Hidup layak untuk dinikmati. Mulai dari bangun pagi hingga tidur lagi pada malam hari. Mencecap setiap pengalaman sehari-hari dengan segenap indera dapat menghadirkan makna dan nilai yang berujung pada menghargai kehidupan.

Makanan lazim menjadi salah satu sarana menik­mati hidup. Manusia mengon­sumsi makanan untuk memenuhi kebutuhan dasar ragawi. Namun, fungsi makanan bisa lebih dari itu. Bukan hal aneh ketika makanan kerap menjadi media pencair suasana. Orang cenderung lebih berpikiran terbuka dan santai saat mendiskusikan hal-hal agak sensitif dalam jamuan makan malam, misalnya, dibandingkan tanpa makanan.

Namun, lebih jauh makanan punya potensi memperkaya pikiran, misalnya berupa ingatan bahkan imajinasi. Salah satu penulis artikel ini selalu terkenang kampung halaman di Selat Panjang, Riau, setiap kali menyantap kwetiau bagan di Pasar 8 Alam Sutera, Tangerang, Banten.

Pun, tak jarang wawasan baru ditemukan lewat cerita-cerita di balik sebuah sajian kuliner. Contohnya, sejarah, budaya, hingga kebijaksanaan yang tecermin dalam pelbagai ragam makanan dan cara mengolahnya. Beberapa kali Kompas KLASS pernah mengulas falsafah mendalam dari sajian kuliner khas daerah, seperti Betawi, Palembang, hingga budaya peranakan.

Sejumlah makanan ternyata hanya muncul dalam prosesi adat tertentu seperti perkawinan adat. Saat bulan puasa seperti sekarang pun, dengan mudah kita menemukan kuliner khas Ramadhan yang jarang ditemui pada bulan biasa. Jika ditelusuri, selalu ada nilai dan makna khusus dalam kuliner di perhelatan adat dan keagamaan yang pada intinya menyatakan kebaikan hidup.

Pada era kekinian, makanan telah mendorong lahirnya para pengulas kuliner. Utamanya di media sosial dengan Instagram sebagai primadonanya. Food blogger, foodies, food photographer, dan food stylish adalah deretan istilah atau profesi yang kian akrab di telinga karena sedang tren. Selain itu, sebut siaran makan (mukbang) yang kini jadi fenomena di kalangan anak muda.

East meet west (fusion food) juga lumrah tersaji di meja-meja restoran “zaman now”. Fusion tak lain merupakan gaya yang memadupadankan sejumlah elemen makanan hingga jadi satu jenis makanan dengan cita rasa baru. Meski bukan hal yang benar-benar anyar, maraknya fusion food menegaskan makin menyatunya budaya Timur dan Barat.

Perpaduan juga terjadi pada suasana tempat makan. Dulu, orang lazimnya menyantap makanan tradisional hanya di lokasi yang juga tradisional, seperti di pasar beralas tanah atau di rumah-rumah adat. Namun, sekarang tidak terlalu sulit untuk merasakan ambiens tradisi rakyat di kedai-kedai modern kota besar. Menghadirkan “suasana kampung” di jantung perkotaan atau sebaliknya, sentuhan mutakhir bisa direkayasa dengan baik untuk menghadirkan kuliner tradisional bernuansa modern. Maka, tak heran bila arti pasar tradisional dan pasar modern pun kian membaur.

Foto-foto: dokumen Valent Hartadi dan Brian D Sumito.

Kala mencari contoh kawasan yang memenuhi cita rasa gaya hidup dan kuliner lengkap, Alam Sutera bisa diajukan. Kota mandiri ini amat kaya dengan ragam kuliner bernuansa modern, tradisional hingga bauran keduanya. Mudah menemukan lokasi kuliner berkelas untuk keperluan meeting dan hangout. Bagi penulis yang kebetulan tinggal di “kawasan tetangga”, Alam Sutera masuk dalam daftar utama destinasi favorit kuliner pada akhir pekan.

Penulis berasal dari dua generasi berbeda: gen X dan milenial. Namun, kami sepakat kawasan Alam Sutera menjawab “taste” yang dibutuhkan dari segi content creation. Mengingat kami punya kegiatan profesional yang erat kaitannya dengan dunia kuliner dan gaya hidup, kawasan ini kerap menjadi solusi dari banyak pekerjaan kami. Food photography, culinary review, dan photo session (fashion photography) untuk menyebut beberapa di antaranya.

Spot favorit kuliner di kawasan Alam Sutera cukup bervariasi dan menawarkan pengalaman berlainan. Untuk segmen tradisional, lihatlah Pasar 8. Terdapat kuliner yang berbeda pada pagi dan malam hari di sini. Sebagian besar kuliner yang ada pada pagi hari tidak buka pada malam hari dan sebaliknya.

Sementara itu, sentuhan kuliner modern bertebaran pula di Alam Sutera. Baik terintegrasi dalam satu area maupun berdiri sendiri (stand alone) tetapi terkoneksi. Yang relatif baru bernuansa tropis, sebutlah Futopia di Mall @Alam Sutera seluas 5.000 meter persegi.

Destinasi lain yang lebih dulu hadir, di antaranya Flavor Bliss yang tak pernah sepi pengunjung karena menyediakan bermacam pilihan menu khas Indonesia, Jepang, Korea, China, western, dan Vietnam, baik main course maupun dessert.

Masih banyak kuliner unik berselera di Alam Sutera yang tidak cukup dijelajahi dalam satu dua bulan, apalagi kawasan masih terus bertumbuh. Ditambah kawasan ini telah menjadi “melting pot” bagi beragam aktivitas komunitas, baik dari dalam maupun luar kawasan yang jauh.

Namun, sesungguhnya Alam Sutera tak cuma menyuguhkan pengalaman kuliner yang komplet, sebab pusat perbelanjaan seperti Mall @ Alam Sutera juga siap menjawab beragam kebutuhan gaya hidup para pengunjungnya. Selain itu, menjawab kebutuhan untuk memuaskan hobi, lewat kehadiran Decathlon, Pet Kingdom, atau IKEA. Bahkan, Alam Sutera ikut mendorong gaya hidup sehat dengan menyediakan area bersepeda dan olahraga lari yang nyaman.

Oleh karena itu, kami merekomendasikan kawasan Alam Sutera bagi para penikmat kuliner, foodies, dan bloger yang sedang mencari inspirasi dan pengalaman berbeda. Alam Sutera bisa menjadi melting pot bagi beragam komunitas. Cekrek!

Oleh:
Valent Hartadi | Food enthusiast, Founder Etalase Media Network | Instagram @valenthartadi
Brian D Sumito | Commercial Food Photographer | Instagram @briandsumito
#kuliner

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 16 Mei 2019.

Leave a Response