PT Pelabuhan Indonesia II Menuju Pelabuhan Kelas Dunia

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC melakukan berbagai upaya dalam rangka menuju pelabuhan kelas dunia. Di antaranya dengan mengubah proses bisnis di berbagai sektor berbasis digital.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC Elvyn G Masassya. Dirinya menyebutkan, perusahaan melakukan perubahan business process dalam 3 tahun terakhir. Hasilnya, kinerja dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, baik dari sisi finansial maupun operasional.

“Di sisi finansial, pada November 2018 IPC mencatat laba bersih sebesar Rp 2,24 triliun atau tumbuh sekitar 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,7 triliun. Sementara pada sisi kinerja operasional, terdapat peningkatan volume arus peti kemas yang mencapai 6,97 juta TEUs, dan kami berharap pada akhir tahun ini menyentuh angka 7,3 jua TEUs,” ujarnya.

Pencapaian tersebut, lanjut Elvyn, tak lepas dari upaya IPC menjalankan roadmap yang dirangkum untuk periode 2016-2020. Pada 2016, persero ini masuk ke dalam tahap fit in infrastucture, dirangkai fase enhancement (2017), dilanjutkan fase establishment (2018), kemudian fase sustainable superior performance (2019), dan pada 2020 menjadi pelabuhan berkelas dunia.

“Tahun 2018 ini kita berada pada fase establishment atau pemantapan. Kita melakukan berbagai upaya agar lebih mantap untuk memasuki fase berikutnya untuk kemudian pada 2020 menjadi world class port operator,” ujar peraih Best Achiever in CEO State-Owned Enterprises tersebut.

Fokus dan acknowledgment

Dalam rangka memasuki tahap pemantapan, terdapat 3 hal penting yang menjadi fokus utama, di antaranya peningkatan hasil di seluruh cabang IPC dan anak peusahaan, pertumbuhan profitabilitas, dan holding establishment yang merupakan sinergi antaranak perusahaan. Hal ini dilakukan agar hasil yang didapat bisa lebih terukur dan terkontrol.

Sementara itu, terkait rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), IPC mampu menekan angkat tersebut, dari yang awalnya berada di atas 70 persen kini menjadi 68 persen. Ini merupakan hasil positif dari efisiensi yang dilakukan pada berbagai bidang serta proses bisnis yang dijalankan.

Dari sederet upaya yang dilakukan, tak berlebihan apabila BUMN yang bergerak di bidang logistik ini mendapat segudang penghargaan. Di antaranya peraih Global Performance Excellent Award 2018 – Best in Class dari Asia Pacific Quality Organization Inc dan Best Water Management Initiative kategori Tata Kelola Lingkungan dari The Asset Publishing and Research Ltd Hongkong.

Selain itu, IPC juga meraih TOP IT & TELCO Award 2018 dalam sejumlah kategori: Top Leader on IT Leadership, Top Leader Implementation On Port Sector 2018, dan Top Digital Transformation Readiness 2018 dari Majalah IT Works. Apabila ditotal, pada 2018 IPC mendapatkan 35 buah penghargaan bergengsi yang diberikan oleh sejumlah pihak. Ini menjadi salah satu barometer kesuksesan sekaligus menjadi penyemangat bagi persero ini untuk terus berkarya menjadi lebih baik lagi.

Dwelling time

Dwelling time telah menjadi momok pada bidang logistik dan pelabuhan. Namun, ini tidak berlaku bagi IPC karena telah berhasil menekan waktu tunggu peti kemas impor. “Dwelling time sudah sejak lama menjadi isu di dunia pelabuhan, yang sebenarnya adalah proses produktivitas. Di IPC, dulu waktu tunggu peti kemas impor bisa mencapai 6-7 hari, tapi sekarang sudah bisa jauh lebih cepat, yakni 2,5-3 hari. Ini sesuai dengan target yang diberikan pemerintah,” ungkap Elvyn.

PelindoAdapun upaya yang dilakukan IPC dalam menekan waktu tersebut di antaranya dengan menerapkan layanan berbasis Integrated Container Freight Station (CFS) di Pelabuhan Tanjung Priok. Layanan ini guna memudahkan pengguna jasa dalam bertransaksi serta merupakan upaya transparansi terkait biaya yang harus dikeluarkan. Nantinya, layanan integrasi ini juga akan diterapkan di pelabuhan lain agar lebih efisien.

Sementara itu, terkait disrupsi digital yang terjadi dewasa ini, IPC memasuki era baru menuju pelabuhan digital (digital port), yang bertransformasi dari terminal operator menjadi trade facilitator. Sebab itu, IPC juga memiliki visi menjadi fasilitator perdagangan kelas dunia melalui penerapan digital guna meningkatkan pertumbuhan, produktivitas, dan mempromosikan kultur yang berfokus pada pengguna jasa.

Terdapat strategi digital dan digital operating model berfokus kepada 4C guna memasuki evolusi tersebut, yakni customer centric, collaborations, creativity, dan culture. Semua itu ditunjang dengan penerapan digital culture, yaitu agility, responsiveness, technology literate, risk taking, dan innovative.

Dengan penerapan strategi tersebut, IPC memiliki roadmap terukur untuk meningkatkan keunggulan bersaing serta integrasi dan kolaborasi dengan partner/ekosistem pelabuhan untuk menjadi operator pelabuhan kelas dunia berbasis digital.

“Kami ingin menjadi digital port pertama di Indonesia, yang keseluruhan proses bisnisnya sudah berbasis TI. Untuk proses digitalisasi pelabuhan kami lakukan mulai dari tahun 2016 hingga 2020. Aspek yang akan ditransformasikan menjadi digital adalah dari sisi laut, terminal, dan kegiatan pendukung (supporting) lainnya. Biaya untuk kebutuhan digital port, hingga 2020, kami anggarkan sebesar Rp 1 triliun,” jelas Elvyn.

Dengan adanya digitalisasi pelabuhan, pihak IPC optimistis mampu meningkatkan efektivitas layanan pelabuhan serta efisiensi sumber daya yang dibutuhkan di dalam pelabuhan. Bahkan, pelayanan di sekitar pelabuhan juga akan lebih cepat.

IPC telah menyiapkan 6 pilar kanal elektronik (e-channel) guna mendukung transformasi digital. Adapun pilar-pilar tersebut terdiri dari e-Registration, e-Booking, e-Tracking, e-Payment, e-Billing, dan e-Care. Pilar-pilar ini diyakini akan mempermudah dari sisi pelayanan pelabuhan serta efisiensi waktu. Serta dapat mendorong kemajuan pelabuhan di Indonesia.

Tahun Sustainable

Dalam rangka memasuki tahun 2019 yang merupakan tahun “Sustainable”, IPC memiliki sejumlah target yang berfokus pada 3 hal, yakni strategi pertumbuhan, konektivitas nasional, dan ekspansi global.

Pada strategi pertumbuhan, IPC memiliki target terhadap peningkatan pendapatan perusahaan dengan mengimplementasikan growth strategy dan ekspansi ke luar negeri melalui anak perusahaan. Sementara pada proyek strategis dan konektivitas, IPC berkomitmen untuk dapat meningkatkan konektivitas antarpelabuhan dan kawasan melalui program Integrated Port Network dan pembangunan proyek strategis.

Target lainnya adalah tindak lanjut sisterport, tindak lanjut MoU dengan mengimplementasikan business coopera­tion, internship, dan kerja sama digital/teknologi. Fokus target tersebut dapat diturunkan menjadi target per direktorat yang masing-masing memiliki fokus berbeda-beda.

Terkait target kinerja operasional pada 2019, arus peti kemas diharapkan mengalami kenaikan mencapai 7,57 juta TEUs atau meningkat 2,44 persen dan arus non-peti kemas naik menjadi 73,27 juta ton atau meningkat 29,02 persen. Kunjungan kapal diharapkan naik menjadi 235 juta GT atau meningkat 12,9 persen, dan kunjungan jumlah penumpang menjadi 568,9 ribu orang atau meningkat 3,36 persen.

Sementara itu, di sisi kinerja keuangan, pendapatan usaha ditargetkan naik menjadi Rp13,5 triliun atau meningkat 16,37 persen dibandingkan taksasi 2018 dan laba tahun berjalan diharapkan naik menjadi Rp 2,61 triliun atau meningkat 8,29 persen. Dan EBITDA ditargetkan tumbuh menjadi Rp 5,180 triliun atau naik 19,08 persen, dan BOPO bisa mencapai 68,08 persen atau menunjukkan efisiensi 1,67 persen.

IPC juga memiliki andil besar terhadap proyek strategis nasional, yakni dengan melanjutkan sejumlah proyek, di antaranya pembangunan terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, pembangunan Terminal Kijing Kalimantan Barat yang merupakan ekstensi dari Pelabuhan Pontianak, dan proyek pembangunan Kanal Cikarang Bekasi Laut (CBL) sebagai upaya optimalisasi alur sungai sebagai alternatif moda transportasi barang. Selain itu juga melakukan pembangunan Pelabuhan Sorong, Papua Barat, yang akan dijadikan sebagai pelabuhan hub di Indonesia bagian timur.

Selain proyek-proyek tersebut, dalam rangka meningkatkan sinkronisasi dan sinergi antar-pemangku kepentingan terkait, IPC berencana membangun Maritime Tower di Jakarta Utara. Bangunan tersebut nantinya akan menjadi pusat aktivitas seluruh stakeholder pelabuhan. Komunikasi dengan berbagai pihak akan semakin efektif dan efisien berkat hadirnya menara tersebut. [BYU]

Artikel ini sudah terbit di Harian Kompas, 26 Desember 2018

Leave a Comment