Mengangkat Pamor Produk Lokal

Pemilihan daerah ini tidak sem­barang. Ada banyak tahapan yang dilakukan Bekraf dalam menyeleksi. Pertama, memilih daerah nominasi dengan persyaratan yang telah ditetapkan antara lain masuk dalam wilayah 3 T (terluar, terdepan, tertinggal), masuk dalam 10 destinasi pariwisata prioritas nasional, mengirimkan banyak TKI dengan cara ilegal, termasuk kabupaten atau kota yang sudah memiliki MoU dengan Bekraf dan sudah mengisi survei PM3KI dari Bekraf.

Bentang alam dan budaya yang kaya sudah seharusnya mampu menjadi nilai tambah Indonesia di mata dunia internasional. Dibutuhkan langkah inovatif nan kreatif agar potensi ini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat di seluruh pelosok.

Sejak 2016, Badan Ekonomi Kreatif setiap tahunnya rutin menyelenggarakan program Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (Ikkon) di 5 kabupaten atau kota di Indonesia. Ini adalah program yang menempatkan sekelompok pelaku kreatif di daerah untuk mendorong potensi ekonomi kreatif lokal.

Berkonsep live in, tim Ikkon berinteraksi dengan masyarakat lokal untuk menghasilkan sebuah inovasi yang merupakan ikon baru produk kreatif daerah tersebut. Sejak 2016 hingga 2017, Ikkon telah berhasil membina 10 kabupaten atau kota, 51 desa binaan, kurang lebih 2.000 pelaku kreatif lokal, dan 120 peserta Ikkon. Kolaborasi ini bertujuan agar semua pihak dapat memperoleh manfaat secara etis (ethical benefit sharing) dan berkelanjutan.

Banjarmasin menjadi salah satu daerah Ikkon 2017. Ketika tim Ikkon berkunjung ke Ibu kota Kalimantan Selatan ini tahun lalu, mereka menemukan beberapa hal yang potensial. Wastra lokal, cerita rakyat, rumah-rumah tradisional, dan terutama budaya sungai termasuk pasar apungnya.

“Kami merancang service design. Karena keberlanjutan menjadi poin penting hasil Ikkon, maka harus ada kerangkanya. Kami ingin menawarkan pengalaman wisata tematis susur sungai,” kata desainer produk Ikkon Banjarmasin Triana Hapsari.

Tim Ikkon Banjarmasin pun membuat sebuah alur untuk wisata yang berdurasi dua hari tiga malam. Desainer produk mengolah kembali rancangan perahu atau jukung lokal untuk moda transportasi susur sungai. Arsitek di dalam tim Ikkon merancang dermaga baru yang lebih aman dengan tetap mengikuti akar arsitektural Banjarmasin.

Dalam trip tersebut, wisatawan juga akan diberi travel kit dari purun atau anyaman lokal. Di dalamnya terdapat peta yang dibuat oleh desainer grafis atau kain sasirangan yang desainnya dirancang desainer tekstil dan fashion. Urusan pemasaran, tim Ikkon membuat video dan foto.

Nama Halomasin dipilih untuk wisata susur sungai itu. Halomasin juga menjadi label produk tekstil sasirangan yang dikerjakan dengan pewarna alam oleh sejumlah perajin lokal Banjarmasin. Kain ini lantas diolah oleh desainer tekstil dan fashion Santika Syaravina dan dipasarkan lewat Koperasi Ikkon (Kopikkon).

“Dengan mempertahankan teknik sasirangan dan motif khas Ban­­­­­­­jar­masin, kami me­modifikasi warna dan pola­nya. Perajin di Banjarmasin biasanya menyukai warna-warna yang mencolok. Sementara pasar-pasar di Jakarta atau di luar negeri menyukai yang warnanya lebih lembut. Kami mengusulkan penggunaan warna-warna semacam ini dan membuka jalur pasar baru,” ujar Syaravina.

Untuk sepenuhnya merealisasikan rekomendasi tim Ikkon tentang wisata susur sungai, masih dibutuhkan upaya yang lebih intens dari pemerintah, komunitas, dan warga setempat. Jika hal itu berjalan, dampak berganda dari pariwisata pada peningkatan sektor ekonomi kreatif lain pun semakin nyata.

Kolaborasi menyeluruh

Banjarmasin hanya sekelumit cerita dari menariknya program Ikkon yang dihelat oleh Bekraf sebagai sarana untuk menjadikan potensi lokal menjadi kekinian. Potensi budaya lokal Indonesia memang sangat kaya. Sensus penduduk Badan Pusat Statistik pada 2010 mencatat, Indonesia punya 1.331 suku bangsa berikut sub-suku bangsanya. Tak heran, Indonesia amat kaya budaya tak benda maupun produk budaya dengan keunikannya masing-masing. Ikkon dilihat sebagai program untuk mendorong produk kerajinan tradisional menjadi produk yang mampu memenuhi kebutuhan kekinian.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, selama ini potensi produk kerajinan Indonesia masih bersifat tradisional, tidak dapat memenuhi kebutuhan gaya hidup modern, belum berkembang, dan belum ada diversifikasi produk. Untuk itulah Ikkon dicetuskan.

“Tujuannya, potensi budaya itu mengalami inovasi, berdampak ekonomi, dan berorientasi pasar komersial. Pada akhirnya, semuanya itu mampu menciptakan kesejahteraan bagi para perajin dan pelaku kreatif, serta ber­dampak pada peningkatan ekonomi daerah,” ujar Triawan.

Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf Boy Berawi menjelaskan, “Bagi daerah terpilih, kami telah merancang program pengembangan yang terdiri dari 4 bagian penting yaitu mapping, design process, prototyping, dan pameran inspirasi lokal. Bekraf juga memfasilitasi pengembangan di bidang pemasaran dan promosi,” ujar Boy.

Dalam pelaksanaan program Ikkon 2018, Bekraf dan tim profesional yang terdiri atas mentor, desainer (produk, interior, fashion, tekstil, komunikasi visual), arsitek, koreografer tari, fotografer, videografer, antropolog, dan business developer dikirim ke berbagai titik desa binaan dari 5 kabupaten atau kota terpilih. Daerah itu adalah Kabupaten Siak, Riau; Kabupaten Belitung, Bangka Belitung; Kota Singkawang, Kalimantan Barat; Kabupaten Dompu, NTB; dan Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Tahap selanjutnya, nomine tersebut dibawa ke rapat pimpinan Bekraf yang dihadiri oleh wakil kepala badan, Sestama, dan 6 deputi. Kemudian, diputuskan 12 calon daerah terpilih. Ke-12 calon daerah tersebut kemudian dipanggil untuk mempresentasikan potensi daerahnya masing-masing dan menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk melanjutkan pelaksanaan program Ikkon dengan mengalokasikan APBD pada tahun berikutnya. Dari situ, barulah dalam rapat selanjutnya ditetapkan 5 daerah yang akan dijadikan tempat Ikkon.

“Semoga program ini dapat mengakselerasi arahan dan harapan Presiden bahwa ekonomi kreatif akan menjadi tulang punggung eko­nomi Indonesia,” pungkas Triawan. [NOV/VTO]

Wadah bagi Karya Kolaborasi

Koperasi Karya Ikkon Bersama (Kopikkon) didirikan untuk memonetisasi hasil Ikkon. Wadah ini menjadi jalur bagi desainer dan perajin untuk mengeksplorasi lebih lanjut temuan-temuan kreatif dari proses Ikkon dan menyalurkannya kepada pasar. Kopikkon memfasilitasi pelaku ekonomi kreatif melalui kelembagaan koperasi berbasis digital dengan memberdayakan perajin daerah. Dengan begitu, cita-cita pemerataan kesejahteraan sosial dan ekonomi lewat sektor ekonomi kreatif lebih mudah tercapai.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, program Ikkon yang kemudian ditindaklanjuti dengan Kopikkon sesuai dengan salah satu butir Nawa Cita atau sembilan cita-cita pemerintahan Jokowi-JK, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Sektor ekonomi kreatif bisa menjadi alat yang sangat potensial untuk membangun desa.

Ketua Kopikkon Sylvie Arizkiany menjelaskan, Kopikkon berdiri dengan mengusung lima nilai kunci: kolaborasi, pemberdayaan, perdagangan yang adil (fair trade), adanya kandungan material dan nilai lokal (local content & local value), serta desain yang berkualitas. Dengan nilai-nilai ini, perajin lokal sebagai pencipta ditempatkan pada posisi yang sejajar dengan desainer atau tim Ikkon profesional lainnya.

“Bagi tim Ikkon, potensi Kopikkon itu besar sekali. Ketika menjadi anggota Kopikkon, tim ini dapat mengeksplorasi potensi daerah-daerah lain, bukan hanya daerah tempat mereka live in terdahulu. Saya sendiri yang pada 2016 menjadi tim Ikkon Brebes sekarang sedang ikut mengembangkan tenun silungkang di Sawahlunto,” cerita Sylvie.

Jajaki pasar

Kini Kopikkon sudah menghimpun produk-produk premium dari berbagai daerah dengan labelnya masing-masing. Sebut saja misalnya Urban Transformanu (Ngada), Rising Salem (Brebes), A Journey (Lampung), Coal Jewelry (Sawahlunto), atau San (Lasem).

Produk-produk ini pun kian mendapat pengakuan. Pada 2017, karya Ikkon Brebes, Jawa Tengah ditampilkan di Salone del Mobile, Italia; dan Ikkon Ngada, Nusa Tenggara Timur di Chiang Mai Design Week.

Kopikkon didukung Deputi Pemasaran Bekraf pada Maret lalu juga mempersembahkan Archipelago X pada Signature Runway Indonesia Fashion Week (IFW) 2018 di Jakarta Convention Center. Konsep Archipelago X berakar dari makna kepulauan pada kata archilepelago dan “X” yang berarti dua hal, 10 wilayah binaan Kopikkon sekaligus kolaborasi.

Archipelago X mendapatkan apresiasi karena menghadirkan busana modern dalam balutan wastra dari berbagai penjuru Tanah Air. Nilai budaya dan kearifan lokal mewujud indah pada corak warna dan ragam motifnya. Setelah IFW 2018, Kopikkon juga hadir pada ekshibisi Adiwastra Nusantara dan Inacraft yang diselenggarakan pada April 2018.

Ajang-ajang seperti itu merupakan kesempatan yang baik untuk mengenalkan produk-produk Kopikkon. Namun, itu saja belum cukup. Kopikkon masih membutuhkan sistem pemasaran yang lebih terintegrasi untuk menyalurkan produk-produk ini lebih luas.

Sylvie membubuhkan, rencana ke depannya akan diupayakan ada galeri atau warehouse untuk produk-produk Kopikkon. Sementara itu, situs web Kopikkon sedang dimatangkan. Jika itu sudah terwujud, karya-karya Ikkon akan lebih mudah sampai ke tangan konsumen. Roda ekonomi kreatif di daerah-daerah pun bergerak maju. [NOV]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Mei 2018.

Leave a Comment