Pendidikan

Gunadarma Sharia Economic Event 2020: How Islamic Economy Can Solve The Problem in Global Uncertainty Era?

Foto-foto: dok.Universitas Gunadarma.

Sharia Economic Forum (SEF) Universitas Gunadarma menyelenggarakan rangkaian Gunadarma Sharia Economic Event (GSENT) 2020 pada 14–18 Juli 2020. Ini merupakan agenda tahunan yang selalu ditunggu di Universitas Gunadarma.

Rangkaian GSENT terdiri dari 3 seminar nasional, 2 seminar internasional, dan student conference dengan tema “Enhancing National Economic Resilience Through Islamic Political Economy in the Era of Global Uncertainty”. Tahun ini, pelaksanaan GSENT untuk pertama kalinya dilakukan secara daring melalui siaran langsung Youtube, mengingat kondisi pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Pada hari pertama, Selasa (14/07/2020), rangkaian dibuka dengan Seminar Nasional 1 yang mengangkat tema “Will it Happen in Indonesia? Challenges and Opportunities in Facing Global Uncertainty Era”. Seminar dibuka oleh Rezaldi Dwinanta Tama selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah, selanjutnya terdapat sambutan Prof Dr Didin Mukodim Drs MM selaku Rektor IV Universitas Gunadarma.

Dimoderatori Hendro Wibowo SEI MM selaku anggota MPP KA FoSSEI Nasional, sesi pemaparan materi dibuka dengan penyampaian dari Prof Dr Didik Junaedi Rachbini selaku Ekonom Senior INDEF sebagai keynote speaker yang memaparkan mengenai kondisi perekonomian Indonesia dan masalah kesenjangan di dalamnya sehingga diperlukan ekonomi yang bernilai moral dan agama untuk menyelesaikannya.

Pemaparan dilanjutkan oleh Tika Arundina SE MSc PhD selaku peneliti dan mentor di PEBS Universitas Indonesia sebagai pembicara pertama dan Muhamad Irfan Sukarna selaku Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI sebagai pembicara kedua. Keduanya memaparkan dampak ketidakpastian global akibat Covid-19 ini menyebabkan perekonomian global mengalami resesi yang cukup signifikan.

Selama 2 kuartal atau lebih, Indonesia menghadapi kondisi pertumbuhan ekonomi yang negatif dan bahkan diprediksi dapat mencapai minus 2,8 persen. Islamic economic and finance ecosystem yang ideal di Indonesia ada di berbagai lini. Terdapat lini commercial finance, mulai dari BMT, perbankan, dan pasar modal syariah yang terus mengalami kenaikan pertumbuhan aset.

Sumber daya keuangan syariah seperti ZISWAF juga merupakan lini ekonomi syariah dari sisi social finance dengan potensi yang besar. Pada masa pandemi ini, jika dana zakat dan wakaf dikelola dengan baik, hal ini akan membantu negara dari sisi healthrecovery maupun social safety sehingga pemerintah bisa lebih fokus dalam pembenahan ekonomi.

Seminar nasional 2 dilaksanakan setelah seminar nasional 1 selesai pada hari yang sama. Dengan berfokus kepada ketenagakerjaan, tema yang diangkat adalah “Emphasizing the Future Employment Needs in Shaping the Golden Indonesia”. Kali ini seminar dibuka oleh Wafa Luthfiyah Azzahra selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah.

Seminar nasional 2 dipandu oleh Deviana Kurniawati selaku Client Success Senior Kalibrr Indonesia. Keynote speaker pada seminar nasional 2 adalah Muhammad Hanif Dhakiri SAg MSi selaku Menteri Ketenagakerjaan periode tahun 2014–2019. Beliau menyampaikan bahwa dunia sudah mengalami banyak perubahan akibat teknologi informasi yang berkembang secara masif, tidak terkecuali sektor industri yang banyak menyerap tenaga kerja, mau tidak mau industri juga harus melakukan penyesuaian dengan teknologi yang ada.

Transformasi industri ini menjadi hal yang sangat penting agar industri tetap bisa bersaing dan kompetitif antara satu dan lainnya dan ini menjadi tantangan yang besar untuk dihadapi sebagai individu maupun sebagai korporasi atau industri.

Pembahasan mengenai ketenagakerjaan dilanjutkan oleh Drs Aris Wahyudi MSi selaku Direktur Jendral Binapenta sebagai pembicara pertama. Beliau menjelaskan bahwa salah satu fokus dari Kementerian Ketenagakerjaan saat ini adalah bagaimana agar kualifikasi kerja dapat dimiliki oleh mahasiswa dalam mempersiapkan kehidupan pasca perkuliahan sehingga dapat menjadi generasi emas yang mandiri dan bahkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Indra Dwi Prasetyo SPd MEd selaku Managing Director IDN Next Leader sebagai pembicara kedua melanjutkan kalau saat ini hingga ke depannya, pekerjaan akan menjadi technology reliated. Permasalahannya bukanlah mengenai adanya lowongan atau tidak, melainkan pertanyaan sesungguhnya, apakah para mahasiswa tersebut siap kerja atau tidak, mengingat dunia juga sudah memasuki borderless era, yaitu bidang yang dipelajari tidak selalu menentukan pekerjaan yang didapat. Oleh karena itu, penting bagi para mahasiswa untuk mulai mempelajari skill di luar bidang pembelajarannya untuk dapat bersaing di level yang lebih tinggi.

Hari kedua, Rabu (15/7/2020) dimulai dengan diadakannya seminar internasional 1 dengan tema “The Economic Distruption: Friends or Foe in Cross-border Era?”. Seminar diawali dengan pembukaan MC yang dibawakan oleh Gafar Ali Haji dan dilanjutkan dengan pembacaan tilawah.

Selanjutnya Nuha Qanita Lc MSc selaku Analis Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) sebagai moderator mempersilakan Dr Halim Alamsyah SE SH MA selaku Ketua Dewan Komisioner LPS sebagai keynote speaker memulai seminar dengan penjelasan awal mengenai disrupsi ekonomi yang memengaruhi dunia bisnis, yaitu inovasi atau teknologi justru dapat menggoyahkan bisnis perusahaan dengan menciptakan hal baru, kebiasaan baru, dan era yang baru.

Indonesia harus bisa memaksimalkan disrupsi ini sebagai cara untuk menyelesaikan berbagai masalah, mulai dari rendahnya produktivitas hingga kualitas SDM dengan memanfaatkan inovasi yang ada dan penggunaan teknologi.

Pembicara pertama, Ronald Yusuf Wijaya selaku Presiden Asosiasi Fintek Indonesia (AFSI) percaya jika Indonesia memiliki potensi besar untuk dapat memimpin digital sharia economy terutama dalam berkembangnya teknologi finansial (financial technology/fintech) syariah. Namun, dengan pangsa pasar yang besar sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, pertumbuhan ekonomi Islam Indonesia ternyata masih tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Malaysia.

Dengan inovasi, berbagai jasa keuangan dapat terkover melalui teknologi yang dapat memudahkan para pemain pasar untuk memenuhi kebutuhan bertransaksi sehingga hal ini juga akan mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih berkembang. Umar Munshi selaku pendiri dari Ethis Global selaku pembicara kedua juga memaparkan, pandemi Covid-19 menjadi katalis dalam perubahan yang sangat cepat, secara global aktivitas dari berbagai sektor yang dilakukan secara daring mendorong proses digitalisasi yang harusnya berproses selama 5 tahun sekarang telah terjadi dalam 3-4 bulan. Oleh karena itu, ekonomi mulai dari cara berbisnis hingga kebijakan pemerintah juga berubah.

Masih pada hari yang sama, sesi siang dilanjutkan dengan dimulainya seminar nasional 3 dengan tema “Critical Perspective of the Islamic Political Economy as the Indonesia’s Resurgence in Global Uncertainty Era”. Seminar dibuka oleh Rani Puspita sari selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah.

Seminar nasional 3 dipandu oleh Siti Rahmah Hanifa SE selaku pendiri KSEI FIES dan sesi pemaparan materi dimulai oleh Faisal Basri SE MA selaku ekonom senior dan dilanjutkan dengan Dr Ascarya MBA MSc selaku Research Advisior Bank Indonesia. Keduanya menjelaskan secara berkesinambungan bahwa pada saat ini, krisis ekonomi dipicu oleh sektor kesehatan akibat adanya Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia.

Saat ini, ekonomi dunia sedang mengalami resesi dan kontraksi sehingga mengalami supply shock dan demand shock. Pandemi ini menyebabkan krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Islamic social finance dapat membantu pemerintah dengan pembahasan pertama yakni save lives misalkan dengan membangun rumah sakit darurat dengan menggunakan wakaf. Kedua, save households dengan membantu masyarakat yang kehilangan pekerjaan dengan memberikan zakat. Oleh karena itu, kuncinya adalah saving live is saving the economy.

Penyembuhan harus dilakukan dengan pendekatan interdisiplin dan melibatkan segenap pemangku kepentingan, tidak hanya ekonom atau ahli kesehatan, tetapi juga semua pihak bahu-membahu sebagai bagian dari elemen bangsa.

Pada hari ketiga, Jumat (17/7/2020), rangkaian acara dilanjutkan dengan seminar internasional 2 yang difokuskan dengan pembahasan mengenai etika kerja Islam dengan tema “Looking for Moral Identity: Dealing with Islamic Work Ethics as the Right Way”. Pembukaan disampaikan oleh Dian Ayu Safitri selaku MC dan dilanjutkan dengan tilawah.

Seminar internasional 2 dimoderatori oleh Muhamad R Rizaldy SE MM MSc. selaku dosen dan peneliti Universitas Gunadarma. Selanjutnya, materi pembuka disampaikan oleh Prof Dr M Din Syamsuddin selaku Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menekankan bahwa semua hal yang menyebabkan era ketidakpastian global ini adalah kurangnya responsibility atau tanggung jawab manusia.

Dalam hal ini, Islam dapat memegang peranan penting, melalui prinsip-prinsip Islam, seperti adil, seimbang, toleransi, musyawarah, inisiatif, dan lainnya. Oleh karena itu, ekonomi Islam, termasuk di dalamnya bisnis Islam, harus berlandaskan etik Islam.

Pemaparan dilanjutkan oleh Ir Budi Handrianto PhD selaku peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) sebagai pembicara pertama dan Dr Mohd Syakir Mohd Rosdi selaku Dosen Senior Pusat Pengembangan Studi Manajemen Islam di Universiti Sains Malaysia sebagai pembicara kedua. Inti dari sesi pemaparan materi adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya memerintahkan umat-Nya bekerja dengan sebaik-baiknya dengan sikap ihsan dalam bekerja, profesional, dan agar dapat bekerja sesuai keahlian.

Rumusan etos kerja Islam berkaitan dengan etika, moral, dan akhlak. Tentang bagaimana memilih di antara pilihan yang baik dan buruk dengan landasan yang ada, etika berlandaskan akal pikiran, moral berlandaskan norma masyarakat, dan akhlak berlandaskan wahyu Allah dan sunah Rasul-Nya. Jika umat Muslim Indonesia melaksanakan etos kerja, etika kerja, akhlak kerja yang islami, Indonesia dapat menjadi negara yang maju dengan kualitas manusia yang baik.

Pada hari terakhir, Sabtu (18/07/2020), rangkaian dari GSENT 2020 ditutup dengan acara student conference sebagai bagian dari babak final Olimpiade Ekonomi Islam GSENT 2020 yang telah berjalan dari 16-18 Juli. Student conference ini membahas mengenai bagaimana ekonomi syariah dapat menjadi solusi dalam era ketidakpastian global dengan tema “Reviving the Islamic Economics to Preserve the National Defense in Global Uncertainty Era”.

Acara dibuka oleh Anisah Ajeng Jayanti selaku promotor dan dilanjutkan dengan tilawah serta sambutan Dr Teddy Oswari SE MM MIKom. selaku Kepala Bidang Pengembangan Minat dan Bakat Mahasiswa Universitas Gunadarma. Sebelum sesi presentasi dari setiap tim dimulai, Dr Sutan Emir Hidayat SP MBA selaku Direktur Bidang Pendidikaan & Riset Keuangan Syariah KNEKS menyampaikan pidato kunci sebagai keynote speaker dan memaparkan mengenai lembaga keuangan syariah, baik komersial maupun sosial yang harus terus melakukan inovasi dan penguatan tata kelola lembaga sehingga dapat bertransformasi menjadi lembaga yang berdaya saing tinggi serta berperan lebih nyata pada perekonomian nasional dan pembangunan sosial di Indonesia.

Selanjutnya, 4 tim finalis yang telah lolos babak semifinal Olimpiade Ekonomi Islam melakukan presentasi esai yang telah dibuat oleh setiap tim yang berisi berbagai solusi untuk mewujudkan ketahanan nasional dalam era ketidakpastian global, mulai dari pemanfaatan bank wakaf mikro hingga menggalakkan investasi syariah berupa reksa dana dan sukuk. Empat tim tersebut berasal dari Institut Agama Islam Tazkia dan Universitas Diponegoro yang masing-masing berhasil meloloskan kedua timnya.

Setelah setiap tim melakukan presentasi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh tiga orang juri yang ahli di bidangnya, Jaja Zarkasyi STHI MA selaku Kepala Seksi Pemantauan dan Evaluasi Harta Benda Wakaf Kementerian Agama, Dr Ali Sakti MEc selaku Peneliti Senior Bank Indonesia, dan Dr Riskayanto SE MM selaku Kepala Prodi Ekonomi Syariah Universitas Gunadarma. Terakhir dilanjutkan dengan tanya jawab oleh para peserta yang mengikuti student conference.

Rangkaian acara seminar Gunadarma Sharia Economic Event (GSENT) 2020 ini disambut antusiasme luar biasa dari mahasiswa Gunadarma serta dukungan dari para penggiat Ekonomi Islam. Gunadarma Sharia Economic Event (GSENT) 2020 ini didukung dan disponsori oleh BEM Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Ikatan Ahli Ekonomi Islam, IB, Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam, Medinat Islamic Finance House, Lembaga Penjamin Simpanan, Bank Indonesia, Bank CIMB Niaga Syariah, E-Salaam, Stabilitas, Badan Wakaf Al-Quran, Kompas, Cano Digital Copy and Printing, Dompet Dhuafa, Inisiatif Zakat Indonesia, HaiEvent, Explore Depok, SeputarKuliah.com, Film Maker Muslim, Area of Competition, EventMahasiswa8, EventMahasiswa3, Bee Production, Event Surabaya Malang, Lomba Mahasiswa, Event Campus, Event Pelajar.

Leave a Response