Rekam digital bisa memengaruhi karier, hubungan personal, pergaulan sosial, citra di masyarakat, bahkan keamanan diri. Oleh karena itu, dibutuhkan daya kritis dan pemahaman risiko, dengan bertanya pada diri sendiri sebelum mem-posting sesuatu.

Hal itu terungkap dalam webinar dengan tema “Serba-Serbi Dunia Maya dan Rekam Digital” yang diselenggarakan Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital.

Webinar yang diadakan pada Senin (7/6/2021) adalah bagian dari Seri Modul Literasi Digital dalam rangka mendukung Program Literasi Digital Nasional. Webinar diselenggarakan khusus bagi 14 kabupaten/kota di wilayah DKI Jakarta dan Banten, dengan mengundang narasumber dari berbagai bidang keahlian. Di antaranya Septyanto Galan Prakoso SIP MSc (IAPA), Rizqika Alya Anwar (Kaizen Room), A Zulchaidir Ashari (Kaizen Room), dan Fransiska Desiana Setyaningsih MSi (Japelidi).

Pentingnya bahasa

Tema yang dibahas oleh masing-masing narasumber meliputi digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety. Septyanto Galan Prakoso SIP MSc mengawali webinar dengan pemaparan mengenai pentingnya menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam berkomunikasi di ranah digital.

“Indonesia sebagai pengguna internet ketiga tertinggi di dunia pastinya juga menghasilkan jejak digital yang sangat banyak. Dampak dari rekam digital bisa memengaruhi karier, relasi personal, pergaulan sosial, citra di masyarakat, dan keamanan,” ujarnya.

Oleh karena itu, saat menggunakan media sosial, penting untuk berpikir kritis, ketahui risiko, bertanya atau lakukan refleksi pada diri sendiri, serta edukasi dan awasi sebelum mem-posting.

Rizqika Alya Anwar melanjutkan webinar dengan pemaparan berjudul “Mengenal Lebih Jauh Cara Menyuarakan Pendapat di Dunia Digital”. Ia menjelaskan, dengan adanya perubahan teknologi di masa sekarang, terdapat keuntungan yang dibawanya kepada masyarakat.

“Di antaranya, semakin mudah medapatkan informasi secara online dan real time, tersedianya media yang bervariasi dan saling terhubung satu sama lain, serta harapan dari pengguna internet untuk mendapatkan benefit terlebih dahulu.”

Walau begitu, perubahan teknologi ini juga harus diiringi dengan penggunaan yang etis oleh masyarakat.

“Etika dalam komunikasi di ruang digital antara lain berupa menggunakan kata yang layak dan sopan, waspada dalam menyebarkan informasi yang berkaitan dengan SARA, menghargai karya orang lain dengan mencantumkan sumber, dan membatasi informasi pribadi yang ingin disampaikan,” tambah Rizqika.

Cakap

“Berpikir Bijak Sebelum Mengunduh di Internet” menjadi judul pembahasan A Zulchaidir Ashari. Ia sekaligus memperkenalkan teori komunikasi pribadi atau mindful communication, yaitu cakap paham, cakap produksi, cakap produksi, cakap partisipasi, dan cakap kolaborasi.

Kecakapan itu ia kaitkan juga dengan nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. “Bicara soal digital culture, erat kaitannya dengan kemampuan individu dan membaca, menguraikan, membiasakan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan masing-masing,” jelasnya.

Nilai-nilai Pancasila pun menjadi penting dalam berkomunikasi. “Dampak rendah pemahaman nilai Pancasila antara lain adalah tidak mampu memahami batasan dan tidak mampu membedakan ruang lingkup,” tambahnya. Tentu saja keduanya itu menjadi hal yang dihindari dalam berbangsa dan bernegara.

Fransiska Desiana Setyaningsih MSi menjadi narasumber terakhir dalam webinar ini dan mengangkat topik “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”.

Ia mengatakan, “Jejak digital adalah jejak data yang kita buat dan kita tinggalkan saat menggunakan perangkat digital. Oleh karena itu, kita harus menjadi individu (pengguna) yang memiliki kompetensi mendistribusikan informasi media digital dan memproduksi informasi di media digital yang baik dan benar.”

Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta saat sesi tanya-jawab meliputi cara memberikan pemahaman informasi literasi digital kepada masyarakat yang gaptek (gagap teknologi) atau baru mengenal teknologi, dan caranya memberikan edukasi dan minat kepada para pengguna teknologi, terutama para pelajar yang harapannya nanti dapat menghasilkan lebih banyak hal positif daripada yang kurang baik dalam hal konten.

Mengingat anak-anak juga sudah mulai terpapar pada dunia digital, terdapat pertanyaan mengenai program untuk penyuluhan ke sekolah-sekolah untuk menginformasikan mengenai pentingnya literasi digital. Hal ini dianggap cukup krusial karena anak-anak pun harus menyadari betapa pentingnya menggunakan media sosial dengan bijak.

Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa agar semakin banyak masyarakat yang melek digital.”

Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi pada seluruh pihak yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” ujar Presiden Joko Widodo.

Seri webinar Indonesia #MakinCakapDigital terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan dan pengetahuan mengenai literasi digital sehingga sangat diharapkan partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Rangkaian webinar ini akan terus diselenggarakan hingga akhir 2021, dengan berbagai macam tema yang pastinya mendukung kesiapan masyarakat Indonesia dalam bermedia digital secara baik dan etis. Para peserta juga akan mendapatkan e-certificate atas keikutsertaan webinar. Untuk info lebih lanjut, silakan pantau akun Instagram @siberkreasi.dkibanten.