Pemerintah Provinsi Jawa Barat menempuh cara baru untuk menampilkan wajah Islam yang damai dan toleran di dunia internasional, mengirimkan para ulama muda unggul ke Inggris untuk berdialog dengan komunitas lintas agama di negara tersebut. Bentuk diplomasi ini menuai banyak apresiasi.

Program pengiriman delegasi ulama muda Jawa Barat ke Inggris ini adalah program inovatif Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Inggris, British Council Indonesia, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Inggris. Sebelum memberangkatkan para ulama ke Inggris, dilaksanakan terlebih dahulu program pelatihan bahasa Inggris bertajuk English for Ulama, yang merupakan bagian dari program English for West Java.

Pelatihan yang berlangsung pada 28 Maret–11 April 2019 itu diikuti 30 ulama terpilih yang telah lolos seleksi dari 265 pendaftar. Selama pelatihan, peserta mendapatkan pelatihan bahasa Inggris dari British Council serta materi agama dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat. Lima ulama yang dianggap terbaik lalu berangkat ke Inggris untuk berdialog dengan warga Inggris tentang Islam di Indonesia.

Tujuan program ini, seperti dijelaskan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, meningkatkan kapasitas bahasa Inggris para ulama sehingga kelak bisa berdialog tentang Islam di Indonesia pada forum-forum internasional. Selama ini, forum-forum semacam itu didominasi oleh pemuka agama dari Timur Tengah. Padahal, Indonesia, yang notabene negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, mampu memberikan warna dan perspektif berbeda tentang Islam di mata dunia. Dialog yang dilakukan diharapkan mampu membangun persaudaraan antar-agama dan meningkatkan kesadaran tentang kemajemukan.

“Pesannya adalah bercerita tentang keislaman Indonesia, khususnya di Jawa Barat, yang damai dan cinta toleransi. Karena persepsinya belum optimal, masih ada persepsi negatif. Nantinya harapannya tidak ada miskomunikasi antara persepsi orang Eropa dan keislaman di Indonesia,” ujar Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Perkuat toleransi

Lima orang ulama muda yang kemampuan bahasa Inggris dan pemahaman agamanya dianggap mumpuni ditempatkan di beberapa kota, yaitu London, Manchester, Glasgow, Bristol, dan Birmingham untuk melaksanakan beragam agenda yang telah dijadwalkan. Kegiatan mereka antara lain berdakwah di masjid-masjid, menjadi imam pada shalat Jumat, menjadi pembicara utama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad, diskusi lintas agama, kunjungan ke sekolah-sekolah dan universitas, kunjungan ke komunitas Yahudi dan Kristiani, serta wawancara dengan BBC TV dan media setempat.

Pada teleconference antara Ridwan Kamil yang berlangsung pada Selasa (12/11/2019), Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London Prof Amin dan perwakilan ulama Hasan al Bana bercerita bahwa sambutan pemerintah dan warga Inggris sangat luar biasa. Para ulama ini disambut anggota parlemen, diundang bertemu dengan beberapa wali kota, dan diundang wawancara di sejumlah media. Agenda sehari-hari pun selalu padat karena warga Inggris begitu antusias berdialog tentang Islam dan Indonesia.

Dialog-dialog tersebut, seperti diceritakan Hasan, berlangsung hangat dan penuh semangat. “Luar biasa sekali sambutan yang kami terima, sehingga dalam setiap acara saya tidak merasa hanya mewakili Islam atau Jawa Barat, tetapi juga Indonesia. Mereka sangat ingin tahu tentang Islam dan Indonesia. Saya kemarin diajak ke gereja dan berdialog dengan berbagai komunitas. Saya sempat menangis, saya bisa memeluk rabi, pemimpin Yahudi di sini,” tutur Hasan.

FOTO-FOTO DOK PEMPROV JABAR.

Dalam diskusi yang dilakoni Hasan, ia juga bersinggungan dengan topik-topik yang cukup serius, misalnya tentang islamofobia, sikap atau kebencian terhadap hal-hal yang berbau Islam. Adanya mispersepsi ini juga menjadi kesempatan bagi para ulama untuk menunjukkan wajah Islam yang damai dan toleran.

“Sebenarnya masalah radikalisme sudah menjadi masalah global. Namun, Indonesia telah menjadi contoh yang bagus dengan pluralisme yang ada. Kita berada di tengah, dan berusaha mengomunikasikan ke seluruh dunia bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin,” ujar Hasan.

Prof Amin sangat mengapresiasi program ini. Ia melihatnya sebagai bentuk baru diplomasi Indonesia di Inggris. Ia berharap, ke depannya, program ini bisa lebih masif, baik dari sisi jumlah ulama yang dikirim dan cakupan daerah kunjungannya sehingga ini menjadi program yang berkelanjutan.

Direktur British Council Indonesia Paul Smith juga mengungkapkan kesannya terkait program ini. “Menjadi kehormatan bagi kami bekerja sama dengan pemerintah Jawa Barat. Cerita tentang islam, pluralisme, dan toleransi di negara ini adalah cerita yang perlu didengar orang-orang Inggris dan Eropa karena kadang-kadang pemahaman mereka masih negatif. Di Indonesia, kita melihat Islam yang sangat positif dan sosial. Kami percaya Indonesia dapat berkontribusi banyak soal demokrasi dan toleransi,” ujar Paul.

Program English for Ulama dan pengiriman delegasi ulama ke Eropa direncanakan menjadi program rutin tahunan. Seperti kata Ridwan Kamil, ini adalah investasi untuk terbangunnya toleransi dan dialog-dialog yang lebih konstruktif antar-umat beragama di lingkup global.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 14 November 2019.

Leave a Response