Indonesia dengan keberagaman hayati yang begitu kaya sangat berpotensi mengembangkan ekowisata. Salah satunya melalui ekowisata alam berbasis kebun raya dan perkebunan. Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PICT KRB LIPI) Didik Widyatmoko menyampaikan bahwa fungsi kebun raya adalah konservasi. Namun, juga memiliki fungsi penting lain, yakni edukasi dan rekreasi.

“Semua fungsi ini harus dapat bersinergi. Terlebih lagi KRB sebagai kebun raya tertua di Indonesia dan telah memiliki ribuan spesimen tanaman yang berasal dari dalam dan luar negeri. Ini potensi yang sangat besar untuk dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam mengembangkan ekowisata,” terang Didik.

KRB memiliki 600 spesimen yang berusia di atas 100 tahun dan 3.000 spesimen di atas 50 tahun.  Total koleksi kebun raya tertua di Asia Tenggara ini hingga awal Januari 2017 tercatat sebanyak 12.531 spesimen non-anggrek yang terdiri atas 214 suku, 1.210 marga, dan 3.228 jenis tanaman. Sedangkan, koleksi anggrek mencapai 9.682 spesimen, terdiri atas 589 jenis anggrek dari 106 marga.

Sementara itu, kebun raya yakni KRB dan beberapa perkebunan di Indonesia memiliki nilai sejarah yang begitu tinggi karena telah ada sejak ratusan tahun lama. Untuk KRB, misalnya, usianya telah menginjak 201 tahun, tepatnya didirikan pada 1817 oleh Sir Stamford Raffles selaku Gubernur Jawa Kolonial. Dan, salah satu perkebunan di Indonesia, yaitu Perkebunan Teh Gunung Mas Puncak yang merupakan salah satu perkebunan teh terluas di Jawa Barat telah ada sejak 1910.

“Dengan nilai sejarahnya ini, kebun raya dan perkebunan di Indonesia menjadi ‘barang antik’ pariwisata yang berpotensi tinggi menarik minat wisatawan dan juga dikembangkan sebagai ekowisata,” ujar Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata Kementerian Pariwisata (TPPE Kemenpar) David Makes.

Pengembangan

Tiap akhir pekan ribuan warga memadati KRB untuk menikmati liburan dengan keanekaragaman tumbuhan dan pohon. Para pengunjung tidak saja berasal dari masyarakat sekitar Bogor, tetapi juga berasal dari berbagai daerah. Para turis dari berbagai negara juga menjadikan KRB tujuan berkunjung. Kendati demikian, pemerintah tetap memprioritaskan kebun raya ini sebagai pusat konservasi bagi aneka tumbuhan dan pohon. Area seluas 87 hektar ini juga bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) yang terus dikembangkan oleh pemerintah.

Didik menegaskan sebenarnya fungsi konservasi itu tak hanya bermanfaat untuk menyelamatkan tumbuhan yang makin berkurang di hutan habitat aslinya saja, tapi juga sangat berjasa terhadap lingkungan udara di sekitarnya.

“Khususnya Kebun Raya Bogor, yang letaknya persis di pusat kota ini, sangat banyak jasa lingkungannya, mulai penghasil oksigen, penyerap polusi udara yang ditimbulkan akibat emisi gas buang dari knalpot kendaraan, juga sekaligus sumber air,” terang Didik.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sangat mendukung keberadaan KRB. “KRB menjadi kebanggaan dan identitas kota Bogor. Sejarahnya juga menjadi karakter kuat kota ini. Dan, sebagai bentuk kerja sama dan dukungan, salah satunya Pemkota Bogor merapikan area pedestrian dan parkiran di luar KRB sehingga akses pengunjung yang akan masuk ke KRB akan lebih tertib dan nyaman,” papar Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Saat ini, Indonesia memiliki 37 kebun raya yang terdiri dari 5 kebun raya di bawah langsung LIPI, dikelola pemda sebanyak 30, dan dikelola perguruan tinggi sebanyak 2 kebun raya.
Beralih ke perkebunan, SVP Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) Affan Safiq menyampaikan Holding PTPN yang merupakan induk dari PTPN I sampai dengan IV memiliki potensi ekowisata yang sangat besar.

“Holding PTPN memiliki luas areal 1,18 juta hektar yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan komoditi yang diusahakan antara lain kelapa sawit, karet, tebu, teh, dan aneka tanaman lainnya. Dari luas dan sebaran areal tersebut memiliki keunggulan spesifik yang dapat dioptimalkan sebagai destinasi ekowisata khususnya perkebunan teh dan kopi yang pada umumnya terletak di daerah pegunungan,” terang Affan.

Dalam pengembangannya, Holding PTPN cukup serius. “Holding PTPN turut serta menjadi bagian dari program Kementerian Pariwisata, yaitu pengembangan 3A (atraksi, aksesibilitas, amenitas) pada destinasi wisata melalui kerja sama pemerintah, BUMN, dan swasta guna menyukseskan target kunjungan 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 Juta perjalanan wisatawan Nusantara pada 2019,” papar Affan.

Holding PTPN saat ini juga tengah mempersiapkan pengembangan (sedang dalam kajian) beberapa destinasi ekowisata, di antaranya Agrowisata Rancabali, Agrowisata Malabar, dan Agrowisata Gunung Mas. Juga direncanakan pengembangan ekowisata Teluk Nipah (Provinsi Lampung) yang berada di Kawasan PTPN VII.

Dukungan

Kementerian Pariwisata secara serius terus berupaya untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) dan para stakeholder pariwisata sehingga nantinya tercipta ekowisata dan agrowisata yang bertujuan mengonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan menyejahterakan penduduk setempat.

“Stakeholder pariwisata bukan hanya pemda. Terdapat lima stakeholder utama, yaitu akademisi (universitas atau sekolah terkait dengan penelitian dan keilmuan), bisnis (industri pariwisata, seperti hotel, biro perjalanan, operator tur, restoran, dan lain sebagainya), pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, dan media. Sinergitas semua unsur akan mendukung sukses pembangunan pariwisata di suatu destinasi,” papar PLT Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani. [ACH]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 15 November 2018