Garuda Wisnu Kencana, Bukti Keunggulan Konstruksi Anak Bangsa

Pada Selasa (31/7) pukul 23.52 Wita, sejarah terjadi di Tanah Air dengan selesainya pembangunan patung raksasa Garuda Wisnu Kencana (GWK). Spektakulernya patung ini sebagai karya seni, sains, dan teknologi buatan anak bangsa menjadi kebanggaan, bahkan pencapaian yang barangkali hanya sekali seumur hidup bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Patung GWK merupakan hasil kola­borasi PT Alam Sutera Realty Tbk. dengan seniman Nyoman Nuarta. Pihak Alam Sutera menunjang dari sisi sains dan teknologi dalam perancangan dan pelaksanaan konstruksi struktur patung. Di balik sosok megahnya patung yang terbuat dari lembar-lembar tembaga yang dikerjakan oleh tim Nyoman Nuarta, terdapat pekerjaan konstruksi yang tidak main-main. Pekerjaan konstruksi yang rumit ini tidak hanya memungkinkan patung berdiri sesuai rancangan artistik Nyoman Nuarta, tetapi juga kokoh terhadap terjangan angin dan guncangan gempa.

Setelah sempat tertunda cukup lama, pe­ngerjaan patung GWK dilanjutkan oleh Alam Sutera. Tim Civil Engineering Alam Sutera bekerja sama dengan para ahli struktur dan seni terbaik, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk mewujudkan karya kebanggaan anak bangsa. Sejak akhir 2015, tim Alam Sutera rutin bertemu dengan tim para ahli untuk memastikan setiap detil proyek berjalan dengan baik sesuai kualitas yang diharapkan.

Kompleksitas desain

Sebagai patung tertinggi ketiga di dunia dan patung tembaga terbesar di dunia, dengan proses perancangan patung yang sangat kompleks, dibutuhkan uji coba sains yang dapat menjamin kekokohan struktur patung.

Terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi tim desain dan konstruksi struktur GWK. Patung ini berdiri di atas pedestal yang terbuat dari konstruksi beton. Lalu, di atasnya, sosok patung berdiri dengan struktur baja.

Kerumitan bentuk patung membuat kon­struksi struktur baja di dalamnya sangat tidak beraturan. Konsekuensinya, sistem koneksi pada titik sambungan baja (joint) menjadi rumit dan tidak umum, misalnya ada sejumlah joint yang memiliki 11 batang baja (member) sehingga sudut tumpuannya sangat kecil dan sistem sam­bungan sulit dilakukan. “Dari perancangan, pelak­sanaan, hingga proses mengangkat sampai ke atas membutuhkan sinergi dari berbagai pihak un­tuk menyumbangkan keahliannya masing-ma­sing supaya menjadi sesuatu yang sesempurna mung­kin,” ujar konsultan ahli struktur Steffie Tumilar.

Adang Surachman sebagai konsultan utama struktur patung dari PT Penta Rekayasa me­ngatakan, saat pihaknya menerima penugasan, hal yang pertama diupayakan adalah membuat rancangan desain sesimpel mungkin. Meski demikian, ada bagian-bagian dari karya seni Nyoman Nuarta yang tidak dapat ditawar-tawar sehingga pihaknya mau tidak mau membuat model seperti apa adanya. Hasilnya, muncul desain yang semua elemen dan sambungan bajanya tidak ada yang sama, dan selama proses perancangan sering terjadi penyesuaian antara bentuk kulit patung dengan strukturnya.

Namun, faktor keselamatan juga menjadi hal yang tidak dapat dinegosiasikan, sehingga semua kaidah peraturan standar nasional yang ada wajib diikuti. Untuk beban gempa, menurut Adang, desain yang dibuat telah mengikuti peraturan gempa terbaru tahun 2012 dengan memperhitungkan beban gempa yang terjadi hingga 2.500 tahun sekali. Sementara itu, untuk faktor angin, desain diran­cang untuk menahan beban angin terbesar dengan periode ulang 100 tahun sekali.

Pengujian bukan hanya dilakukan di atas kertas, tetapi juga melalui uji laboratorium. Untuk beban angin, sebelumnya pernah dilakukan pengu­jian di Australia. Namun, dengan adanya sejumlah penyesuaian, pengujian diulang kembali, kali ini dilakukan di Toronto, Kanada, yang merupakan salah satu laboratorium terowongan angin terbaik di dunia, yaitu RWDI.

Pengujian di terowongan angin sangat pen­ting terutama karena patung GWK memiliki bagian kulit berbentuk lancip-lancip. “Di bagian-bagian ujung disebut vortex, beban bisa tiba-tiba membesar karena bentuknya yang lancip. Hal ini dapat menyebabkan kulit copot kalau tidak cermat,” terang Adang. Dari pengujian, tidak ditemukan masalah. Bahkan, desain dinyatakan mampu menahan beban melebihi yang dianjurkan.

Melihat tingkat kerumitan pengerjaan kon­struksi struktur GWK, Steffie mereko­mendasikan untuk melibatkan pakar yang reputasinya sudah diakui di tingkat dunia untuk melakukan ulasan dan penyempurnaan (fine tuning). Konsultan yang terpilih adalah Arup yang antara lain pernah menggarap Sydney Opera House di Australia, Hotel Marina Bay Sands di Singapura, dan Stadion Nasional “Sangkar Burung” di Beijing, China.

Menurut Charlie Benson dari Arup, keter­libatan pihaknya meliputi tiga aspek. Pertama, menyangkut ulasan tajam dari para ahli (peer review) secara global terhadap prinsip dasar struktur yang didesain PT Penta Rekayasa. Kedua, menyangkut sistem koneksi dan perkuatan yang diperlukan untuk joint struktur baja yang tidak beraturan. Untuk ulasan (review) ini, Arup secara khusus mengundang insinyur yang memiliki keahlian merancang platform lepas pantai untuk memberikan saran optimasi fabrikasi struktur. Ketiga, melakukan analisis finite element terhadap setiap joint.

Pada tahap ini, Arup memfokuskan pada joint-joint yang membutuhkan pemeriksaan yang lebih saksama. Berbekal pengalaman Arup dari proyek-proyek yang pernah ditangani, optimasi dilakukan pada hal-hal yang dianggap critical untuk menjamin desain yang dihasilkan adalah yang terbaik.

Pelaksanaan

Setelah mendapatkan desain yang terbaik, berikutnya adalah tugas kontraktor untuk melaksanakannya. Struktur pedestal menggunakan sistem beton bertulang, dilanjutkan struktur baja pada patung. Bagian fondasi menggunakan raft foundation dengan ketebalan 0.5 meter hingga 2,2 meter seluas 8585 meter persegi. Mengingat fondasi cukup tebal, dikhawatirkan pada saat pengecoran suhu terus meningkat dan menyebabkan retak­an (crack). Untuk menyiasati hal itu, Steffie meng­usulkan penggunaan balok es sebagai bahan campuran ready mix.

Tidak tanggung-tanggung, dibutuhkan se­banyak 19 ribu ton, yaitu sebanyak 43.024 balok es. Balok-balok es tersebut didatangkan dari Banyuwangi karena pasokan dari Bali sendiri tidak mencukupi. Corporate Planning Division Head PT Alam Sutera Realty Tbk Gunawan Sjahjady mengatakan, tuntutan teknis tidak dapat ditawar sehingga rekomendasi apa pun terkait hal itu akan dilakukan, seperti halnya penggunaan balok es.

Untuk struktur baja, mengingat tingkat keru­mitan proyek, desain dibuat menggunakan software khusus 3 dimensi yang mampu memperlihatkan setiap bagian dan sambungan hingga detailnya. Berdasarkan gambar tersebut, PT Cipta Dimensi Baja Nusantara melakukan fabrikasi struktur.

Di luar kulit tembaga patung, secara kese­luruhan proyek ini membutuhkan 2.000 ton baja yang terdiri atas 21 ribu elemen dan 1.500 joint. Rata-rata, terdapat tujuh elemen untuk setiap joint, bahkan maksimum terdapat 11 elemen pada sebuah joint.

Pada saat pengerjaan, kesulitan yang dihadapi adalah angin yang besar sekali. Menurut PT Cipta Dimensi Baja Nusantara Sandi Tantra, pengerjaan hanya dapat dilakukan jika kecepatan angin maksimal 10 knot. Tidak mungkin melakukan pengelasan di ketinggian karena terlalu berbahaya. Oleh karena itu, semua pengerjaan mengelas dila­kukan di workshop sesuai model 3 dimensi yang dibuat. Pengerjaan di lapangan semuanya meng­gunakan baut yang jika dijumlah keseluruhan men­capai 170 ribu baut. Setiap joint rata-rata me­miliki 115 baut dengan tingkat presisi maksimal 2 milimeter.

Tantangan yang dihadapi adalah pengerjaan pada bagian-bagian yang menggantung, misalnya bagian dada burung garuda dan sayapnya. Proses pengangkatan baja yang posisinya berada di ujung kantilever membuat ruang kerja terbatas dan harus benar-benar aman. Meski telah disepakati, antara kulit dan struktur baja terdapat jarak 1 meter, tetapi pada praktiknya tidak semudah itu.

Sering kali terjadi benturan antara rangka kulit dan baja karena penyesuaian artistik dari bentuk patung. Untuk itu, antara tim struktur bersama dengan kontraktor baja dan tim yang mengerjakan kulit secara intensif juga terus berkoordinasi.

Meski dengan tingkat kerumitan yang sangat kompleks dan skala pekerjaan yang luar biasa, nyatanya sinergi seluruh tim yang terlibat di bawah komando tim Alam Sutera mampu menyelesaikan proyek ini dalam kurun waktu kurang dari lima tahun.

Berdirinya patung GWK menjadi kebanggaan anak bangsa, bukan hanya dari sisi seni dan budaya, tetapi juga keahlian sains dan teknologi dalam konstruksinya. Patung GWK menjadi persembahan Alam Sutera bagi bangsa dan menjadi ikon kebanggaan, tak hanya bagi Bali, tetapi juga Indonesia. [*/IKLAN]

Foto: dokumen Alam Sutera.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 25 September 2018.

Leave a Comment