Promosi pesona pariwisata Tanah Air melalui pewartaan di berbagai media penting untuk mendorong tumbuhnya industri. Terkait hal itu, Kementerian Pariwisata mengadakan ajang tahunan Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) sebagai bentuk apresiasi kepada para pewarta pariwisata atas karya tulisan dan tayangan televisi terbaik mereka.

Dibandingkan tahun 2017, terdapat peningkatan signifikan atas jumlah peserta yang mengirimkan karya untuk APWI 2018. Kategori surat kabar naik dari 183 karya menjadi 433 karya, televisi dari 22 karya menjadi 61 karya, online dari 355 karya menjadi 1.194, dan yang paling tinggi untuk kategori blogger dari 92 karya menjadi 1.535 karya. Hanya kategori majalah yang turun dari 224 karya menjadi 56 karya.

Untuk tema APWI 2019, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menetapkan millennials tourism menjadi tema lomba. Pemilihan tema ini sejalan dengan program strategis Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang menempatkan millennials tourism sebagai pendorong meningkatnya target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tahun depan seba­nyak 20 juta wisman. Sebanyak 50 persen di antaranya merupakan generasi milenial.

“Saya tetapkan tema millennials tourism untuk lomba APWI 2019 sebagai kelanjutan dari APWI 2018 tahun ini dengan tema Destinasi Digital,” kata Menpar Arief Yahya usai memberikan penghargaan APWI 2018 kepada para perwarta pariwisata dari media cetak (surat kabar dan majalah), media elektronik televisi, dan media online, serta blogger di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Jumat (7/12).

Destinasi Digital menjadi tema APWI 2018 sebagai strategi Kemenpar dalam mengejar target 20 juta kunjungan wisman dan 275 juta pergerakan wisnus tahun 2019.

Tampil sebagai juara utama atau Best of The Best pada APWI 2018 adalah tayangan televisi berjudul “Inside Indonesia: Menjajal Destinasi Digital” yang merupakan hasil karya dari Nana Riskhi – M Pramudita VK dari CNN Indonesia yang berhak mendapatkan hadiah uang Rp 100 juta yang diserahkan langsung oleh Menpar Arief Yahya.

“Millennials tourism”

Terkait tema APWI 2019 mendatang, menurut Menpar Arief Yahya, dalam menghadapi era millennials tourism, industri pariwisata perlu melakukan trasformasi dalam tiga hal, yakni proximity, purchasing power, dan portability atau 3P. “Kalau di telekomunikasi, proximity dikenal dengan tarif Local, SLJJ, Zona 1, Zona 2, Zona 3, International, tetapi di tourism ada border tourism yang memberikan kontribusi sekitar 20 persen secara nasional,” kata Menpar Arief Yahya.

Sementara itu, dalam kekuatan daya beli atau purchasing power dikenal dengan internet RPM turun dari Rp 1.000 menjadi Rp 100, sedangkan di pariwisata adalah more for less 3 A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas) dengan produk yang dikenal, antara lain hot deal. Untuk portability, di telekomunikasi dikenal dengan mobile HP dan mobile BTS, di tourism ada mobile tourist, non-mobile accomodation yang dipopulerkan dengan nomadic tourism. “Dalam nomadic tourism, saya gunakan tagline solusi sementara sebagai solusi selamanya,” kata Menpar Arief Yahya.

Foto-foto: dokumen Kementerian Pariwisata

Kepala Biro Komunikasi Publik (Komblik) Kemenpar Guntur Sakti melaporkan, minat para insan pewarta pariwisata dalam mengikuti lomba APWI 2018 semakin meningkat. Tahun ini, karya yang ditampilkan mencapai 432 karya karya berupa artikel dan video terdiri atas majalah sebanyak 56 artikel, surat kabar 43 artikel, media online 119 artikel, blogger 153 artikel, dan 61 tayangan video.

“Jumlah peserta APWI 2018 meningkat pesat. Bila APWI 2017 diikuti 106 karya peserta, tahun ini meningkat menjadi 432 karya peserta. Meningkatnya jumlah karya peserta tahun ini salah satunya terpicu oleh total hadiahnya yang besar mencapai Rp 300 juta, termasuk di dalamnya untuk hadiah kategori utama atau best of the best sebesar Rp100 juta.

Dewan Juri APWI 2018 yang menilai hasil karya para jurnalis terdiri atas unsur pentahelix pariwisata yang terdiri atas Pemimpin Redaksi Majalah Eksekutif Wahyu Indrasto, yang menjadi ketua dewan juri mewakili unsur media; Ketua ASEANTA Indonesia Elly Hutabarat (industri); Ketua GNFI Wahyu Aji (Komunitas); Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono (pemerintah); dan Ketua Hildiktipari H Himawan Brahmantyo (akademisi). [*]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 13 Desember 2018.

Leave a Response