Ditulis oleh: Niccolo Tapergi dan Geraldo Wibowo, EY-Parthenon Indonesia

Peringatan Badan Energi Internasional (IEA) mengenai krisis bahan baku biofuel telah menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri dan pemerintah. Banyak negara sedang meningkatkan produksi biodiesel untuk mengurangi emisi polusi sebagai upaya dari transisi energi. Amerika Serikat memberikan insentif pajak untuk menggunakan diesel rendah polusi. Eropa dan beberapa negara Asia Tenggara juga menerapkan mandat pencampuran biodiesel. Indonesia saat ini menerapkan campuran B35 dan berencana mencapai B50 pada tahun 2025.

Menurut studi EY-Parthenon, perusahaan leading global management consultant, permintaan global biodiesel diproyeksikan akan bertumbuh lebih dari 10 persen per tahun, dari 54 juta ton pada tahun 2022 menjadi 87 juta ton pada tahun 2027. Pada tahun 2022, lebih dari 71 persen dari produksi biodiesel global berasal dari food & feed feedstocks seperti minyak kedelai dan minyak sawit.

Dengan meningkatnya permintaan bahan baku biofuel sebesar 30 juta ton dalam 5 tahun mendatang, ada kekhawatiran bahwa jika proporsi bahan baku saat ini tetap tidak berubah, lahan pertanian untuk produksi pangan dapat dialihkan menjadi lahan produksi bahan baku biofuel. Hal ini berpotensi mengancam ketahanan pangan dan stabilitas harga serta merusak ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Bahan baku non-lanjutan (non-advanced) dan bahan baku lanjutan (advanced)

Selain bahan pangan dan sumber pakan, ada dua opsi bahan baku lain yang dapat digunakan untuk memproduksi biofuel, yaitu non-advanced feedstock yang berasal dari limbah makanan (seperti minyak jelantah dan lemak hewani) dan advanced feedstock/limbah non-makanan. Saat ini, non-advanced feedstock menyumbang 27 persen dari total produksi biofuel, sedangkan advanced feedstock hanya 2 persen.

Penggunaan minyak jelantah dan lemak hewani untuk biodiesel telah meningkat secara signifikan. Pada tahun 2017, 30 persen dari ketersediaan bahan baku tersebut digunakan untuk biodiesel, dan pada tahun 2023 diperkirakan mencapai 70 persen. Pada tahun 2027, bisa mencapai 100 persen, yang berarti mengandalkan sumber tersebut saja tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan bahan baku biofuel global.

DOK. EY INDONESIA

Advanced feedstock untuk biofuel terdiri dari produk non-pangan, limbah industri, dan lemak seperti residu pertanian dan kehutanan. Contohnya adalah jerami gandum, brangkasan jagung, ampas tebu, rumput, miscanthus, alga, dan Palm Oil Mill Effluent (POME), yang merupakan limbah air dari pabrik pengolahan kelapa sawit.

IEA memperkirakan bahwa pada tahun 2027 akan tersedia lebih dari 15 juta ton advanced feedstock untuk biofuel. Uni Eropa telah menetapkan persyaratan minimal 3,5 persen biofuel berasal dari bahan advanced feedstock pada tahun 2030, meningkat dari 0,2 persen pada tahun 2022. Permintaan advanced feedstock diproyeksikan akan meningkat dari 1,5 juta ton pada tahun 2022 menjadi lebih dari 7,4 juta ton pada tahun 2025 – lebih dari setengah dari advanced feedstock yang tersedia – dan mencapai 25,4 juta ton pada tahun 2030.

Potensi limbah pabrik kelapa sawit

Biaya dan logistik adalah permasalahan utama terkait dengan advanced feedstock. Saat ini belum ada solusi yang efisien untuk memanfaatkan alga, kulit kacang, sekam, tongkol, tall oil pitch dan residu dengan kandungan olein lainnya. Namun ada satu pengecualian yaitu POME.

POME biasanya diolah menggunakan pengolahan biologis untuk menurunkan tingkat polusi sebelum dibuang atau digunakan sebagai pupuk organik. Jika tidak diolah dengan baik, POME dapat mencemari air, dan membahayakan kehidupan akuatik dan menurunkan kualitas tanah. POME mengandung 1-4 persen kadar minyak yang dapat dimanfaatkan menjadi biodiesel. Kualitas POME dapat dinilai dari kadar free fatty acid (FFA), kadar air,  kotoran, dan kandungan sulfur. Tingkat FFA POME umumnya berkisar antara 40-70 persen. POME dengan FFA tinggi masih dapat digunakan untuk biodiesel dengan pemrosesan tambahan yang juga memakan biaya tambahan.

cilik
DOK. EY INDONESIA

Menurut EY-Parthenon, di Indonesia dan Malaysia, terdapat potensi untuk menghasilkan jutaan ton biodiesel dari POME, tetapi potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pengumpulan POME untuk biodiesel masih dalam tahap awal, tetapi sudah terbukti dapat dilakukan dan menguntungkan. Eropa dan Tiongkok telah mengimpor lebih dari 1,5 juta ton POME pada tahun 2022. Di Eropa, terdapat 19 pabrik biofuel advanced yang memproses POME, sementara produsen biodiesel Tiongkok mulai beralih ke POME karena harga premiumnya yang lebih tinggi saat diekspor ke Eropa.

Meningkatkan ketersediaan POME dan menggunakannya sebagai salah satu advanced feedstock dapat membantu mengatasi ancaman kekurangan bahan baku pada tahun 2027. Namun, terdapat beberapa tantangan yang perlu diselesaikan untuk memaksimalkan ketersediaan, seperti meningkatkan kesadaran produsen akan kepentingan biofuel, meningkatkan efisiensi pengumpulan, dan mengembangkan logistik yang tepat. Dengan skala dan strategi pengumpulan yang tepat, POME dapat diandalkan untuk menyelesaikan feedstock crunch pada 2027.