Internet adalah sumber informasi terbesar di dunia yang mengandung berbagai hal yang positif dan produktif dalam membantu kehidupan sehari-hari, maupun hal-hal yang merugikan dan merusak untuk tiap pengguna internet. Pengguna internet di Indonesia yang semakin tumbuh dan sudah mencapai 73 persen menunjukkan betapa masifnya digitalisasi saat ini.

Terutama, generasi muda kini telah menjadi generasi dominan penduduk di Indonesia (>50 persen) dengan Generasi Milenial dan Gen Z memiliki paruh paling besar, yang merupakan bonus demografi yang harus dimanfaatkan. Tentunya, dengan penggunaan media digital yang intensif oleh mereka, harus dibekali literasi digital agar tidak terjerumus ke dalam dampak negatif media digital.

Menyikapi hal itu, maka lembaga Kominfo bekerja sama dengan Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) dan Siberkreasi Gerakan Nasional Literasi Digital dalam menggelar webinar dengan tajuk “Mata–Mata Dunia Maya, Pahami Dampaknya!” Webinar yang digelar pada Jumat (17/9/2021), pukul 09:00-11:30 diikuti oleh sejumlah peserta secara daring.

Dalam forum tersebut hadir Pradna Paramita (Founder Bombat.Media), Dr. Santo Dewatmoko, S.T., M.M., M.A. (Pelaku Bisnis, Akademisi, Investor & Pemerhati Kebijakan Publik), Wulan Furrie, M.I.Kom. (Praktisi & Dosen Manajemen Komunikasi Institut STIAMI), Novita Sari (Aktivis Kepemudaan Lintas Iman), dan Putri Juniawan (Presenter TV) selaku narasumber.

 

Dampak mata-mata

Dalam pemaparannya, Pradna Paramita menyampaikan, “Mata-mata siber merupakan tindakan memperoleh rahasia dan informasi tanpa izin untuk kepentingan pribadi, ekonomi, politik atau militer. Dampak dari kegiatan tersebut bagi individu dapat berupa pembobolan kata sandi, penyalahgunaan akun yang dapat digunakan untuk penipuan, pemerasan, hingga digunakan untuk pinjaman online.”

“Data-data yang didapat dari individu dimanfaatkan untuk profiling (mengetahui dan mengelompokkan profil pengguna internet) untuk tujuan ekonomi dan iklan seperti targeted advertising, politik (echo chamber), serta kejahatan lainnya. Langkah yang dapat dilakukan untuk mengamankan data pribadi dapat berupa menggunakan password aman dan diganti secara berkala, waspada akan tautan phishing, waspada menggunakan wifi umum, dan menggunakan two factor authentication,” ujarnya.

Putri Juniawan selaku narasumber Key Opinion Leader juga menyampaikan, sebagai seorang presenter TV di masa pandemi ini ia masih menjalankan bisnis produk dan jasa dari rumah, ditambah perannya sebagai seorang ibu. Ia memahami bahwa jejak digital dapat berupa riwayat pencarian, history browsing, konten yang ditonton, dan bahkan postingan yang diunggah kerabat dekat, sehingga pentingnya menjaga rekam jejak digital karena siapapun yang kita libatkan di media sosial bisa ikut membantu maupun ikut melanggar privasi. Satu-satunya yang bisa mengontrol bagaimana berperilaku di media sosial adalah diri kita sendiri. Sebagai salah satu langkah preventif untuk bisa menghindari pencurian data dan penipuan online, jangan pernah memberikan akses sandi ke orang lain, jangan menginstall aplikasi bajakan, dan aktifkan 2 factor authentication.

Sebagai pemilik suatu usaha jasa, ia cerita bahwa sering menerima notifikasi usaha login ke akun email bisnisnya, sehingga benar-benar sadar akan pentingnya keamanan digital. Ia ingatkan kita untuk gunakan media sosial sebaik mungkin, dengan menampilkan karya-karya dan usaha yang kita hasilkan untuk dapat menunjang karir atau kehidupan individu melalui personal branding.

Para partisipan yang hadir juga dipersilakan untuk mengutarakan pertanyaan dan tanggapan. Salah satu peserta bernama Listia Pratiwi menyampaikan pertanyaan, “Bagaimana kita berpartisipasi di ruang digital secara positif, agar masyarakat bisa cermat dan bijak sebelum memposting suatu berita sebelum mengetahui kebenarannya? Banyak orang menggunakan kata-kata yang kasar dan tidak sopan, serta mengunggah konten yang tidak baik di media sosial untuk popularitas atau agar terkenal. Bagaimana cara mengedukasi mereka tentang batasan-batasan etika digital dalam menggunakan media sosial supaya mereka tidak salah dalam berekspresi di media sosial?”

Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan lugas oleh Dr. Santo Dewatmoko, S.T., M.M., M.A. “Proses perubahan kebiasaan tersebut memang tidak bisa instan, harus dengan adanya kemajuan step-by-step untuk kita dapat beradaptasi. Dari usia sejak dini bisa dimulai dengan mengedukasi, namun di masa pandemi saat ini tentunya pentingnya orang tua atau guru sebagai pengawas dan teladan dalam bagaimana berperilaku dengan pantas di ruang digital. Program literasi digital ini membantu untuk membuat banyak orang aware akan perubahan dan evolusi digital saat ini. Manusia itu akan selalu berubah, dengan perubahan itu sendiri tidak akan berubah, sehingga pentingnya untuk bisa beradaptasi.”

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan literasi digital di Kota Jakarta Timur. Kegiatan ini pun terbuka bagi semua orang yang berkeinginan untuk memahami dunia literasi digital. Untuk itulah penyelenggara pada agenda webinar selanjutnya, membuka peluang sebesar-besarnya kepada semua anak bangsa untuk berpartisipasi pada webinar ini melalui akun Instagram @siberkreasi.dkibanten. Juga, bagi yang ingin mengetahui tentang Gerakan Nasional Literasi Digital secara keseluruhan bisa ikuti akun Instagram @siberkreasi.

Kegiatan webinar ini juga turut mengapresiasi partisipasi dan dukungan semua pihak, sehingga dapat berjalan dengan baik, mengingat program literasi digital ini hanya akan sukses mencapai target 12,5 juta partisipan jika turut didukung oleh semua pihak yang terlibat.