Kekuatan Adaptasi Bank Jateng dalam Era Disrupsi

Kehadiran teknologi yang makin pintar menciptakan era baru yang kini disebut era disrupsi. Disrupsi atau disruption menggantikan “pasar lama” industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh, yang juga bersifat destruktif dan kreatif. Bagi yang tak dapat beradaptasi di dalamnya, hanya dengan sejentikan jari dapat punah. Ini khususnya terkait dengan bisnis.

Meski banyak yang menganggap sebagai tantangan, banyak juga yang menganggap era ini merupakan peluang. Jika dapat ditangani dengan baik, ruang keberhasilan yang diharapkan dapat dicapai dengan lebih besar. Point of view inilah yang mengantarkan Bank Jateng hingga saat ini terus dapat menaikkan perannya sebagai bank penunjang pembangunan daerah, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Berbagai prestasi mampu diukir Bank Jateng di tengah era disrupsi yang terasa makin kompetitif.

Bank JatengDirektur Utama Bank Jateng Supriyatno menyampaikan, era ini mengubah kultur bertransaksi. Orang kini semakin menginginkan proses bertransaksi yang lebih cepat, mudah, dan efisien. Kehadiran teknologi memungkinkan ini semua terjadi. Kondisi ini menjadi tantangan, tetapi sekaligus merupakan peluang besar yang ketika dapat ditangani dengan tepat dapat memberikan hasil luar biasa.

“Perkembangan teknologi finansial dan perusahaan rintisan yang makin gencar hadir, misalnya. Bagi kami, bukan ancaman, melainkan peluang sehingga kami dapat melakukan kerja sama dengan mereka untuk mengembangkan usaha menjadi lebih baik, khususnya dari segi pelayanan,” terang Supriyatno.

Supriyatno menyampaikan, Bank Jateng akan bekerja sama dengan salah satu perusahaan rintisan Unicorn yang mengembangkan market place di Indonesia untuk menghadirkan ruang digital bagi sentra UMKM yang telah menjadi mitra.

“Jadi, nanti, melalui market place tersebut, UMKM yang telah menjadi mitra kami dapat memasarkan produk mereka. Selain itu, nantinya nasabah dapat membayarkan iuran listrik atau telepon mereka dengan rekening Bank Jateng melalui market place tersebut,” ujarnya.

Supriyatno menekankan tentang perubahan harus terus dilakukan terutama mengenai perkembangan teknologi. Setiap bank harus menyiapkan beberapa sarana untuk menunjang digitalisasi agar berkembang lebih baik. Perubah­an dilakukan harus dari dalam menuju luar yakni dengan melakukan perbaikan sumber daya manusia dan kebijakan, serta harus mengikuti teknologi terkini termasuk digitalisasi.

Pemanfaatan digital banking tidak semata-mata jasa dan layanan transaksi kepada nasabah berbasis digital, tapi termasuk juga aktivitas operasional perlu dibuat digital. Peranan digital banking sangat penting dengan pandangan bahwa digitalisasi dapat mempercepat dan mempermudah proses, transparan, akuntabel, dan aman. Digital banking dapat juga dikategorikan digitalisasi perbankan.

Bank Jateng sendiri sudah melakukan digitalisasi sejak 2017. Sebanyak 40 persen aktivitas perbankan telah dilakukan dengan digitalisasi. Bank Jateng menghadirkan layanan e-banking, QR code, dan aplikasi e-Bima.

Bank Jateng“Teknologi yang kami jalankan ini sudah melalui proses regulasi yang sesuai dan dipantau oleh Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” terang beliau.

Bank milik pemerintah daerah ini juga bersama Pemkot Surakarta dan pemkab/pemkot se-Jateng telah merancang sebuah sistem pembayaran retribusi pedagang secara daring dengan e-retribution dan penerapan sistem elektronik untuk pembayaran tarif parkir atau e-parking.

Kinerja positif

Bank Jateng hingga akhir November 2018 menunjukkan perkembangan. Total Aset yang telah dimiliki Bank Jateng mencapai Rp 69,17 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp 53,26 triliun. Dari segi pembiayaan yang disalurkan telah mencapai Rp 46,12 triliun dan berhasil meraih laba usaha sebesar Rp 1,88 triliun.
Hingga akhir tahun ini, manajemen Bank Jateng menargetkan dapat menyalurkan total kredit hingga Rp 48,83 triliun, dengan rincian kredit produktif Rp 19,53 triliun dan kredit konsumtif Rp 29,30 triliun.

Guna mencapai target penyaluran kredit produktif, Bank Jateng sudah menyiapkan berbagai strategi. Mulai dengan menambah jumlah outlet mikro sebanyak 65 unit hingga menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) dalam membiayai proyek APBD dan APBN.

Bank Jateng juga terus merealisasikan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) ke sektor produktif. Pada tahun ini, Bank Jateng menargetkan dapat menyalurkan KUR Rp 500 miliar. Hingga semester 1-2018, Bank Jateng sudah menyalurkan KUR sebesar Rp 350 miliar.

Penghargaan

Berbagai penghargaan telah diraih Bank Jateng atas segala upaya membawa bank ini unggul di bidangnya. Bank Jateng meraih penghargaan The Best sekaligus peringkat kesatu Bank Kategori Bank BUMD dalam Anugerah Perbankan Indonesia VII-2018 (APBI-VII-2018) & Anugerah BPR Indonesia VI- 2018 (ABPRI-VI-2018).

Anugerah Perbankan Indonesia-VII-2018 (APBI-VII-2018) & Anugerah BPR Indonesia VI- 2018 (ABPRI-VI-2018) merupakan sebuah penghargaan bergengsi yang diterima oleh beberapa perusahaan perbankan yang telah disesuaikan dengan pengelompokan perbankan. Pengelompokan berdasarkan Aset Perusahaan, Kelompok BUKU dan Kepemilikan Saham Perusahaan (Pemerintah, BUMN, Anak Perusahaan BUMN, BUMD, Swasta).

Bank Jateng telah dinobatkan sebagai Top Used Bank Commercial dalam “Warta Ekonomi Jawara Finansial Award 2018”. Selain itu, meraih penghargaan sebagai The Most Efficient Bank, The Most Reliable Bank, dan posisi tiga untuk Sharia Business Unit pada Indonesia Banking Award (IBA) 2018.

Kemudian, Direktur Utama Bank Jateng Supriyatno meraih penghargaan sebagai The Best Indonesia Leaders 2018-2019-Category: Regional Owned Enterprises Company-Regional Development Bank. Penghargaan ini dari Majalah Economic Review. [ACH]

Artikel ini sudah terbit di Harian Kompas, 27 Desember 2018

Leave a Comment