangunan Kabupaten Mimika, yakni keguruan, kedokteran dan keperawatan, dan teknik. Sekalipun menemui tantangan, kebijakan terse­but menghasilkan perubahan lulusan yang cukup signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, kemajuan dalam program pendidik dan tenaga pen­didikan yang dilaksanakan LPMAK, beberapa di antaranya adalah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerah terpencil, seperti menuntaskan Tiga M (membaca, menulis dan menghitung) untuk murid kelas satu dan dua sekolah dasar. Upaya ini dilakukan dengan memberikan dukungan 84 tenaga guru kontrak bekerja sama dengan Keuskupan Timika. Selain itu, LPMAK menyediakan delapan tenaga guru kontrak yang tersebar pada pendidikan dasar usia dini (PAUD) di Akimuga, Fakafuku, dan Kaokanao.

Kerja sama lain yang terjalin dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, yaitu bantuan transportasi bagi guru yang bertugas di dataran tinggi Mimika yang hanya dapat ditempuh menggunakan transportasi udara. Sepanjang 2016, LPMAK memberikan bantuan penerbangan helikopter bagi para guru yang bertugas di Kampung Tsinga 6 kali, Kampung Aroanop 6 kali, Kampung Yagamin 4 kali, dan Kampung Bibilawak 4 kali.

Tak hanya bagi siswa-siswi, pelatihan bahasa Inggris dan komputer juga diberikan kepada para guru sebagai bahan mengajar dan pengetahuan teknologi informatika di sekolah-sekolah. Pelatihan bahasa Inggris dengan Program ELT Intermediate 4 diikuti 8 guru, Elementary 3 diikuti 6 guru, dan Elementary 2 diikuti 4 guru. Program ini telah terlaksana dan para guru mendapatkan sertifikat.

Dengan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan tersebut, LPMAK berhasil mengantar kelulusan 8.900 siswa dari berbagai jenjang pendidikan hingga tahun 2018, yang 70 persen di antaranya adalah lulusan tingkat perguruan tinggi. Salah satu kunci keberhasilan kemitraan pendidikan ini adalah adanya kerja sama dengan sekolah yang telah terakreditasi minimal B, dan penambahan program pelajaran tambahan (ekstrakurikuler). Ke depannya, LPMAK akan memberikan topik pelestarian budaya di sekolah asrama dan bekerja sama dengan Radio Publik Mimika (RPM) untuk mendiseminasi informasi me­ngenai budaya lokal.

Pengelolaan

LPMAK mengelola dana kemitraan dari PTFI. Ini merupakan dana yang disisihkan oleh PTFI dari penghasilan brutonya setiap tahun bagi pengembangan masyarakat. Pendanaan ini memberi manfaat bagi tujuh masyarakat asli yang berdiam di dalam atau di sekitar wilayah kontrak karya PTFI.

Untuk pelaksanaan program miliknya, LPMAK memerlukan mitra dari organisasi ahli lain disebabkan wilayah cakupannya yang sangat luas dan tingkat kerumitan permasalahan. Program LPMAK yang komprehensif mencakup juga pengendalian malaria, pembangunan sekolah, sarana umum, dan perumahan, selain menyediakan beasiswa, pelatihan dan peluang usaha.

Program LPMAK memberi manfaat bagi masyarakat Papua, dengan prioritas kepada masyarakat tujuh suku yang berada di sekitar wilayah kontrak karya PTFI. Dua suku utama penerima dana kemitraan adalah suku yang merupakan pemegang hak adat, yakni Suku Amungme yang terpusat di kawasan dataran tinggi dan Suku Kamoro yang utamanya menghuni wilayah dataran rendah. [*]

Foto: dokumen PT Freeport Indonesia.
Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 2 Mei 2019.

Leave a Response