Dukungan Penuh Kemenperin bagi Industri Kreatif Indonesia

Dalam rentang 2012 hingga 2016, nilai total ekspor Indonesia cenderung mengalami penurunan. Namun, ekspor industri kreatif Indonesia, khususnya subsektor fesyen dan kriya cenderung mengalami peningkatan. Laju pertumbuhan rata-rata produk fesyen dan kriya selama 2010–2016 sebesar 4,33 persen dan 11,64 persen.

Tingginya laju pertumbuhan industri kreatif khususnya subsektor kriya tak terlepas dari kekayaan warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Hal ini yang menjadi inspirasi bagi para desainer untuk mengembangkan produknya.

Dalam rangka melaksanakan amanah Undang-undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015–2035, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) berupaya untuk meningkatkan daya saing industri kreatif. Hal ini dilakukan melalui berbagai program kegiatan.

Beberapa di antaranya, fasilitasi bahan baku, peningkatan kapasitas SDM industri, peningkatan kapasi­tas teknologi/produksi melalui re­strukturisasi mesin peralatan, sertifikasi standar mutu produk, pengembangan desain, merek, kemasan produk dan HKI, serta promosi produk IKM secara offline melalui fasilitasi kepesertaan dalam pameran di dalam dan luar negeri maupun online melalui program e-Smart IKM.

Integrasi dengan “e-commerce”

e-Smart IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada dengan tujuan untuk semakin meningkatkan akses pasar IKM melalui digital marketing.

Ditjen IKMA melakukan kerja sama dengan lima marketplace untuk meningkatkan akses pasar para pelaku IKM. Adapun marketplace yang telah berkolaborasi bersama Kementerian Perindustrian yaitu Bukalapak, Blibli, Shopee, Tokopedia, Blanja.com. Melalui kerja sama tersebut, Ditjen IKMA mendapat data performa IKM. Data tersebut akan dipantau dan hasilnya ditindaklanjuti dalam bentuk pembinaan oleh Ditjen IKMA.

Untuk meningkatkan daya saing sentra IKM, Ditjen memiliki program revitalisasi sentra IKM. Program ini ditujukan untuk memfasilitasi penguatan kelembagaan sentra IKM melalui revitalisasi UPT, rumah produksi, rumah promosi, dan pengolahan limbah.

Bali Creative Industry Center

Dalam rangka mengembangkan potensi yang dimiliki industri kreatif nasional, Kemenperin pada tahun 2014 mendirikan Bali Creative Industry Center (BCIC) sebagai center of excellence industri kreatif nasional.

BCIC yang terletak di Jalan WR Supratman 302 Tohpati, Denpasar, Bali, ini dilengkapi dengan prasarana dan sarana untuk membangun industri kreatif. Sebagai “rumahnya” orang kreatif, BCIC didaulat untuk melahirkan ide-ide inovatif, kreator-kreator baru sehingga terciptalah suatu produk berkualitas yang mampu bersaing menghadapi era perdagangan bebas.

Pendirian BCIC mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 6 tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 146 tahun 2014 tentang Pemberdayaan Balai Pendidikan dan Pelatihan Industri (BDI) Denpasar sebagai Pusat Pengembangan Industri Kreatif (Bali Creative Industri Center).

Ditjen IKMA akan melakukan sinergi terkait penguatan sentra IKM kreatif fesyen dan kriya dengan pemerintah daerah untuk memanfaatkan desain produk yang terdapat di BCIC sehingga diharapkan desain produk kreatif di sentra akan berkembang sesuai dengan tren desain terkini.

Pada penganugerahan pemenang IFCA 2018 di BCIC, Bali, Senin (26/11) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Putu Astawa menuturkan, perekonomian Bali mengandalkan pariwisata yang bertumpu pada panorama alam yang didukung adat dan seni budaya. Potensi ini yang harus dilestarikan dan dikembangkan agar Bali tetap jadi tujuan wisata. “Semoga acara IFCA ini jadi inspirasi bagi kalangan IKM dan penggiat industri kreatif dalam mendukung kemajuan Indonesia dan Bali,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung Gede Yuniartha Putra memaparkan daerah di Bali ada banyak kegiatan UMKM. “Kami membuat desa wisata disesuaikan dengan kontur daerahnya. Jika daerahnya banyak perajin ukiran kayu, hal itu bisa dijadikan atraksi. Wisatawan akan datang ke desa-desa wisata sesuai konturnya.”

Putra berharap, BCIC bisa menjadi tempat trade center. Jadi, UMKM dari beberapa daerah di Bali bisa memajang barang-barangnya di BCIC. “Saya tinggal mengerahkan travel agent untuk membawa wisatawan ke sini. Tempat ini bisa dijadikan daya tarik wisata.

 

Pada 2018, BCIC memiliki tiga kegiatan besar dalam rangka mendorong tumbuh dan berkembangnya industri kreatif yaitu, Indonesia Fashion and Craft Awards (IFCA), Design Laboratory, dan Creative Business Incubator.

IFCA bertujuan untuk menjaring desainer muda potensial dalam bidang kriya dan fesyen yang akan menjadi motor penggerak industri ini pada masa yang akan datang. Sasaran program ini adalah anak muda yang berusia di bawah 30 tahun.

Hal ini untuk menjawab kondisi yang terjadi saat ini yaitu pengusaha industri kreatif yang berusia di bawah 30 tahun masih sangat minim. Padahal, mereka akan menjadi penggerak bonus demografi pada masa depan.

Hal ini disampaikan juga Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kemenperin Gati Wibawaningsih dalam IFCA 2018 di BCIC. Menurut Gati, berdasarkan data BPS dan Bekraf tahun 2017 ada 78,57 persen pengusaha di industri kreatif Indonesia dengan rentang usia 30–59 tahun. Sementara itu, jumlah pengusaha muda di bawah usia 30 tahun baru 10 persen.

“Kami melihat ini potensi yang sangat besar. Kemenperin menargetkan wirausaha muda jumlahnya minimal harus sebanyak 4 juta agar negara kita menjadi lebih maju. Wirausaha muda ini salah satunya bisa dihasilkan dari teman-teman yang menjadi pemenang di kompetisi IFCA ini,” tambah Gati.

Rekrutmen peserta dalam program IFCA dilaksanakan secara terbuka melalui media sosial, poster, dan sosialisasi secara langsung di beberapa universitas ataupun sekolah desain. Pada 26 November 2018 telah dilakukan penganugerahan pada tiga desainer muda terbaik yaitu Faradilla Intan Kusumadewi dengan karya bidang kriya berjudul Moon Kingdom; Farah Nurjanah Baharesa dengan karya bidang fashion berjudul Tana Tara; serta Nia Faradiska Noor Isfaiza dengan karya bidang fashion berjudul Heritage of Kudus.

Dalam IFCA tahun ini, Direktorat Jenderal IKMA berkolaborasi dengan Taiwan Design Center. Sebanyak enam desainer terbaik diberangkatkan ke Taiwan untuk mendapatkan workshop desain. Mereka juga menghadiri Taiwan Golden Pin Design Awards untuk membuka wawasan dan meningkatkan kapasitas. “Kami sangat berharap dari 6 nominator ini setelah belajar di Taiwan ketika kembali ke Indonesia bisa membawa sesuatu ilmu untuk meningkatkan produksi IKM di Indonesia,” tutur Gati.

Sebagai informasi, produk karya peserta program BCIC 2017 yaitu produk tas kombinasi bambu dan kanvas hasil karya Firman Mutaqin, tas kombinasi anyaman bambu dan kulit hasil karya hasil Rico Doni Sagita, dan bluetooth speaker dari bambu hasil karya Rizky Faesal mendapatkan kesempatan untuk tampil di Chiang Mai Design Week 2017 melalui kurasi yang dilaksanakan oleh Rumah Sanur. Produk tersebut mendapatkan sambutan positif sehingga bisa dikatakan bahwa produk dari BCIC mampu berkompetisi di level internasional.

Selain itu, salah satu peserta CBI 2016 yaitu Mega P Puspita telah lulus seleksi dan terpilih oleh Messe Frankurt untuk turut berpartisipasi dalam pameran Ambiente 2019 sebagai talent interior melalui brand Studio Dapur dengan produk anyaman bambu.

Tahun depan IFCA 2019 akan digelar. Menarik untuk menantikan karya-karya kreatif apa lagi yang akan ditampilkan para desainer muda Indonesia. Apakah karya Anda salah satunya? [INO]

CBI Bantu Kembangkan Bisnis Pelaku Usaha Pemula

Dalam rangka menyi­apkan pengusaha muda di bidang industri kreatif, Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka me­la­lui BCIC melaksanakan program Creative Business Incubator (CBI).

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih menya­takan, melalui program ini, para pelaku IKM kreatif pemula bidang kriya dan fesyen akan diberikan pelatihan dan pendampingan untuk mengembangkan bisnis (scalling-up).

Tahapan ini cukup krusial mengingat banyak industri kreatif pemula yang sudah mampu menjalankan usahanya tetapi mengalami kendala ketika akan meningkatkan kapasitas usahanya.

Dalam pelaksanaan CBI 2018, Direktorat Jenderal IKMA berkolaborasi dengan Business Venturing and Development Institute (BVDI) Prasetya Mulya. Rekruitmen program ini dilaksanakan secara terbuka melalui media sosial dan melalui program Creative Talk dengan mengundang pelaku kreatif seperti Brodo, Duanyam, Antea Tigra, Ni Luh Djelantik, Angel Investor Network Indonesia (ANGIN) dan Perwakilan dari Business Venturing and Development Institute (BVDI) Sekolah Bisnis dan Ekonomi Prasetya Mulya.

Pelaku usaha kreatif yang mendaftar program ini ada 425 orang. Mereka diseleksi untuk mendapatkan 49 pelaku usaha kreatif yang memasuki tahap wawancara baik secara offline ataupun online. Setelah itu, dipilih sebanyak 26 pengusaha muda terbaik yang akan mengikuti program ini.

Program ini akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama melalui sesi camp yang dilaksanakan di Jakarta mulai tanggal 21 Oktober-15 Desember 2018. Tahap kedua yaitu coaching (pendampingan) yang akan dilaksanakan pada 2019 selama satu tahun. Program ini merupakan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan akademisi dalam perencanaan dan pelaksanaan program. [INO]

Hasilkan Produk Kreatif Tingkat Nasional di Design Laboratory

Kegiatan utama Design Laboratory BCIC 2018 adalah pembuatan desain baru dan pengembangan desain produk kriya dan fesyen yang sudah ada di BCIC.
Kegiatan Design Labora­tory BCIC 2018 merupakan langkah awal untuk meng­hasilkan produk-produk kreatif ikonik dan inovatif tingkat Nasional. Ke depan, BCIC diharapkan dapat menjadi pusat interaksi antara desainer, IKM, dan komunitas kreatif.

Para desainer yang tergabung dalam program ini ditugaskan untuk membuat enam desain baru produk kriya dan fesyen beserta purwarupa serta melakukan implementasi minimal enam desain unggulan dari tahun 2015-2017 (original atau modifikasi) beserta purwarupa dengan mempertimbangkan kemampuan sentra dan potensi pasar. Desain tersebut diharapkan bisa diproduksi secara berkelanjutan oleh Sentra IKM binaan Direktorat Jenderal IKMA.

Pembuatan desain dan purwarupa tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Sentra IKM yang menjadi target pembinaan e-Smart IKM KSAK. Pada tahun 2018, Sentra IKM yang menjadi pilihan target pembinaan adalah, Sentra Fesyen (Sentra Bordir Tasikmalaya, Sentra IKM Tas Ciampea, Bogor, dan Sentra IKM Perhiasan Perak Celuk, Bali) dan Sentra Kerajinan (Sentra Kerajinan Kayu di Karebet, Bantul, Yogyakarta, Sentra Anyaman Tasikmalaya, dan Sentra IKM Kerajinan Kayu, Bali).

Produk hasil kolaborasi desainer dan IKM diujicoba pasar melalui marketplace yang bekerja sama dengan Ditjen IKMA yaitu Blibli++, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan Blanja.com. Desain dan hak komersial dari desain yang dihasilkan menjadi milik BCIC. Para desainer pemenang IFCA diharapkan dapat berkontribusi dalam program ini sehingga bisa mengimplementasikan desain terbaik mereka untuk diproduksi oleh sentra IKM. [INO]

Moon Kingdom, Catur Lokal Siap Go Internasional

Permainan catur merupa­kan permainan yang sudah mendunia. Orang-orang sudah ter­biasa dengan bentuk bidang catur berikut bidak-bidak khas berwarna hitam dan putih. Salah satu peserta IFCA 2018 merombak desain

catur tersebut. Dia merombak bidang catur dari datar menjadi bulat seperti bulan. Bahkan, bidak-bidak standar diubah menjadi karakter kerajaan yang ada di Indonesia!

Nama desainer dibalik inovasi tersebut yaitu Faradilla Intan Kusumadewi. Perempuan asal Bandung ini merupakan juara pertama IFCA 2018 dengan karya bidang kriya berjudul Moon Kingdom.

Sesuai namanya, Moon Kingdom merupakan permainan catur dengan papan berbentuk seperti bulan yang menampilkan kerajaan dari Indonesia. Faradilla menuturkan, konsep membuat bidang catur yang seperti bulan terinspirasi dari keinginan mengubah bidang catur datar yang selama ini ada di pasaran.

Papan catur Moon Kingdom terbuat dari kayu mahoni. Bidang caturnya terdapat engsel yang bisa dibuka sebagai tempat menyimpan bidak. Di dalamnya diberikan busa agar bidak-bidak tak rusak karena saling tergesek. Agar pion-pion tak jatuh, bidang caturnya diberi magnet.

Keunikan lainnya adalah tema bidak-bidak yang ditawarkan. Alih-alih menggunakan desain bidak catur biasa, Faradilla mendesain ulang semua bidak. Mulai dari raja, ratu, kuda, patih, hingga prajurit. Semua didesain dengan karakter wajah yang unik dan menarik.

Pada IFCA 2018, Faradilla memperkenalkan konsep dua kerajaan yaitu dari Surakarta dan Yogyakarta. “Saya ingin Moon Kingdom bisa diproduksi hingga ke internasional. Semoga produk ini bisa sekaligus memperkenalkan konsep kerajaan di Indonesia ke luar negeri,” harap Faradilla. [INO]

Foto-foto: Iklan Kompas/Ino Julianto & dokumen Kemenperin

Leave a Comment