Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jakarta, rata-rata 7.359 ton sampah dibuang setiap hari ke Tempat Pengelolan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, pada 2023. Komposisinya terdiri dari 50 persen sampah organik, 23 persen plastik, 17 persen kertas, serta 3 persen kayu. Namun, timbunan sampah di Bantargebang sudah mencapai ketinggian 60 meter, sehingga hampir mencapai kapasitas maksimumnya.

Melihat kondisi tersebut, Pemprov Jakarta membangun Refuse Derived Fuel (RDF) plant yang mampu mengubah sampah menjadi sampah berkalori tinggi dan bersifat homogen. RDF plant bisa membantu mengurangi timbunan sampah secara lebih ramah lingkungan. Sebab, RDF mampu menekan emisi karbon dari proses penimbunan sampah di landfill, tanpa harus mencemari udara karena tidak melalui proses pembakaran.

RDF plant dipilih dengan beberapa pertimbangan, yakni dapat mengolah sampah tercampur, biaya pembangunan dan pengoperasiannya tidak membebani APBD, waktu pembangunannya lebih cepat, serta mampu mendatangkan pendapatan daerah dari penjualan hasil RDF kepada off-taker.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Asep Kuswanto menyatakan, saat ini RDF plant sudah mengolah sebagian sampah dari TPST Bantargebang dan hasilnya telah bisa menjadi sumber daya energi. Ini karena hasil RDF bersifat mudah terbakar yang bernilai kalori tinggi, karena terdiri atas material plastik, kertas, karet, kulit, dan sampah organik kering.

“Karena nilai kalorinya tinggi, hasil RDF bisa menjadi bahan bakar alternatif di sektor industri tertentu, misalnya pabrik semen atau pembangkit listrik,” ucap Asep, Jumat (31/5/2024).

Berkat pengolahan sampah menjadi RDF, bukan hanya sampah yang terkelola dengan lebih baik. Tetapi juga emisi gas metana dan volume sampah ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dikurangi secara signifikan.

“Dengan RDF plant, kita bukan hanya mengelola sampah, tetapi juga menghasilkan energi terbarukan yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik,” ujar Asep.

Ia menjelaskan, RDF plant Bantargebang mampu mengolah 2.000 ton sampah per hari dan sekitar 700 ton RDF mampu diproduksi setiap hari. Untuk bisa menyerap lebih banyak lagi, Pemprov Jakarta ingin menambah RDF plant dengan membangunnya di Rorotan, Jakarta Utara.

RDF Plant Rorotan didesain untuk mampu mengolah sampah baru sebanyak 2.500 ton per hari dan menghasilkan produk RDF minimal 875 ton per hari. RDF Plant Rorotan diproyeksi untuk memenuhi spesifikasi bahan bakar industri semen. RDF Plant Rorotan ini ditargetkan akan beroperasi pada 2025.

Baca juga : Setahun Pemerintahan Pj Gubernur, Pemprov DKI Raih Banyak Penghargaan

”PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk telah menyampaikan surat kesediaan sebagai off-taker RDF dan kesanggupan untuk memanfaatkan seluruh produk RDF Rorotan yang dihasilkan dari RDF Rorotan pada kompleks pabrik Indocement di Citeureup, Kabupaten Bogor. Selain Indocement, ada juga PT Solusi Bangun Indonesia yang sudah bersedia untuk menjadi off-taker RDF,” ujarnya.

Ketua Presidium Net Zero Waste Management Consortium, Ahmad Safrudin, berpendapat, pembangunan RDF plant itu baik adanya. Namun, yang harus diperhatikan bagaimana proses dari hulunya. Hal ini untuk menghindari hal yang pernah terjadi, seperti insenerator pada masa lalu.

“Sebaiknya masyarakat sudah harus disosialisasi soal pemilahan dahulu, cukup organik dan anorganik saja dulu. Ini untuk menghindari kualitas sampah yang dihasilkan tidak sesuai untuk kebutuhan industri yang membutuhkan energi dari RDF plant,” tuturnya, Senin (3/6).

Pemilahan ini berfungsi agar RDF plant bisa menghasilkan energi yang berkalori tinggi, sehingga bisa diserap dan diterima oleh pembeli. Dalam hal ini, industri semisal pabrik semen atau pembangkit listrik.

“Pembangunan RDF plant baik, tetapi di satu sisi harus dilakukan sosialisasi secara komprehensif juga. Begitu pula teknologi dari RDF yang sebaiknya sudah menggunakan proses termal tertutup, agar tidak melepaskan emisi polutan tambahan ataupun unsur kalori tinggi ke udara,” pungkas Ahmad. [*]