Semarak Budaya Kontemporer Indonesia

Menjelang pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)-World Bank Group 2018 pada 12–14 Oktober 2018, Indonesia sudah menyiapkan beragam sambutan untuk kurang lebih 15 ribu delegasi internasional. Salah satunya, menghadirkan Indonesia Cultural Performance dari beberapa seniman Indonesia bertaraf internasional.

Sebuah kehormatan, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah pertemuan tahunan IMF-World Bank Group. Karena untuk menjadi tuan rumah acara ini tidak mudah. Dengan jumlah 189 negara anggota, asumsi normalnya, dibutuhkan waktu 88 tahun untuk menjadi tuan rumah.

Namun, pertemuan ini punya siklus, yaitu diselenggarakan di Washington DC dua tahun berturut-turut dan di setiap negara anggota pada tahun selanjutnya. Jadi, bisa dikatakan untuk menjadi tuan rumah berikutnya, Indonesia butuh kira-kira 565 tahun lagi.

Karena langkanya momen ini, pemerintah menyiapkan beragam sambutan, salah satunya melalui Indonesia Cultural Performance yang dirancang oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf ) dan tim. Wakil Kepala Bekraf Ricky Pesik menjelaskan, pentas seni ini melibatkan banyak seniman Indonesia bertaraf internasional.

“Bekraf ditugaskan mendukung Panitia Nasional pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018 untuk kegiatan paralel, salah satunya menyiapkan acara untuk pentas seni dan budaya kontemporer. Ini jadi cara mempromosikan Indonesia Kami mengajak Rama Thaharani dan Rama Soeprapto menjadi kurator dan programmer,” ujarnya.

Dok Taratak Randai

Dok Taratak Randai

Indonesia Cultural Performance me ngusung tema “Rediscovering Panji”, berangkat dari cerita kuno asli Nusantara tentang Panji Asmara Bangun dan Dewi Sekartaji. Cerita Panji ini sudah diakui UNESCO sebagai memory of the world. Dituturkan Rama Thaharani, cerita Panji dipilih karena cerita ini terkenal sampai Asia Tenggara.

Berdasarkan riset pengamat budaya Karsono HS, cerita ini menjadi bagian diplomasi budaya Kerajaan Majapahit sejak abad ke-12. Salah satu jejaknya, ada cerita tokoh Inau di Thailand yang merujuk kepada Inu Kertapati atau Panji Asmara Bangun.

“Dalam perjalanannya, cerita Panji telah menjadi beberapa bentuk, mulai dari teks klasik, wayang beber, hingga seni pertunjukan dalam seni tari, drama, atau dongeng anak-anak. Cerita ini kami pilih juga karena mewakili Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang menjadi negara yang berbeda sejak krisis moneter 1998,” ujar Rama.

Cerita Panji dikemas dalam rangkaian pentas seni, seperti tari dan musik. Beberapa penampilnya adalah Sanggar Wijaya Kusuma dari Cirebon, Sanggar Asti Pradnyaswari dari Nusa Dua Bali, Langkan Budaya Taratak dari Sumatera Barat, Sanggar Soerya Soemirat dari Solo, serta Paduan Suara dari Siera Latuperissa feat Molucca Christian dan Darussalam Moslem Choral Ensemble dari Ambon-Maluku. Selain itu, masih ada pertunjukan kolaboratif I La Galigo dan wayang beber.

Masih banyak lagi pertunjukan seni yang akan ditampilkan dari 8 Oktober sampai 14 Oktober 2018. Indonesia Cultural. Pentas seni ini akan berlangsung di tiga tempat, yaitu Hotel The Westin (Paviliun Indonesia dan area kolam renang The Westin) dan Bali Nusa Dua Convention Center (Taman Jepun). Di area kolam renang dan Taman Jepun juga akan ada food festival.

Rama menjelaskan, ada dua aspek utama dalam kurasi. Pertama, rekam jejak seniman. Kepiawaian dan profesionalitas menjadi sangat penting. Kedua, dalam konteks program sendiri. Seleksi dilakukan kepada karya-karya yang ketika dijadikan satu menciptakan rangkaian program yang menampikan keragaman Indonesia.

“Karya baru juga ditampilkan karena kami ingin memperkenalkan budaya Indonesia yang berkembang, beragam, dan dinamis. Kami berharap, ketika para delegasi itu pulang nanti ke negaranya masing-masing, ada kesan positif yang mereka bawa dan diceritakan,” tutup Rama. [VTO]

Menyambut Kembali I La Galigo

purnati-i-la-galigo

Dok Yayasan Bali Purnati

I La Galigo, pertunjukan yang terinspirasi puisi epik Bugis Sureq Galigo, akan hadir dalam rangkaian pertunjukan budaya mengiringi pertemuan tahunan IMFWorld Bank Group 2018. Dipentaskan pertama kali pada 2004 di Singapura, kini pertunjukan I La Galigo kembali digelar di rumahnya, Indonesia, sekaligus disaksikan ribuan delegasi internasional.

I La Galigo adalah kolaborasi lintas budaya dan jembatan antara sensibilitas Timur dan Barat yang digarap sutradara visioner dari Amerika Serikat Robert Wilson. Pertunjukan ini menghadirkan 56 penampil Indonesia yang sebagian besar dari Indonesia Timur serta melibatkan Rahayu Supanggah sebagai komposer musiknya. I La Galigo akan dipentaskan secara utuh pada 9, 10, 12, dan 13 Oktober 2018, pukul 19:00 di Peninsula, Nusa Dua.

Sureq Galigo adalah salah satu manuskrip sastra kuno Indonesia yang paling berharga dan diyakini sebagai manuskrip terpanjang di dunia, lebih panjang ketimbang Mahabharata. Pada 2011, Sureq Galigo diakui sebagai Memory of the World (MOW) oleh UNESCO. Manuskrip ini berisi tentang asal-usul orang Bugis di Sulawesi Selatan, dimulai dari zaman prasejarah di Luwuq, situs yang dipercaya sebagai asal mula kebudayaan Bugis. Karya pertunjukan I La Galigo diolah dari teks yang masif ini menjadi pementasan yang begitu hidup di panggung.

Restu Imansari Kusumaningrum, produser dari Indonesia sekaligus direktur artistik pertunjukan mengatakan, I La Galigo bisa bercerita banyak tentang kebesaran Nusantara. Ia menjelaskan, bangsa kita pernah sangat berjaya sebagai bangsa maritim; melakukan perdagangan lewat jalur laut dan menjelajah kepulauan. Ini tampak jelas dalam I La Galigo.

“Kebesaran Indonesia itu ada dan kita punya harkat, tetapi sekarang kita kurang berani berlayar. Kita harus punya harga diri,” tutur Restu. Pertunjukan I La Galigo ini juga secara khusus didedikasikan untuk Sulawesi Tengah yang baru saja diguncang gempa. “Saya ingin ini menjadi cara untuk  mengembalikan seni budaya sebagai cara untuk mencapai kepercayaan. Untuk membangun jati diri kita dan merakit mozaik untuk bangkit kembali,” tambah Restu. [NOV]

Singapura Esplanade Theatres on the Bay
12-13 Maret 2004

Amsterdam, Holland Het Muziektheater
12, 14, 15 Mei 2004

Barcelona, Spanyol Forum Universal de les Cultures
20-23 Mei 2004

Madrid, Spanyol Teatro Espanol
30 Mei-2 Juni 2004

Lyon, Perancis Les Nuits de Fourviere Rhone
8-10 Juni 2004

Ravenna, Italia Ravenna Festival Teatro Alighieri
18-20 Juni 2004

Ravenna, Italia Ravenna Festival Teatro Alighieri
18-20 Juni 2004

New York, AS Lincoin Center
13-16 Juli 2005

Jakarta, Indonesia Teater Tanah Airku
10-12 Desember 2005

Melbourne, Australia Melbourne International Arts Festival
19-23 Oktober 2006

Milan, Italia Teatro Arcimboldi
12-17 Februari 2008

Taipei, Taiwan Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival
7-10 Agustus 2008

Makassar, Indonesia
23-24 April 2011

Art Bali

Seni yang Melampaui Mitos

Foto dokumen Art Bali

Art Bali diselenggarakan pada 9 Oktober–9 November 2018 di gedung AB•BC (Art Bali•Bali Collection), kawasan Bali Collection, Nusa Dua, Bali. Bernaung di bawah Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), Art Bali merupakan bagian dari rangkaian acara pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018. “Beyond the Myths” dipilih menjadi tajuk pameran oleh tim kurator yang terdiri atas Rifky Effendy dan Ignatia Nilu. Tema ini diambil untuk membuka cakrawala yang lebih luas dan tajam dari beragam fenomena di balik nilai sosial-budaya di Indonesia.

Sebanyak 39 seniman terlibat. Para perupa itu, antara lain Arin Dwihartanto Sunaryo, I Made Djirna, Made Wianta, Entang Wiharso, Eko Nugroho, dan Jompet Kuswidananto. Mereka turut merespons tema “melampaui mitos” dengan menawarkan pemikiran, gagasan, dan lambang baru atas tanda-tanda yang dimitoskan oleh seni maupun budaya. Pendekatan yang ditawarkan pun beragam, mulai dari medium patung, instalasi, lukisan, karya interaktif, karya performatif, video art, optical art, karya konseptual, fotografi, dan masih banyak lagi.

CEO dan Founder Art Bali Heri Pemad menyatakan, “Melalui Art Bali, kami ingin menunjukkan komitmen untuk membangun serta mengembangkan ekosistem seni dan budaya, di Bali khususnya.”

Foto dokumen Rifky Effendy

Heri menambahkan, Art Bali yang rencananya akan secara konsisten digelar tiap tahun diharapkan akan menjadi pemantik digelarnya pameran dan acara-acara seni kontemporer di kantong-kantong seni di Bali sehingga akan ada semacam “Bali Art Road”. Selain menghidupkan girap seni di pulau ini, pameran-pameran seni rupa juga akan menjadi magnet yang menggerakkan roda ekonomi sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa merasakan dampak positifnya. [NOV]

Anjungan Digital Bekraf

Sebarkan Film dan Musik Indonesia Secara interaktif

Foto dokumen Bekraf

Semangat untuk menyebarkan film pendek dan musik khas Indonesia terus dilakukan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Salah satunya membuat Anjungan Digital Bekraf (ADB), bekerja sama dengan Minikino Film Festival dan Irama Nusantara.

Ide ADB berasal dari Minikino saat dibawa Bekraf ke South by Southwest (SXSW) di Amerika Serikat, April lalu. “Sekarang, dipadukan dengan Irama Nusantara. Itu ide cemerlang. Jadi, tidak hanya film pendek, tetapi juga musik Indonesia,” ujar Program Director Minikino Fransiska Prihadi.

Hal ini juga disambut baik oleh Irama Nusantara. Salah satu inisiatornya, David Tarigan, mengatakan, ADB menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali musik Indonesia yang lama terpendam. “Rekaman musik Indonesia sekarang, bisa dikatakan hanya 5 persen dari yang dirilis sejak zaman dulu. ADB ini bisa menjadi cara efektif merawatnya,” ujarnya.

ADB akan ditampilkan untuk memperkenalkan film pendek dan musik Indonesia ke puluhan ribu delegasi dari anggota IMF-WB dari seluruh dunia, pada 8-14 Oktober 2018. Untuk ADB, Minikino melakukan seleksi film dengan durasi hingga 10 menit. Akhirnya, Minikino memasukkan 28 film pendek Indonesia. Yang spesial, Bali 1928, film tentang gerakan repatriasi seni di Bali era 1928.

“Melalui ADB ini, filmmaker Indonesia bisa mendapatkan model baru untuk mendapatkan celah komersial, di samping edukasi. Nilai komersialnya tidak besar, tetapi ini membuka peluang kerja sama dari pihak lain,” katanya.

Adapun Irama Nusantara akan menampilkan 50 rilisan yang dibagi berdasarkan dekade dan era. Akan ada masing-masing 10 rilisan untuk 4 dekade (dekade ‘50, ‘60, ‘70, dan ‘80) serta 10 rilisan dari era prakemerdekaan (era ’20-’40).

“ADB ini membantu mengenalkan kembali karya lagu Indonesia yang lama terpendam dengan masuk ke ruang-ruang publik. Dan, kemudian bisa membuka pintu untuk tertarik atau mungkin mencari lebih dalam lagi soal lagu-lagu Indonesia yang sangat kaya ini,” ungkap David. [VTO]

Paviliun Indonesia

Etalase Karya Nusantara

Sebagai tuan rumah pertemuan tahunan IMF-World Bank Group 2018, Indonesia berkomitmen untuk menyuguhkan pengalaman berkesan untuk semua partisipan. Di bawah tanggung jawab dan pengelolaan Kementerian BUMN, Paviliun Indonesia digelar untuk mengekspos dinamika ekonomi dan kultural Tanah Air.

Foto-foto Dok VDesign, Maharani, Jenggala

Paviliun ini dibagi menjadi tiga seksi, yaitu Arts and Crafts Expo, Tourism Booth, dan Infrastructure Expo. Pada Arts and Crafts Expo, partisipan dapat melihat dan membeli produk kriya artisanal yang sudah dikurasi, mempelajari sejarah dan filosofinya, bahkan menyaksikan proses pembuatannya.

Badan Ekonomi Kreatif mengusulkan beberapa nama untuk terlibat dalam Arts and Crafts Expo. Ada tiga label yang ikut serta, yaitu Jenggala (produk-produk keramik), Maharani (perhiasan dan aksesori), dan Vdesign (produk interior dan aksesori).

Foto-foto Dok VDesign, Maharani, Jenggala

Direktur Pemasaran Luar Negeri Bekraf Bonifacius Pudjianto mengatakan, “Produk-produk yang dipilih memiliki desain kontemporer dengan akar budaya. Ada inovasi dalam desain, ada story telling-nya, dan yang paling penting adalah produk-produk ini punya sentuhan handmade yang kuat,” jelas Bonifacius soal kurasi produk.

Sementara itu, Tourism Booth akan mempromosikan sejumlah destinasi pariwisata sekaligus paket-paket wisata dan layanan konsultasi dengan agen perjalanan. Di dalam Infrastructure Expo, partisipan dapat melihat berbagai pameran tentang progres pembangunan infrastruktur Indonesia, kesempatan untuk berinvestasi, dan beragam alternatif finansial. [NOV]

Leave a Comment