Membangun Inovasi Saintek dari UGM untuk Negeri

Kekayaan alam dan sejarah besar bangsa ini menjadi pegangan Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak awal berdiri hingga sekarang untuk selalu inovatif dan kreatif dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi. Penelitian inovatif yang memiliki dampak luas (high impact) terus dilakukan untuk memecahkan masalah pembangunan nasional dan kedaulatan bangsa Indonesia.

Iptek bidang pengindraan jauh dan sistem informasi geografis di­­kem­bangkan oleh UGM dan Bakosurtanal yang sekarang dise­but BIG (Badan Informasi Geos­pasial). Inovasi bidang sistem informasi geografis berkembang dan mendukung lahirnya UUIG (Undang-Undang Infor­masi Geospasial). Implementasi one map policy merupakan inovasi IT dalam sistem pembangunan nasional NKRI di era digital.

Dalam upaya membangun Indonesia tangguh dan ramah lingkungan, telah didirikan Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana (KLMB) yang merupakan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang lingkungan hidup dan mitigasi kebencanaan (Suratman, 2010). Gagasan ini ditengarai dengan adanya gempa bumi dan letusan Merapi pada tahun 2006 dan 2010. Dalam hal ini, KLMB bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan BNPB.

Foto-foto: dokumen DPKM UGM

Di bidang konstruksi bangunan, kita mengenal sistem Cakar Ayam Modifikasi (CAM) yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem Cakar Ayam Prof Sedyatmo (Bambang Suhendro dkk). Pengembangan yang telah dilakukan didasarkan pada evaluasi hasil-hasil penelitian yang dilakukan secara intensif sejak 1990 oleh tim pengembangan sistem CAM. Sistem CAM telah dikembangkan dan dipatenkan dengan No Paten P0029758–15 Desember 2011.

Selain itu, sivitas akademika universitas yang bertempat di Yogyakarta ini menemukan sistem peringatan dini ben­cana longsor. Sejak 2006, mahasiswanya telah mengembangkan alat-alat deteksi dini bencana, dan hingga kini telah lahir generasi ke-5 yang dinamakan Gadjah Mada Early Warning System atau GAMA-EWS (Teuku Faisal Fathani, Dwikorita Karnawati, dkk).

UGM telah mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0 dengan memper­siapkan inovasi teknologi yang dimulai dari riset grup mahasiswa, terintegrasi de­ngan peran laboratorium dan para pakar. Tahun ini, para mahasiswanya  yang terga­bung dalam Tim Smart Car MCS menjadi juara dunia dalam kompetisi inovasi teknologi di London. Mengusung gagasan pengembangan mobil pintar yang mam­pu mengolah limbah plastik menjadi ba­han bakar alternatif, tim ini berhasil menga­lah­kan 3.336 tim mahasiswa dari 140 negara.

Di bidang start up, alumni UGM sukses mengembangkan aplikasi Pasienia yang menang dalam kompetisi Google Business Group (GBG) Stories. Aplikasi ini menjadi juara dunia dengan menyisihkan 468 aplikasi lain dari berbagai negara.

UGM juga mulai merespons energi terbarukan dengan membentuk Centre for Development of Sustainable Region (CDSR). Menjadi bagian dari program Sustainable Higher Education Research Alliances (SHERA) yang merupakan kerja sama antara Kemenristekdikti dan United States Agency for International Development (USAID), CDSR bertujuan untuk mengimplementasikan sistem energi hibrida dan efisiensi energi beserta jejaring pendukungnya guna membangun kepulauan tropis yang berkelanjutan.

Semua penelitian ini terus dikembankan untuk kesejahteraan bangsa Indonesia. Hingga Oktober 2018, tercatat pihak universitas memiliki 47 hak paten dan 138 hak cipta yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam melakukan proses hilirisasi, pihak universitas berhasil menggabungkan peran antara pengembangan riset, masyarakat, komunitas, perusahaan, dan pemerintah.

Dikembangkannya UGM Science Techno Park di Purwomartani, Sleman; dan Kulon Progo, selain sebagai teaching industry, juga disiapkan untuk menghilirkan produk-produk akademik dan penelitian secara langsung kepada masyarakat melalui industri. Di pesisir selatan, universitas memiliki Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) yang menyediakan informasi geospasial yang andal, terintegrasi, dan mudah dimanfaatkan untuk mendukung negara maritim Indonesia. Di wilayah Batang, Jawa Tengah, ada PT Pagilaran yang menjadi perkebunan inti rakyat dengan produk teh dan kakao yang juga merupakan teaching industry bagi mahasiswanya.

Hasil-hasil riset dan inovasi universitas juga telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti halnya implan tulang yang dikembangkan oleh tim peneliti yang tergabung dalam grup riset CIMEDs (Centre for Innovation of Medical Equipment and Devices), Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran UGM. Implan penyambung tulang ini beberapa waktu lalu telah dimanfaatkan untuk korban gempa dan tsunami di Palu. Sebanyak 100 implan yang terdiri atas narrow dynamics compression plate, small plate, broad plate, reconstruction plate, T plate, dan mini plate diserahkan kepada tim bedah ortopedi RSUP Dr Sardjito yang waktu itu akan dikirim ke Palu.

Pengembangan implan penyambung tulang ini mendapatkan dukungan pen­danaan dari Dikti dan pihak universitas, meli­batkan peneliti dari Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) FT UGM bekerja sama dengan peneliti dari Bagian Ortopedi dan traumatology RSUP Sardjito dan FKKMK UGM.

Indonesia Memimpin, UGM Mengabdi

Di usianya yang ke-69, universitas pertama yang dibangun oleh pemerintah setelah Indonesia merdeka ini tetap perlu untuk memberikan kontribusi bagi bangsa di dunia internasional, yaitu beasiswa UGM International Fellowship Programme untuk mahasiswa S2/S3 yang berasal dari negara berkembang khususnya ASEAN, sebagai bagian dari program UGM Lead South East Asia, salah satu targetnya menjadi pemimpin perguruan tinggi terkemuka di wilayah Asia Tenggara. Program ini dimulai pada 2018 dengan jumlah beasiswa 17 orang.

Pihak universitas turut mendukung program pemerintah, yaitu kemajuan bagi Palestina, dengan memberikan bea­siswa S2 dan S3 bagi mahasiswa yang ber­asal dari Palestina. Program ini sebagai bagian dari upaya universitas meneguhkan kepe­mim­pinan di dunia internasional. Nilai-nilai mulia UGM harus dira­sakan dan menginspirasi di seluruh penjuru dunia.

Dalam membangun reputasi inter­nasional bagi Bangsa Indonesia, peran aktif UGM juga sangat nyata, melalui pening­katan peringkat UGM di antara per­­guruan tinggi di dunia. Pada 2018, ranking UGM naik dari 402 menjadi 391 menurut versi QS World University Ranking. Sementara itu, pada tataran regio­nal, peringkat UGM di Asia naik dari 85 menjadi 74 dengan academic reputation berada di peringkat 43 di Asia, dan merupakan peringkat tertinggi di Indonesia.

Kepercayaan dunia terhadap Indo­nesia dan UGM juga dicerminkan oleh ketertarikan dunia internasional terhadap UGM melalui meningkatnya animo mahasiswa internasional dan dosen internasional di UGM. Selama 2018, jumlah mahasiswa internasional di UGM sebesar 2.269 mahasiswa yang berasal dari 95 negara. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sejumlah 527 mahasiswa jika dibandingkan 2017 dengan jumlah mahasiswa 1.705 orang. Jumlah visiting lecture di UGM selama 2018 adalah 900 orang dari 28 negara. [*]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Desember 2018.

Leave a Comment