Revolusi Industri secara mudah bisa dipahami sebagai perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Revolusi Industri 4.0 ini bisa kita pastikan menekankan pada urgensi digitalisasi dan perpaduan teknologi dalam peradaban manusia. Dalam artian, segala hal yang berkaitan dengan produktivitas manusia bisa berjalan lebih efektif dengan memanfaatkan perpaduan teknologi.

Revolusi generasi keempat kini tak sekadar dibicarakan, dipersiapkan, atau diperdebatkan. Manusia di belahan dunia sudah mulai menerapkannya karena perubahan zaman yang memang tak terhindarkan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, pekerjaan konvensional yang mengandalkan tenaga manusia mau tak mau tergantikan oleh pekerjaan baru yang tidak terpikirkan nalar. Teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan, robot, blockchain, nanoteknologi, komputer kuantum, bioteknologi, internet of things, printer 3D, dan kendaraan otonom digunakan untuk mendukung kinerja dan meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala bidang.

Meski saat ini kita tidak tahu sejauh mana revolusi keempat ini akan berdampak mengingat era society 5.0 pun mulai riuh diperbincangkan, satu yang pasti, manusia dipaksa beradaptasi dan mempelajari cara kerja sistem automasi yang ada di industri.

Ada yang melihat revolusi ini sebagai ancaman (disruption) terhadap tatanan yang sudah berjalan di mana tenaga manusia semakin tidak dibutuhkan. Namun tak bisa dimungkiri, ada yang melihatnya sebagai peluang akan munculnya jenis pekerjaan baru. Lantas, bagaimana kita harus bersikap?

Menjawab peluang dan tantangan tersebut, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memiliki Program Mekatronika pada Program Studi Teknik Elektro yang berada di Fakultas Teknologi Industri (FTI). Mekatronika lahir pada 31 Maret 2015 dan pada Mei 2018 telah meraih akreditasi B.

“Sudah sewajarnya Mekatronika jadi pilihan. Era industri 4.0 atau yang sekarang sedang ramai adalah Society 5.0, skill seseorang itu mesti luas. Untuk mereka yang suka membuat sistem automasi, manufaktur, dan bertahan bahkan bersinar di industri disarankan masuk Mekatronika, khususnya di Unpar,” tutur Dosen Mekatronika Dr Christian Fredy Naa SSi MSi MSc.

Menurut Christian, Mekatronika menjadi salah satu solusi, jawaban, terutama dalam memperlengkapi mahasiswa dan atau calon mahasiswa untuk menghadapi era industri maupun society 5.0. Mempelajari Mekatronika, mahasiswa nantinya akan belajar langsung tiga disiplin ilmu, mekanika, elektronika, dan informatika. Di Unpar, lanjut dia, para pengajar menekankan pada kemampuan mahasiswa dalam hal mendesain sistem yang bisa membantu pekerjaan manusia.

Ilustrasi artikel

“Kami punya semangat bahwa apa yang dipelajari di kampus bisa relevan ketika mereka terjun ke dunia pekerjaan. Respons dari kampus adalah mengajarkan yang memang sesuai dengan dunia industri,” ucapnya.

Di Program Mekatronika Unpar, mahasiswa akan belajar sebanyak 46 persen mata kuliah yang berhubungan dengan elektronika, 26 persen berhubungan dengan mesin, 21 persen teknik kendali, dan 7 persen teknik informatika. Dengan belajar di Program Mekatronika Unpar, mahasiswa akan banyak membuat project yang berhubungan dengan mata kuliah, kegiatan kemahasiswaan serta tentunya kerja praktik dan tugas akhir.

“Peluang di kami banyak yang sifatnya open ended project. Tidak full template mata kuliah, tetapi mahasiswa bisa mengeksplorasi interest-nya di bidang apa. Kami punya banyak program yang bisa mendekatkan mahasiswa dengan dunia industri,” kata Christian.

Paket lengkap yang dipelajari dalam Mekatronika menjadikan seorang lulusan Mekatronika dapat bekerja di pekerjaan multidisiplin. Baik yang melibatkan keilmuan elektro, mesin, teknik kendali, maupun informatika. Lebih lanjut, seorang lulusan Mekatronika pun dapat bekerja di industri manufaktur, jasa konsultan, dan wirausaha berbasis teknologi (technopreneur).

“Peluang karier tentu lebih luas karena kemampuannya yang sudah lengkap. Apalagi Indonesia sudah mulai maju industrinya, mulai bisa membuat alat-alat automasi sendiri. Apa pun tuntutan (dunia kerja), rasanya skill tersebut bisa menjawab,” ujarnya.

Pada usianya yang masih tergolong muda, Program Mekatronika Unpar memiliki potensi yang besar untuk berkontribusi pada era revolusi industri 4.0 dan tentunya bisa menjawab peluang dan tantangan lebih besar memasuki era society 5.0. Melalui kegiatan pembelajaran, kemahasiswaan, dan pengabdian masyarakat, lulusan Mekatronika Unpar diharapkan menjadi pionir dari keilmuan Mekatronika yang terbilang masih sedikit di Indonesia. (Humas dan Protokoler Unpar)

Universitas Katolik Parahyangan adalah salah satu universitas swasta pertama di Indonesia berdiri sejak 1955 berkomitmen untuk menjadi komunitas akademik yang humanum untuk dibaktikan kepada masyarakat.

Website : www.unpar.ac.id