Pemerintah terus berupaya melakukan pemberdayaan industri kecil dan industri menengah (IKM) yang menjadi motor penggerak perekonomian di akar rumput guna meningkatkan kesejahteraan mesyarakat, mengurangi angka pengangguran, dan menekan angka kemiskinan.

Upaya meningkatkan efektivitas pengembangan IKM tersebut, salah satunya melalui program One Village One Product (OVOP) yang dilakukan secara bottom-up, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan Keppres Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional.

Instruksi tersebut selanjutnya diimplementasikan melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 78/M-IND/PER/9/2007 tentang Peningkatan Efektivitas Pengembangan Industri Kecil dan Menengah melalui Pendekatan One Village One Product (OVOP) di Sentra.

Mulai 2013 hingga 2020, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menyelenggarakan penganugerahan Penghargaan IKM OVOP sebanyak tiga kali. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program tersebut telah dilakukan perubahan payung hukum pelaksanaan program OVOP, yaitu dengan terbitnya Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengembangan Industri Kecil dan Industri Menengah di Sentra IKM melalui One Village One Product.

Gerakan OVOP pertama kali diprakarsai oleh Prof Morihiko Hiramatsu pada 1979 saat menjadi Gubernur Prefektur Oita, Jepang. Pada wilayah yang dipimpinnya itu, ia mengembangkan berbagai produk melalui pendekatan OVOP. Produk yang paling mencatatatkan sukses adalah jamur shitake. Konsep ini kemudian banyak diadopsi oleh beberapa negara di Asia, Afrika, dan Amerika seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Kenya, Mozambik, El Savador, Peru, dan Kolombia.

Di Kemenperin, pendekatan OVOP merupakan suatu strategi pola pengembangan IKM yang berlokasi di sentra IKM dalam rangka penguatan potensi daerah dalam menghasilkan suatu produk unggulan yang berkelas global. Caranya dengan memanfaatkan sumber daya lokal (berbasis kompetensi inti daerah) bercirikan unik khas budaya dan keaslian lokal, bermutu dan berpenampilan baik, serta memiliki potensi pasar domestik dan ekspor yang diproduksi secara kontinyu dan berkesinambungan.

Sejalan dengan semangat tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) sebagai unit pembina sektor IKM di bawah Kemenperin, setiap dua tahun sekali memberikan penghargaan kepada IKM OVOP melalui rangkaian tahapan proses seleksi dan kriteria penilaian atas produk OVOP yang diusulkan oleh pemerintah daerah.

Penghargaan OVOP ditandai dengan penyematan tanda bintang pada produk OVOP, sesuai dengan hasil penilaian, mulai dari bintang 1 sampai dengan bintang 3. Saat ini, terdapat lima kategori produk OVOP, yaitu makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, dan gerabah.

IKM OVOP Go Global

Pada penghargaan OVOP 2022 telah ditetapkan 77 IKM OVOP yang terdiri atas 21 IKM OVOP pada komoditas makanan dan minuman, 21 IKM komoditas kain tenun, 12 IKM komoditas kain batik, 17 IKM komoditas anyaman, dan 6 IKM komoditas gerabah, yang tersebar di 19 provinsi dengan sebaran terbanyak di Provinsi Sumatera Barat.

Para IKM penerima penghargaan OVOP mendapat pembinaan lanjutan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Sebagai langkah nyata kepada para IKM OVOP penerima penghargaan OVOP 2022, Ditjen IKMA menyelenggarakan program intensif untuk meningkatkan kapasitas IKM OVOP agar mampu bersaing di pasar nasional dan internasional, yaitu Program OVOP Go Global.

IKM OVOP 2022 yang produknya memiliki potensi tinggi pada pasar internasional, serta memiliki minat, komitmen, dan kesiapan dalam hal sumber daya dan permodalan didorong untuk mendaftar mengikuti program ini. Proses seleksi pun dilakukan sehingga menghasilkan 10 peserta program IKM OVOP Go Global, yaitu Kyria Rezeki dan Rendang Riry pada komoditas makanan dan minuman; Tenun Kubang H Ridwan By pada komoditas kain tenun; Zie Batik dan Pusaka Beruang pada komoditas kain batik; UD Mawar Art Shop dan Menday Gallery and Souvenir pada komoditas anyaman; serta CV Tanteri, CV Risman Wijaya Keramik, dan Keramik Usaha Karya pada komoditas gerabah.

Program IKM OVOP Go Global berlangsung sejak September 2023 hingga akhir Semester I 2024. Dalam program ini peserta mendapat penguatan dalam hal kesiapan untuk berpartisipasi pada pameran berskala internasional, baik di dalam maupun luar negeri, penyusunan dokumen Rencana Pemasaran Ekspor, mendorong IKM untuk melakukan pengembangan produk sesuai dengan target pasar, serta onboarding ke pasar digital.

Para peserta juga mendapat pendampingan oleh coach sektor sesuai dengan komoditas produknya dan coach lokal yang berdomisili di sekitar IKM peserta program. Para coach tersebut berperan sebagai mitra diskusi dalam mengikuti berbagai aktivitas selama berjalannya program.

Selain peningkatan kapasitas, peserta program juga difasilitasi untuk berpartisipasi pada pameran berskala internasional di dalam negeri, yaitu pameran Inacraft pada 4-8 Oktober 2023 di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta bertema “From Smart Village to Global Market” yang sejalan dengan OVOP; dan pameran Trade Expo Indonesia pada 18–22 Oktober 2023 di Internasional Convention and Exhibition (ICE) Tangerang, Banten.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Reni Yanita, pada Oktober lalu mengungkapkan, “Delapan IKM penerima Penghargaan OVOP 2022 dan empat IKM penerima Penghargaan Upakarti 2022 telah kami fasilitasi untuk berpartisipasi dalam pameran Inacraft pada bulan Oktober.”

Partisipasi IKM OVOP Go Global pada pameran tersebut mencatatkan nilai penjualan yang cukup menggembirakan. Nilai penjualan langsung sebesar Rp 308.375.000, fixed purchase order (PO) sebesar Rp 91.000.000, dan penjajakan potential buyer sebesar Rp 56.000.000.

Reni menjelaskan, program IKM OVOP Go Global mencakup pembinaan untuk meningkatkan kapasitas dan branding produk IKM tanpa menghilangkan identitas lokal, serta pengembangan akses pasar internasional. “Serangkaian kegiatan program ini mencakup pelatihan persiapan pameran, perencanaan pemasaran ekspor, pengembangan produk, hingga strategi pemasaran digital,” katanya.

Ia menambahkan, dalam proses pendampingan, pihaknya melibatkan pelatih dan pembimbing yang memiliki pengalaman dalam mengembangkan bisnis ke pasar ekspor. Fasilitasi pameran merupakan salah satu keuntungan bagi pelaku IKM yang telah menjalani proses pembinaan. “Melalui kegiatan pameran ini, kemampuan dan potensi pasar yang diperoleh oleh para IKM dapat dievaluasi untuk menjadi dasar penilaian dalam pembinaan di masa mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, pada pameran Trade Expo Indonesia turut difasilitasi sebanyak 10 IKM OVOP Go Global. Reni mengungkapkan, “Mendukung partisipasi pelaku IKM dalam pameran TEI 2023 adalah salah satu wujud dukungan penuh dari pihak kami. Tujuannya adalah agar para pelaku IKM dapat meningkatkan akses pasar mereka ke tingkat ekspor.”

Partisipasi IKM OVOP Go Global pada pameran TEI mencatatkan angka yang cukup baik dengan penjualan langsung sebesar Rp 130.642.000, PO sebesar Rp 634.530.000, dan potential buyer yang mencapai Rp 331.000.000.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan Ditjen IKMA, meskipun pada kedua pameran tersebut mencatatkan nilai penjualan yang cukup tinggi, masih terdapat ruang untuk berkembang bagi para IKM yang berpartisipasi. Di antaranya, strategi penjualan selama pameran, penyiapan media promosi yang lebih menarik, dan promosi sebelum event kepada para calon pembeli potensial.

Selanjutnya pada 2024, para IKM OVOP Go Global akan diikutsertakan pada pameran berskala internasional di luar negeri guna mengukur keberterimaan pasar internasional terhadap produk-produk mereka. Oleh karena itu, dokumen perencanaan ekspor yang telah disusun, serta materi pelatihan dan workshop yang diberikan akan memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti pameran tersebut, seperti pelatihan persiapan pameran internasional, workshop pengembangan produk, dan pelatihan pemasaran digital.

Program OVOP 2024

Pada 2024, program pengembangan IKM di sentra IKM melalui pendekatan OVOP akan kembali menggelar Penghargaan OVOP. Oleh karena itu, partisipasi aktif dari pemerintah kabupaten/kota dalam mengusulkan IKM OVOP sangat ditunggu.

Nantinya, Kemenperin secara intensif akan melakukan sosialisasi program OVOP ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, sehingga sebaran IKM OVOP akan lebih merata. Melalui IKM OVOP tersebut, pemerataan penguatan IKM di sentra IKM sebagai salah satu pendukung perekonomian nasional akan lebih optimal.

Pembukaan pengusulan IKM OVOP akan dimulai pada Maret, dan berakhir pada akhir Juni 2024. Pengusulan IKM OVOP dilakukan melalui situs web OVOP di https://ovop.kemenperin.go.id/.

Adapun kriteria untuk dapat mengikuti program OVOP yaitu merupakan IKM sektor industri yang berada di dalam sentra IKM yang dibuktikan dengan legalitas sentra IKM yang ditetapkan oleh bupati/wali kota; serta memiliki produk sesuai dengan kriteria OVOP, yaitu komoditas makanan dan minuman, kain tenun, kain batik, anyaman, dan gerabah. Pengusulan IKM OVOP hanya dapat dilakukan melalui akun pengusul yang dimiliki oleh dinas yang membidangi urusan perindustrian di kabupaten/kota.

Oleh karena itu, kepada seluruh IKM yang memenuhi kriteria tersebut dapat menghubungi dinas yang membidangi urusan perindustrian setempat, untuk kemudian bisa diusulkan mengikuti program OVOP 2024. [*]