Kondisi geografis yang sulit dijangkau, akses informasi yang amat terbatas, rendahnya infrastruktur dasar, serta minimnya tenaga lapangan yang mampu menjangkau hunian warga Papua menjadi sebab mengapa kondisi kesehatan di provinsi ini masih terbilang rendah.

Namun, kondisi ter-se­but tak me­nyu-rutkan langkah se­- orang Milka Tiran­da untuk mem­bantu warga Papua yang me­merlukan per-tolongan kesehatan. Mil­ka dikenal sebagai “dokter terbang” di Papua. Pengabdiannya sebagai se­orang dokter menjadi contoh nyata ten­tang bagaimana seharusnya seorang dokter bekerja.

“Jemput bola”

Bergabung dengan Lembaga Pe­­ngembangan Masyarakat Amung­me dan Kamoro (LPMAK)—sebuah lembaga nirlaba bentukan PT Freeport Indonesia (PTFI)—dr Milka menghadapi berbagai kon­disi perjalanan untuk mencapai pedalaman masyarakat Papua. Dr Milka telah menjangkau orang-orang yang sulit dijangkau di desa-desa terpencil yang hanya sedikit atau bahkan tidak mempunyai akses ke layanan kesehatan.

Pengabdian dr Milka di Papua bermula pada 2006, ketika dirinya ditawari bekerja di LPMAK. Ia mendapat tugas dalam bidang pem­berdayaan masyarakat di Waa Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Fokus utamanya bukanlah pengobatan (kuratif), melainkan pencegahan penyakit (promotif dan preventif).

Milka merasa tak kesulitan dengan tugasnya tersebut karena ia sudah memiliki banyak pengalaman sebagai dokter puskesmas. “Awalnya, saya hanya memberi penyuluhan di RS Waa Banti, tetapi rasanya kurang efektif,” ujarnya.

Ia kemudian memilih “jemput bola” ke kampung-kampung di tiga desa, yakni Waa Banti, Arwanop, dan Tsinga, yang merupakan wilayah binaan LPMAK, bersama perawat dan satu staf lainnya. Dr Milka menyampaikan bahwa tugas utama dirinya adalah memberdayakan ma­syarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat melalui edukasi.

Pemberian pelatihan dan edukasi kepada beberapa kader kesehatan dari masing-masing desa. Hal ini dilakukan sehubungan dengan keterbatasan untuk mencapai semua wilayah binaan sehingga dapat mendorong warga mengadopsi praktik dan pilihan gaya hidup yang lebih sehat. (FOTO-FOTO: DOK PT FREEPORT INDONESIA)

Di kampung-kampung pegu­nungan itu, Milka memberi penyu­luhan kesehatan dan juga pengobatan. Lalu, dirinya membentuk kader posyandu dan kader tuberkulosis-HIV di setiap kampung. Desa-desa yang menjadi wilayah kerja Milka pada umumnya tidak memiliki akses jalan dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter. Listrik dan sinyal telepon adalah hal langka di sana. Setiap bulan selama beberapa hari, ia terbang ke kampung-kampung itu menggunakan helikopter bantuan PT Freeport Indonesia.

“Biasanya, saya tiga hari ada di desa-desa itu. Memberi imunisasi, pe­ng­obatan, pemeriksaan TB-HIV, dan penyuluhan kesehatan,” terangnya.

Dari titik tempat perhentian helikopter, ia dan timnya akan berjalan kaki menuju desa-desa yang tidak bisa dijangkau puskesmas. “Jalan kaki naik turun bukit sekitar 2 jam sudah biasa. Kalau cuacanya buruk, helikopter tidak bisa menjemput sehingga jadwal kepulangan bisa molor,” kisahnya.

Walau harus menantang fisik, Milka sangat mencintai peker­ja­annya. Bagi Milka, meski kondisi medan memang melelahkan, se­mua terbayarkan de­­ngan sikap tulus para warga yang ditemuinya, terlebih lagi ketika nasihat dari dr Milka dituruti oleh mereka.

Kaderisasi

Menyadari keterbatasan dirinya dan tim untuk mencapai keseluruhan wilayah binaan, dr Milka melakukan kaderisasi kesehatan untuk masyarakat setempat.

“Karena tidak bisa datang secara rutin, kami memilih beberapa ka­der dari masing-masing desa un­tuk memberikan pelatihan dan mengedukasi masyarakat seperti yang kami lakukan dan memastikan hal ini terus berjalan. Mereka yang menjadi kader diharapkan dapat mendorong warga untuk mengadopsi praktik-praktik dan pilihan gaya hidup yang lebih baik,” papar dr Milka yang lahir di Makassar dan besar di Biak ini.

Dr Milka juga mengajarkan masyarakat untuk memberikan du­­kungan bagi anggota keluarga maupun teman yang sedang menjalani pengobatan. Dirinya mencontohkan, untuk TB dan HIV dengan periode pengobatan yang dapat memakan waktu sangat lama, pasien-pasien TB dan HIV ini perlu dukungan dari orang sekeliling untuk sembuh.

Koordinasi kegiatan pelayanan kesehatan ke desa-desa terpencil yang akan dijangkau menggunakan helikopter. Koordinasi melibatkan juga Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, serta Pemerintah Distrik Tembagapura.

Meskipun jadwalnya melelahkan, dr Milka mengaku sangat menikmati pekerjaannya dan tidak berencana menyudahinya dalam waktu dekat.

“Masyarakat di desa-desa sa­ngat senang mendapat perawatan kesehatan. Mereka juga merupakan orang-orang yang sangat ramah. Mereka tidak memiliki banyak, tetapi sangat baik dan tulus dengan apa yang mereka miliki. Bahkan, mereka menganggap saya seperti ibu mereka. Saya merasa senang saat masyarakat di desa-desa mau mencoba hidup sehat,” tegasnya.

Tantangan dan medan yang berat tak menghalangi dr Milka dan tim untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat Papua. Ada kalanya ia juga harus menghadapi kenyataan dengan banyaknya konflik suku di sana. Namun, itu tak membuat menyerah dan mundur teratur. Baginya, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Papua adalah yang lebih penting.

Selain layanan Dokter Terbang untuk masyarakat pegunungan, LPMAK juga menyediakan Klinik Terapung untuk melayani masyarakat lokal pesisir.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 9 Juli 2019.

Leave a Response