Inspirasi dari Afgani Sang Pemilik Kopi Spesial Kalosi

Peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit dibuktikan nyata oleh Muhammad Gif Afgani (48). Terlahir dari orangtua yang bermatapencaharian sebagai pedagang, panggilan berdagang telah mendarah daging sedari Afgani muda. Merintis dari hasil bumi, hingga kini beralih ke kopi, Afgani mantap melangkahkan kaki.

Semua berawal sejak lebih dari 20 tahun lalu. Bermodalkan dana pinjaman BRI sebesar Rp 5 juta, ia merintis usaha dengan berjualan hasil bumi. Seiring dengan hasil usaha yang meningkat, modal pinjaman juga bertambah. “Dari pinjam Rp 5 juta, Rp 10 juta, lalu pada 2014 saya dapat plafon Rp 100 juta. Pada 2014 itulah saya mulai merintis usaha kopi,” terang Afgani.

Lewat label “Marasa Coffee”, Afgani mempopulerkan kopi spesial (specialty coffee) Kalosi, yang asli tumbuh di daerah asalnya. Tumbuh di daerah kemiringan dengan ketinggian 1.000–2.000 meter, kopi kalosi dari tanah Enrekang ini dikenal memiliki citarasa yang unik dan khas dengan tingkat keasaman yang halus, lembut, dan pas. Tak heran jika kopi kalosi pun kerap kali menjuarai perlombaan tingkat nasional dan menembus pasar internasional.

Afgani dengan produk Kopi Kalosi berlabel “Marasa Coffee” miliknya. Bermodalkan pinjaman kredit BRI, Afgani berhasil memasarkan kopi Kalosi asli Enrekang ini hingga pangsa pasar internasional.

Bekerja sama dengan 10 petani kopi asal desanya, dalam tiga tahun usaha kopi rintisannya menunjukkan hasil positif. Akhirnya pada 2017, ia kembali mengajukan pinjaman modal ke BRI dengan tambahan plafon mencapai Rp 500 juta. Modal dana ini ia kelola untuk membeli kopi dan membuat mesin pengolahan kopi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produksi. Ya, alih-alih membeli, Afgani membuat sendiri mesin roasting kopi.

“Membeli mesin roasting, apalagi kalau impor, itu mahal sekali. Bisa mencapai miliaran rupiah. Kebetulan saya punya latar belakang (pendidikan) teknik. Jadi saya coba buat mesin sendiri,” terangnya.

Mesin roasting untuk mengolah 10 kilogram kopi yang digunakannya sejak setahun lalu dirancangnya selama 18 bulan. Ia pun berani bertaruh, mesin buatannya mampu memberi hasil roasting kopi yang berkualitas sama dengan mesin impor. Tahun ini, ia tengah menyiapkan mesin buatan baru untuk mengolah kopi dengan kapasitas 25 kilogram dan sebuah mesin ayakan kopi. Selain untuk menambah jumlah produksi bulanan, juga karena Afgani tengah bersiap memproduksi green bean.

Rasa kopi Kalosi yang nikmat menjadi alasan Afgani banyaknya pembeli yang melakukan pembelian berulang. “Awalnya pelanggan saya itu hanya 10 orang,” ujarnya sambil tertawa, “tapi biasanya kalau orang sudah coba, pasti akan beli lagi beli lagi”.

Kini, kopi roasting buatannya bisa ditemui di berbagai tempat. Ia bekerja sama dengan berbagai warung kopi dan kafe baik di Enrekang maupun kota-kota besar lainnya. “Saya ingin agar Marasa Coffee hadir di setiap provinsi di Indonesia. Saya bekerja sama dengan banyak warung kopi maupun kafe yang ada di Makasar, Yogya, Malang, dan bulan April lalu saya baru saja membuka kerja sama dengan outlet di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara”.

Kini dalam sebulan, Afgani memproduksi 700–800 kilogram kopi dan 100–150 kilogram kopi spesial. Ia mengakui, Indonesia kini tengah dilanda demam kopi, terutama kopi lokal. Di Makassar sendiri, menurutnya, setiap 100 meter bisa ditemui kafe atau warung kopi. Hal ini turut mendongkrak terus bertambahnya usaha kopi yang dimilikinya.

Terdiri atas kopi arabika dan robusta, kopi Kalosi “Marasa Coffee” pun menjadi salah satu oleh-oleh khas asal Enrekang yang kini tak lagi asing bagi wisatawan. Bahkan tidak sedikit yang membelinya secara grosir untuk dijual kembali di kota-kota lain, meski dengan demikian Afgani merelakan kopi roasting buatannya tak lagi membawa label Marasa Coffee.

Ia menambahkan, berdagang itu pada prinsipnya harus jujur. Apalagi kalau pedagang kopi specialty, harus jujur karena kualitas rasa tidak bisa menipu. Terbukti, dari 10 orang pelanggan, hingga kini tak terhitung. Bermula dari dana Rp 100 juta pada 2014, hingga kini memiliki plafon sebesar Rp 750 juta. Ia pun terus mengembangkan varian hasil olahan kopi.

Setia menjadi debitur BRI sejak dua dekade lalu, kiprah berusahanya tak lepas dari kemudahan yang diberikan BRI. Dengan karakter sumber daya manusia yang profesional, dapat diajak berdiskusi, dan tidak pernah mempersulit debitur dalam pengajuan kredit, menjadi beberapa hal yang digarisbawahi Afgani yang setia menjadi debitur BRI sejak dua dekade lalu. [ADT]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 16 Mei 2018.

Leave a Comment