Potensi bisnis dan nilai ekonomi yang besar membuat warga di Desa Tiwu Riwung, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mulai peduli terhadap tanaman porang. Porang sendiri, yang oleh warga Tiwu Riwung biasa disebut ndege, sebelumnya justru tidak diperhitungkan. Bahkan, dulu, porang dianggap beracun oleh warga desa. Anak-anak dilarang untuk mendekatinya.

Baru pada tahun 2010, nama porang perlahan mulai dikenal. Pada saat itu, pengepul porang mulai ada. Namun, harganya masih sangat murah. Menurut cerita Kepala Desa Tiwu Riwung, Martinus Tanis, porang mentah pada tahun 2010 hanya dihargai Rp 300 per kilogram.

Martinus bercerita, dulu pengumpulan porang dilakukan warga dengan harus masuk ke hutan. Baru pada tahun 2018, porang mulai ditanam oleh warga desa setelah melihat permintaan porang yang semakin tinggi.

Warga desa ini mulai menanam porang karena mengetahui beberapa keunggulannya. Pertama, porang tidak membutuhkan pemeliharaan yang rumit seperti tanaman tani lainnya. Kedua, porang tidak mudah diserang penyakit atau hama.

“Tidak ada hama. Binatang hutan seperti babi hutan tidak makan porang. Selain itu, porang sejauh ini tidak pernah terkena penyakit. Kami jadi tidak perlu takut gagal panen. Selanjutnya, penanaman porang tidak membutuhkan lahan yang luas,” ujar Martinus.

Saat ini, warga Tiwu Riwung menanam porang di berbagai lokasi. Ada yang menanam di halaman rumah, membuka lahan, hingga menanam di hutan-hutan. Namun, ada juga yang melakukannya secara tumpang sari. Mereka menanam porang di bawah jagung atau pohon kemiri.

Martinus mengatakan, penjualan porang saat ini di desanya untuk yang mentah atau basah berkisar Rp 5.000–Rp 7.000 per kilogram. Sedangkan untuk porang kering atau setengah jadi, bisa mencapai Rp 20.000–Rp 30.000 per kilogram.

Potensi Porang di Manggarai Barat

Porang termasuk jenis tanaman um­bi-umbian. Ada yang menyebut po­rang sebagai iles-iles. Ini tidak sepe­nuhnya benar. Menurut peneliti porang dari Universitas Brawijaya, Ma­lang, Profesor Simon Bambang Widjanarko, dalam porang ada empat jenis famili.

Porang (Amorphophallus muelleri blume) merupakan jenis porang yang paling bernilai tinggi. Harga porang jenis ini bisa mencapai Rp 35.000 per kilogram. Biasanya porang ini berwarna oranye atau kuning dan pada setiap ketiak daunnya memiliki bubil atau katak.

Jenis kedua adalah iles-iles (Amorphophallus spp). Jenis ini memiliki nilai jual yang tidak terlalu tinggi, sekitar Rp 8.000 per kilogram. Biasanya, porang jenis ini berwarna putih dan daunnya berukuran kecil serta tidak memiliki bubil/katak di bagian ketiak daun.

Jenis ketiga dan keempat adalah walur dan suweg. Keduanya tidak me­miliki nilai jual di pasaran. Untuk suweg, di beberapa daerah ada yang menja­dikannya sebagai penganan ringan. Namun, walur tidak bisa dimakan sama sekali.

Umbi porang mengandung glucomannan, serat alami yang larut dalam air dan biasa digunakan sebagai aditif makanan yang berfungsi untuk pengental. Beberapa negara bahkan mengolah porang sebagai bahan baku pembuatan lem ramah lingkungan hingga pembuatan daging sintetis.

Tak hanya itu, porang juga bisa menjadi bahan baku tepung, kosmetik, hingga penjernih air. Menurut situs Pertanian.go.id, tanaman porang cukup diminati pasar ekspor. Badan Karantina Pertanian mencatat, ekspor porang pada 2018 mencapai 254 ton dengan nilai ekspor mencapai Rp 11,31 miliar ke beberapa negara, di antaranya Jepang, China, dan Vietnam.

Peran BANK BRI dalam Ekonomi Kerakyatan

BANK BRI sebagai Bank yang peduli terhadap pemberdayaan klaster per­tanian kemudian hadir memberikan fasilitas dan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Dua bulan lalu, BANK BRI mulai mengumpulkan warga di 4 desa di Kecamatan Mbeliling untuk memberikan penyuluhan terkait potensi porang yang ada di sana. Desa-desa itu adalah Desa Tiwu Riwung, Desa Cunca Wulang, Desa Golo Ndoal, dan Desa Golo Sembea. Sebanyak 250 orang petani dari kelompok usaha tani dari 4 desa hadir dalam acara ini. Adapun ke-4 desa ini memiliki total lahan pertanian mencapai 200 hektare dan membuatnya sangat potensial untuk membudidayakan porang.

Pelatihan oleh BANK BRI menghadirkan petani porang yang sukses dari Madiun dan Profesor Simon. Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat Anggalinus Gapul. Pelatihan ini diadakan pada 3 dan 5 Oktober 2019. Pelatihan Porang ini merupakan bagian dari Pemberdayaan Kelompok Usaha (Klaster) Mikro BANK BRI yg dilakukan untuk berbagai komoditas di seluruh Indonesia.

“Kami di sini cukup terbantu dengan apa yang dilakukan BANK BRI. Kami mendapatkan penyuluh­­an tentang bagaimana menanam dan memelihara porang. BANK BRI juga memberikan bantuan 4 traktor, 4 unit mesin potong porang, 2 pompa air, dan 2 toren air,” ujar Martinus.

BANK BRI juga memberikan fasilitas pinjaman kepada petani porang setempat.

“Porang sekarang seperti emas bagi kami. Semoga dengan adanya bantuan ini, kami berharap bisa mewujudkan apa yang disampaikan pada waktu pelatihan, dan usaha kami semakin meningkat melalui pendamping­­an UMKM naik kelas,” pungkas Martinus.

Melalui pemberdayaan dan ban­­tuan tersebut, BANK BRI berharap agar pengelolaan dan penjualan ta­naman pertanian milik masyarakat dapat semakin maju dan sukses. BANK BRI berkomitmen untuk turut serta dalam mewujudkan ekonomi kerakyatan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui klaster pertanian. BRI BISA! Untuk Indonesia BRILian.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Desember 2019.

Tags : BRI

Leave a Response