Sebagai pembekalan sebelum nantinya menghadapi rangkaian kegiatan pemilihan, para finalis Abang None 2019 melakukan kunjungan ke sejumlah instansi terkait. Kunjungan antara lain dilakukan ke kantor Jakarta Smart City, kantor KG Media sebagai media partner Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) DKI Jakarta, serta melakukan bakti sosial bersama masyarakat Jakarta di Kelurahan Pegangsaan.

Sebanyak 36 finalis Abang None 2019 pada Jumat (4/7/2019) berkunjung ke kantor KG Media di Kawasan Palmerah, Jakarta Pusat. Kehadiran para finalis Abang None 2019 di kantor KG Media adalah untuk mendapatkan pengalaman berinteraksi langsung dengan personil-personil yang berada di balik layar sebuah program televisi. Latar belakang serta asal-usul para finalis yang berbeda-beda menjadikan kegiatan ini pengalaman berharga untuk membantu mereka menjalankan peran sebagai juru bicara Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.

Identitas Jakarta

Dilaksanakan pertama kali pada Juni 1968 dan terbatas hanya None, kegiatan yang digagas Usmar Ismail ini terwujud untuk memenuhi spesifikasi pencarian Identitas Jakarta. Pemilihan remaja putra-putri yang tidak terbatas secara visual, juga mencari intelegensi pengetahuan umum dan bakat di bidang seni budaya yang dapat mengangkat DKI Jakarta.

Dalam pelaksanaannya, Usmar bekerja sama dengan Badan Pengembangan Pariwisata (Bapparda) DKI Jakarta, atau yang kini dikenal dengan Disparbud DKI Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menjadi penyelenggara penuh dan menghasilkan seorang Abang pada 1971.

Pada masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, jenjang pemilihan Abang None Jakarta berkembang dari tingkat Kecamatan ke tingkat Kota, hingga akhirnya tingkat Provinsi. Bang Ali pula yang memberi pakem “busana resmi” untuk Abang None Jakarta, mulai dari tata rias hingga perlengkapan baju. Sistem ini kemudian melahirkan gelar “Abang dan None Jakarta” pertama pada 1974.

Sejak embrio kelahirannya yang berawal dari “Dancing on the Street” di Jalan MH Thamrin, Abang None Jakarta tetap eksis hingga kini. Abang None Jakarta berhasil membuktikan diri sebagai ajang yang lebih menekankan keluasan pengetahuan dan daya pikir peserta, tidak hanya pada keindahan postur tubuh atau wajah rupawan. Fungsi finalisnya pun ganda, yaitu sebagai “Pendamping Gubernur” dan seorang “Duta Wisata”.

Lestarikan Budaya Betawi

Sebagai ibu kota Republik Indonesia, Provinsi DKI Jakarta menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari seluruh penjuru Nusantara juga dari manca negara. Arus pendatang dari luar ini terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya, dengan membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya masing-masing.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, berangsur-angsur terjadi pembauran antar-suku bangsa bahkan antar-bangsa. Lambat laun, keturunan masing-masing kehilangan ciri budaya asal. Akhirnya, semua unsur itu melebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang lebih dikenal dengan sebutan Masyarakat Betawi.

Abang None Jakarta hadir sebagai ikon untuk meningkatkan produk pariwisata dan potensi lainnya yang dimiliki oleh DKI Jakarta. Tanggung jawab melestarikan budaya Betawi merupakan tanggung jawab seluruh warga Jakarta, bukan hanya warga Betawi berdasarkan asal usul keturunan. Pemilihan Abang None Jakarta terbuka bagi seluruh warga Jakarta, tidak tergantung asal daerah calon peserta.

Pemilihan Abang None Jakarta memberi kesempatan pada warga Jakarta, khususnya generasi muda, berperan aktif melestarikan budaya Betawi. Selama setahun, Abang dan None Jakarta terpilih akan bertugas menjadi Duta Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, yang dalam kegiatannya berperan secara aktif melakukan sosialisasi dan promosi kepariwisataan baik di dalam maupun di luar negeri.

Ajang pemilihan Abang None Jakarta merupakan salah satu atraksi wisata yang bertujuan melestarikan budaya Betawi dan sekaligus sebagai sarana pengembangan potensi bakat, kreativitas, kecerdasan serta menghilangkan image sebagai pelengkap kegiatan atau pajangan saja.

Untuk itu, anggota dewan juri pemilihan terdiri dari para pakar dan orang-orang yang kompeten di bidangnya. Diketuai Prof Dr Sylviana Murni (bidang Pemerintahan dan Pengetahuan Umum), para anggota Dewan Juri 2019 terdiri dari Sapta Nirwandar (bidang Kepariwisataan), Hermawan Kartajaya (bidang Public Speaking dan Marketing), Rosemini A Salim (bidang Etiket, Kepribadian dan Psikologi), Poppy Dharsono (bidang Tata Busana dan Penampilan), Beki Mardani Nasir (bidang Sejarah Jakarta dan Budaya Betawi), dan Prita Kemal Gani (bidang Komunikasi Bahasa Inggris), ditambah Fery Farhati sebagai Juri Kehormatan:

Kegiatan program Pemilihan Abang None Jakarta 2019 dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama adalah Program Pembekalan, berlangsung dari 18 Juni hingga 6 Juli 2019. Materi pembekalan diberikan oleh ketujuh anggota Dewan Juri serta 21 orang dari kalangan praktisi, dosen, serta pejabat Disparbud.

Tahap kedua, Program Karantina, berlangsung pada 8-11 Juli 2019, dengan kegiatan meliputi

Penjurian, malam keakraban antarfinalis, kunjungan dari tamu daerah, serta penyerahan finalis ke Gubernur.

Tahap ketiga adalah Malam Final Pemilihan Abang None 2019 yang direncanakan pada 12 Juli 2019. [*]

 

Leave a Response