Kelemahan yang Menjadi Kekuatan

/CERITA.

Oleh : Maghvira Afzarea Brabo

Instagram : @virabrabo

Selalu berpikir positif dan berkemauan keras untuk mengubah kelemahan menjadi sebuah kekuatan adalah langkah bijak untuk membuat hidup semakin berharga. Selain untuk pengembangan diri, ini juga bisa memotivasi banyak orang.

Tak perlu susah-susah menjadi individu yang mampu memotivasi banyak orang, misalnya menjadi sosok seperti Robert Kiyosaki yang terkenal sebagai motivator andal. Atau harus mengalami hal berat seperti Nick Vujicic, penyandang tetra-amelia syndrome yang motivasinya mendunia di jejaring sosial.

Warna-warni kehidupan yang begitu beragam bisa menjadi bahan baku untuk membuat hidup kita lebih berarti, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kita semua paham kalau setiap orang punya kekurangan, termasuk aku yang dulu enggak punya keterampilan dalam berkomunikasi.

Jangankan membangun komunikasi dua arah, ditanya sama orang lain kadang gugup, grogi, bingung harus jawab apa. Dari SD, SMP, lalu SMA, aku dikenal menjadi orang yang kurang pergaulan, ya seperti orang introver gitu deh, tertutup banget.

Sampai pada suatu saat aku berpikir, aku harus bisa berubah. Aku harus bisa seperti orang lain yang dapat bergaul dan berinteraksi. Sebagai anak tertua dari empat bersaudara, aku harus bisa seperti adik-adikku yang punya banyak teman.

Akhirnya setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi. Banyak yang didapat dengan memilih jurusan ini. Selain dengan belajar komunikasi, aku juga giat melakukan berbagai diet agar penampilan bisa berubah. Maklum, dulu waktu sekolah sering banget aku diejek karena penampilan yang kurang oke.

Bangga

Waktu terus berjalan dan akhirnya aku berhasil mengubah kekuranganku menjadi sebuah kelebihan. Bahkan, sekarang aku bisa ngobrol sama stranger, yang mungkin sifat ini tidak dimiliki banyak orang, apalagi kaum Hawa. Tapi aku bisa, dan aku bangga bisa melakukan ini.

Di medsos aku juga sering dibilang sosok yang ramah. Ini lantaran komen mereka terhadap hasil foto yang aku posting langsung aku balas satu per satu. Senang dong, dibilang menjadi orang yang ramah. Beda sama dulu-dulu, he…he…

Teman-temanku juga bilang kalo aku tuh, orangnya good listener dan good adviser. Tidak hanya mendengarkan keluh kesah orang, tapi mencoba untuk mencari jalan keluarnya.

Foto-foto :Iklan Kompas/Adi Yuwono.

Aku sama seperti kebanyakan anak muda lainnya, yang terkadang menemui titik jenuh. Momen-momen seperti ini kugunakan untuk terus berkreasi, misalnya membawa laptop ke coffee shop kemudian di sana menulis dan menuangkan imajinasi. Ada sejumlah tulisan hasil aku nongkrong di kafe-kafe, tapi sayangnya belum cukup pede untuk di-posting ke medsos.

Kumpul sama teman-teman di hari Sabtu untuk nongkrong, nyalon, atau mencari spot-spot menarik agar bisa “foto-foto cantik” juga menjadi hobi tersendiri. Makanya fitur kamera di smartphone menjadi hal utama. Namun khusus hari Minggu, waktu yang aku punya hanya untuk kumpul bersama keluarga.

Dunia digital

Oh ya, perkembangan dunia digital gak bisa dimungkiri telah mengubah gaya hidup kita. Gak heran, anak milenial sekarang kebanyakan lebih suka menghambur-hamburkan uang, hedonisme. Mau gimana lagi, teknologi dan lingkungan mendukung untuk hal itu. Di sinilah aku coba untuk membentengi diri dengan terus peka dan menjaga hubungan erat dengan keluarga agar tidak terbawa arus keduniawian.

E-commerce yang berkembang saat ini juga telah mengubah kebiasaan kita berbelanja. Tapi untuk fashion aku lebih suka beli langsung karena lebih puas, bisa dicoba. Lagian, aku termasuk orang yang gak sabaran, harus nunggu pengiriman oleh pihak yang punya lapak.

/CUTTING EDGE.

Dari “Content Creator” Menjadi Musisi

Luthfi Aulia Chandra
Musician
@LuthfiAulia

dokumen Famous.id

Nama Luthfi Aulia Chandra mulai melejit sejak ia membuat video cover lagu di akun Instagramnya.

Pria kelahiran Padang, 16 Oktober 1993, itu kemudian dilirik Kevin Aprilio hingga resmi bergabung dengan grup musik bentukan Kevin bernama Kevin and The Red Rose pada pertengahan 2016.

Seiring berjalannya waktu, Luthfi semakin serius meniti karier di dunia musik. Hingga pada akhirnya, setelah banyak mengunggah video cover lagu di YouTube, dia merilis single bertajuk “Ragu.”

Single pertama Luthfi tersebut adalah hasil kolaborasi dengan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion yang berkontribusi di penulisan lirik lagu serta Ade Avery dan Jessi Mates dari sisi composer lagu. Pada Sabtu (5/5), Luthfi menggelar showcase dalam rangka peluncuran single pertamanya itu.

Pada showcase perdana “Ragu” ini Luthfi Aulia menggandeng beberapa penggiat musik dan kreator video online seperti Hanggini, Alya Nur Zurayya, Fadil Jaidi, Desmond, Ilyas Muhammad, dan Nadiya. “Ragu” dirilis 29 April 2018 di kanal YouTube Luthfi Aulia Chandra dan lagunya sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital, seperti iTunes, Spotify, Joox, dan Deezer. [*/AJG]

/LITERASI.

Menggali Sumber Inspirasi

Oleh Bonita
(@singingbonita)

Ke mana pun bepergian, buku selalu ada di tangan, terlebih untuk perjalanan panjang. Seperti dalam perjalanan tur ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berakhir sekitar dua minggu lalu, saya membawa buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Jejak Langkah” dan “Rumah Kaca”, buku ketiga dan keempat dari tetralogi Pulau Buru yang fenomenal. Sampulnya mulai usang dan berlipat, karena usianya sudah lebih dari 15 tahun sejak dibeli dan bukan baru sekali saya baca.

Ya, buku bisa bikin saya candu, terutama karya Pramoedya. Bermula dari “Gadis Pantai”, novel Pramoedya selanjutnya selalu menggelitik. Buku, sejatinya adalah ilmu. Bersifat informatif, menghibur, dan inspiratif.

Foto dokumen pribadi.

Bagi saya, buku roman sejarah, yang banyak menginformasikan tentang sejarah Indonesia memberi banyak pengaruh. Saya dulu berpikir, negara Indonesia ini negara yang membosankan. Makmur, tetapi sangat membosankan. Saya sempat merasa tidak punya kebanggaan terhadap negara ini. Namun, lewat buku-buku semacam ini, saya jadi tahu, Indonesia memiliki pergerakan dan cerita-cerita yang kaya akan sejarah.

Mungkin, bagi orang-orang, hobi membaca saya ini terbilang telat. Saya baru mulai larut dalam dunia buku pada akhir usia 30-an tahun. Pendorongnya, kebutuhan inspirasi untuk menulis lirik lagu. Ternyata, buku memberi inspirasi lebih dari untuk membuat lirik, misalnya memahami sejarah, memberi pola pandang terhadap sesuatu, dan mengajarkan untuk tidak mudah menilai sesuatu.

Membaca buku, secara fisik, memberi “energi” melalui perbedaan tekstur sampul, lembar halaman, hingga baunya. Itu sebabnya, sampai hari ini saya masih enggan menggunakan e-book. Entah, 10 tahun ke depan bagaimana. Kecanggihan era digital belum terlalu mengusik minat saya untuk membaca buku secara langsung. Tetapi, bermakna besar dalam bermusik. Seperti sekarang saya sedang menggarap Festival Musik Rumah (FMR) pada 17–19 Agustus 2018.

Ide yang digagas suami saya, Petrus Briyanto Adi, ini pada dasarnya untuk ikut serta mengisi hari kemerdekaan Indonesia dengan menyatukan musik, rasa merdeka, dan keindahan ragam Indonesia bersama seluruh saudara yang ada di Indonesia maupun di mancanegara.

Festival ini diadakan di rumah-rumah, melalui kecanggihan teknologi kita semua bisa menonton para partisipator acara FMR lewat dunia maya. Para partisipator adalah para penampil dan penghuni rumah yang mau dan bisa menyediakan tempat dan atau tenaga untuk terselenggaranya FMR.

/KOLEKTIF.

Menebak Indonesia di Ruci Art Space

Ruci’s Joint & Art Space merupakan salah satu art space yang berada di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Kehadiran art space sendiri mulai ramai dalam 3 tahun belakangan ini. Ruci terdiri dari dua lantai. Lantai satu ditempati untuk kafe dan lantai dua ditempati sebagai ruang pameran.

Untuk restorannya, beroperasi mulai pukul 12 siang hingga 10 malam. Sementara, art space buka pukul 11 siang sampai pukul 7 malam. Ruci biasa menjadi tempat untuk menampilkan berbagai macam seni kontemporer, antara lain lukisan, fotografi, pahat, dan video.

dokumen lonelyplanet.com

Pada 11 Mei – 10 Juni 2018, Ruci menampilkan pameran yang dikuratori Gesyada Siregar. Pameran tersebut merupakan pameran kolektif dari kelompok Divisi 62 yang berdomisili di Jakarta. Grup seniman yang fokus di ranah musik, seni visual, fotografi, antropologi, dan graphic design itu memajang 9 karya.

Pameran tersebut berjudul Paripurna atau secara harfiah berarti “menyeluruh” itu menampilkan berbagai karya arsip sejarah, artefak, fotografi, maupun medium seni visual lainnya yang saling berkaitan dengan pertanyaan apa itu Indonesia. [*/ACH]

/ULAS.

Huawei nova 2 lite Ponsel Pintar “Full View” dengan Dual Kamera

Huawei Indonesia hadirkan Huawei nova 2 lite untuk kaum milenial. Ponsel pintar ini memiliki layar full view dan desain elegan yang mengesankan. Memiliki dua kamera belakang dan flash dengan kemampuan selfie toning, ponsel ini mampu memberikan pengalaman fotografi profesional.

Ponsel dengan layar full view 5,99 inci ini memiliki fitur face unlock dan fingerprint yang semakin mempermudah pengguna saat pengoperasian. Kebiasaan jeprat-jepret sana sini dan berswafoto yang dilakukan para milenial akan semakin tersalurkan dengan hadirnya dua kamera belakang dan kamera depan 8MP dengan fitur selfie toning flash.

Kamera belakang beresolusi 13 MP+2MP dan bukaan lebar membuat hasil jepretan kian memukau, termasuk efek bokeh yang biasanya hanya dimiliki kamera-kamera profesional.

Huawei nova 2 lite juga memiliki fitur lain yang tak kalah menggoda seperti smart split-screen, eye comfort mode, three-finger screenshot, dan floating navigation dock, yang memberikan kenyamanan dan pengalaman pengguna yang mudah.

Tebar Hadiah Ramadhan

Pada bulan ramadhan kali ini, Huawei juga menggelar program menarik “Huawei Tebar Hadiah Ramadhan” bagi masyarakat yang membeli smartphone atau tablet Huawei tipe tertentu (termasuk Huawei nova 2 lite) yang bergaransi resmi. Konsumen yang melakukan pembelian pada 25 Mei – 30 Juni 2018 berhak mendapatkan kupon undian untuk memenangkan hadiah utama berupa satu dari sembilan mobil Toyota, puluhan sepeda motor Yamaha, ratusan smartphone Huawei nova 2 lite, serta power bank. Pengundian pemenang dilakukan pada 7 Juli 2018 dan pemenangnya akan diumumkan di akun resmi media sosial Huawei Mobile Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: consumer.huawei.com/id. [*]