Ini Pentingnya Pendidikan Vokasi dalam Menyambut Revolusi Industri Keempat

Pendidikan dan keterampilan menjadi hal penting bagi negara dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan bermartabat. Pendidikan vokasi menjadi sebuah keharusan agar Indonesia bisa terus bersaing dalam memasuki revolusi industri keempat.

Hal tersebut dikemukakan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Forum Nasional Guru, Dosen, Widyaiswara, dan Pejabat Struktural Di Lingkungan Pusdiklat Industri di Jakarta, Rabu (27/12).

“Guru, dosen, dan widyaiswara merupakan komponen penting dalam pengembangan SDM. Oleh karena itu forum ini menjadi penting karena sektor pendidikan menjadi salah satu candradimuka untuk mencetak insan-insan industri yang kompeten. Era milenium, yang kini memasuki revolusi industri keempat harus disambut dengan menyiapkan tenaga kerja-tenaga kerja andal yang siap dengan dunia digital,” ujar Airlangga.

Dengan bekerja sama dengan negara-negara lain seperti Singapura dan Korea, diharapkan mampu meningkatkan kesiapan tenaga kerja di Indonesia dalam menyambut era digital dan Revolusi Industri 4.0. Oleh sebab itu, selain pendidikan vokasi, tahap berikutnya adalah menyusun kurikulum digital yang di dalamnya menitikberatkan pada kecerdasan buatan.

Software, analisa big data, dan artificial intelligence harus kita siapkan agar tenaga kerja kita memiliki keterampilan mumpuni,” imbuhnya.

Airlangga juga berharap agar forum nasional yang digelar selama 3 hari (27–29 Desember 2017) di Jakarta tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya oleh para guru, dosen, dan seluruh pegawai di lingkungan Pusdiklat untuk meningkatkan kinerjanya. “Tidak hanya untuk pengembangan sekolah, tetapi juga mendukung program Kementerian Perindustrian dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi secara nasional.”

 

Revolusi industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 adalah upaya transformasi untuk meningkatkan efisiensi pada setiap rantai nilai dengan mengintegrasikan kemampuan digital dan lini produksi di industri yang mengacu pada peningkatan otomatisasi, komunikasi machine-to-machine dan human-to-machine, artificial intelligence, dan pengembangan teknologi berkelanjutan pada industri.

Tuntutan itu tak dapat dihindarkan, tetapi harus disambut dengan mempersiapkan diri semaksimal mungkin menyambut era tersebut. Implementasi Revolusi Industri 4.0 membutuhkan keterampilan baru sehingga penyiapan SDM dengan kompetensi sesuai dengan pengembangan teknologi menjadi sebuah keharusan yang tak dapat ditawar.

Oleh sebab itu, forum yang digelar oleh Kementerian Perindustrian ini diharapkan mampu menjadi sarana pemahaman para guru dan dosen sebagai tenaga pendidik agar dapat menyiapkan generasi muda menjadi calon-calon tenaga kerja yang peduli dan mengikuti perkembangan industri dan teknologi terkini.

Perhatian besar dari Kementerian Perindustrian terhadap pengembangan pendidikan vokasi menjadi salah satu upaya untuk melahirkan SDM yang kompeten di bidangnya, sebagai syarat mutlak terselenggaranya industri yang mandiri dan berdaya saing.

Langkah tersebut juga menjadi jawaban atas hasil riset Bank Dunia pada Oktober lalu yang menyatakan Indonesia membutuhkan waktu 45 tahun untuk mengejar ketertinggalan pada bidang pendidikan. Sedangkan untuk mengejar ketertinggalan pada bidang ilmu pengetahuan, bangsa ini membutuhkan waktu 75 tahun.

 

Terobosan dan target

Sementara itu, pada rapat terbatas tentang pendidikan vokasi yang digelar 16 November 2017, Presiden Joko Widodo menyampaikan perlunya terobosan dan perubahan mendasar di bidang pendidikan. Hal tersebut untuk mengantisipasi perubahan dunia yang sangat cepat.

Langkah-langkah yang perlu diambil di antaranya dengan mengembangkan jurusan-jurusan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini. Selain itu, ditekankan juga bahwa pendidikan di Indonesia harus berubah menggunakan metode problem based learning dan evidence based learning, sehingga siswa langsung belajar menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di industri.

Sistem pendidikan yang dapat menjawab tantangan tersebut adalah pendidikan vokasi berbasis kompetensi yang link and match dengan industri, yaitu pendidikan yang dapat mencetak tenaga kerja dengan keterampilan khusus sesuai kebutuhan pada masing-masing industri.

Untuk itulah, Kementerian Perindustrian memiliki target penyediaan minimal 1 juta tenaga kerja industri tersertifikasi yang akan dipenuhi selama 3 tahun, yaitu 2017–2019. Salah satunya melalui pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri dengan target 500 perusahaan industri yang akan membina 1.795 SMK.

Pada 2017, Kementerian Perindustrian telah melakukan 4 kali peluncuran program Vokasi Industri membangun Link and Match SMK dan Industri, yang meliputi wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan wilayah Sumatera Bagian Utara. Dari program tersebut terbentuk kerja sama antara 415 industri dengan 1.245 SMK dengan total perjanjian kerja sama sebanyak 2.177 perjanjian.

Tindak lanjut dari perjanjian tersebut adalah terciptanya penyelarasan kurikulum untuk 34 kompetensi keahlian bidang industri di SMK. Metode belajar tersebut disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh industri. Modul pembelajaran juga telah disiapkan agar proses belajar-mengajar dapat berjalan optimal.

Tidak hanya itu, untuk mendukung implementasi hasil penyelarasan kurikulum tersebut, Kementerian Perindustrian memberikan bantuan peralatan praktikum minimum senilai Rp 35 miliar untuk 74 SMK. Untuk 2018, juga telah dialokasikan peningkatan kompetensi guru bidang produktif melalui pelatihan dan magang bekerja sama dengan ITE Singapura, Formosa Training Center Taiwan, industri dan lembaga pelatihan teknis bagi 1.900 orang. Kementerian Perindustrian juga memfasilitasi program Silver Expert bagi 50 orang. [BYU]

 

pertemuan nasional

Membangun Komitmen Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri

Untuk menyamakan persepsi dan memberikan motivasi bagi guru, dosen, dan widyaiswara dalam membangun pendidikan vokasi industri dengan sistem ganda, Kementerian Perindustrian menggelar Pertemuan Nasional Guru, Dosen, Widyaiswara, dan Pejabat Struktural di Lingkungan Pusdiklat Industri pada 27–29 Desember 2017 di Jakarta.

Selain memberikan bekal bagi para pendidik, acara bertajuk “Menyongsong Satu Abad Pendidikan Vokasi Industri untuk Mewujudkan Pendidikan Sistem Ganda di Lingkungan Kementerian Perindustrian” tersebut juga sebagai wujud nyata terhadap peningkatan fungsi pendidikan vokasi industri agar mampu menciptakan lulusan sesuai kebutuhan industri.

“Forum nasional ini diharapkan bisa membangun komitmen pengembangan pendidikan vokasi industri dari pendidikan link and match menuju dual system. Juga  membangun komitmen unit pendidikan di lingkungan Kementerian Perindustrian untuk berperan aktif dalam tindak lanjut peluncuran program vokasi industri,” ujar Kepala Pusdiklat Kementerian Perindustrian Mujiono.

Selain itu, lanjut Mujiono, urung rembuk nasional pertama kali yang menitikberatkan pada pendidikan vokasi industri ini juga sebagai salah satu upaya dalam mendukung Menteri Perindustrian menciptakan SDM industri yang kompeten untuk kemajuan industri nasional.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 750 peserta yang terdiri dari guru, dosen, widyaiswara, dan pejabat struktural di lingkungan pusdiklat industri dari berbagai daerah. Pada acara ini, mereka mendapatkan berbagai pembekalan sebagai dasar untuk menciptakan tenaga kerja berkompetensi di bidangnya.

Membangun motivasi dan budaya kerja pembaharu sebagai role model unit pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi juga menjadi salah satu materi yang didapatkan oleh para pendidik pada acara tersebut. Yang tak kalah penting, mereka juga mendapatkan pembekalan mengenai dampak dan antisipasi terhadap revolusi industri 4.0.

 

Perbaiki peringkat

Berdasarkan kajian perencanaan kebutuhan tenaga kerja sektor industri, Indonesia membutuhkan tambahan 600 ribu orang setiap tahunnya pada periode 2017-2020. Namun, jumlah pengangguran terbuka selama 2015–2017 sebanyak 7,02 juta orang. Padahal, untuk dapat memenangkan era persaingan saat ini, diperlukan SDM yang adaptif dan antisipatif terhadap perubahan di sektor industri.

Sementara itu, peningkatan kemampuan dan keterampilan calon tenaga kerja industri merupakan salah satu tanggung jawab dunia pendidikan karena pendidikan merupakan bagian integral dari proses penyiapan SDM berkualitas dan berdaya saing. Melalui pendidikan, akan lahir tenaga kerja-tenaga kerja berkualitas sehingga industri lebih produktif dan siap bersaing dengan negara lain.

Sebagai catatan, hasil survei daya saing global pada 2017 menempatkan Indonesia pada peringkat 36 dari 144 negara. Ada berbagai upaya agar negara ini dapat menempati posisi lebih baik, di antaranya melalui perbaikan-perbaikan pada sektor pendidikan dan pelatihan.

Adapun langkah yang dilakukan untuk memperbaiki peringkat daya saing di tingkat global, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan vokasi industri berbasis kompetensi, pemagangan industri, dan sertifikasi kompetensi. Untuk itulah Pusdiklat Industri beserta unit pendidikan dan balai diklat industri menyelenggarakan pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi yang link and match dengan industri. [BYU]

 

banner kemenperin

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 30 Desember 2017

Leave a Comment