Kualitas Air Minum dan Sanitasi di Aceh Kini Semakin Baik

Kehidupan masyarakat Aceh pascatsunami berangsur normal. Hal tersebut terlihat dengan masyarakat yang sudah mulai bekerja, bercocok tanam, atau menuntut ilmu ke sekolah. Saat ini, pemerintah terus memantau kebutuhan masyarakat. Salah satunya, kebutuhan air minum dan sanitasi.

Pemerintah, Pemda Aceh, dan masyarakat berkolaborasi mengimplementasikan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sejak 2014, salah satunya di Gampong Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Gampong adalah sebutan desa bagi masyarakat Aceh.

Program Pamsimas bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan air minum dan sanitasi yang berkelanjutan di wilayah perdesaan dan pinggiran kota. Saat ini, Gampong Jantho dan Gampong Cot Dulang menjadi fokus perhatian. Alasannya, seperti dijelaskan Ansari, Kepala Gampong Jantho, warga menggunakan hulu Sungai Krueng Aceh dan sumur umum untuk mandi, mencuci, dan air minum.

Sebanyak 424 penduduk Gampong Jantho menggunakan air tadah hujan untuk mengairi sawah dan ladang. Mereka bermata pencaharian sebagai petani kemiri dan buah pinang, selain juga beternak.

“Kami bisa memanen padi maksimal setahun sekali karena tanah kering saat musim kemarau,’’  ujar Sayed Jamaluddin (65) warga Gampong Jantho yang sudah 20 tahun tinggal di desa tersebut.

Masyarakat desa mengambil air minum dari delapan sumur kepunyaan warga untuk satu desa dan dari Sungai Krueng Aceh yang melintas di Gampong Jantho untuk mandi, buang air besar, mencuci pakaian, wudu, dan lain lain.

Warga memang kesulitan mendapatkan air. Saat kemarau, sumur dan tanah kering hingga tidak dapat menanam padi. Saat musim hujan, sumur dipenuhi lumpur dan aliran sungai deras. Hal tersebut membuat anak-anak terkena wabah cacar setiap tahun. Warga Gampong Jantho sangat membutuhkan air minum yang layak.

Kesulitan juga dialami siswa SD Negeri 01 Jantho. “Anak-anak sangat kesulitan membersihkan diri setelah mereka selesai BAB, wudhu, serta cuci tangan di sekolah karena terkadang air sumur juga banyak lumpur saat musim hujan dan kering saat kemarau, sehingga anak-anak harus pergi ke sungai,’’ ucap Cut Ratmiyati, Kepala Sekolah sekaligus pengajar di SDN 01 Jantho yang telah mengajar selama 28 tahun.

Penuhi kebutuhan air

Warga Gampong Jantho memang sangat membutuhkan air minum dan sanitasi. Dengan adanya program Pamsimas di Gampong Jantho, warga terhindar dari penyakit dan hidup lebih bersih. Kepala Gampong Jantho Ansari mengamini, program ini sangat bermanfaat bagi warga.

Warga Gampong Jantho menyambut baik program Pamsimas II yang masuk ke desa pada 2014. Mereka turut berkontribusi dalam mewujudkan sarana air minum perdesaan baik dalam bentuk uang (in-cash) maupun in-kind (tenaga kerja dan material lokal).

Pasca-pelaksanaan program Pamsimas 2014, pengembangan jaringan pipa distribusi di sumber air sekitar 7 kilometer dilakukan secara bergotong-royong dan mengumpulkan dana in-cash dari tiap-tiap gampong sebesar Rp 3.500.000. Dana tersebut terkumpul dan semua warga melakukan in-kind dengan bergotong-royong menggali jaringan pipa distribusi tersebut.

Abdussalam yang merupakan Ketua BPSPAMS Gampong Jantho mengatakan, saat ini, sarana air minum di Gampong Jantho tidak hanya dimanfaatkan oleh satu gampong, tetapi juga gampong sekitarnya. Pelayanan air minum Pamsimas telah melayani enam gampong lainnya yaitu Jantho, Weu, Awek, Bung, Data Cut, dan Jalin.

Sebelum program Pamsimas, sering timbul masalah sosial antardusun dalam mendapatkan air bersih. Namun, setelah program Pamsimas, penyediaan air minum warga untuk 3 ribu jiwa teratasi. Setiap rumah membayar iuran air sebesar Rp 15 ribu/bulan setelah air mengalir ke rumahnya. Besaran iuran saat ini masih diterapkan flat per rumah.

“Rencananya, pada 2018 akan dibuatkan meteran air di setiap rumah untuk mengontrol penggunaan air,’’ jelas Abdussalam.

Sumber air yang sudah dikelola Pamsimas dijaga dan diamankan oleh para jagawana atau ranger. Terdapat 17 jagawana binaan Flaura Fauna Internasional (FFI) yang diketuai Munir. Para jagawana bekerja beberapa shift selama 24 jam.

’Warga ikut menjaga sumber air dengan melestarikan hutan sekaligus menggunakan air dengan hemat,’’ jelas Munir.

Selebritas Ricky Perdana ikut melakukan tapak tilas ke sumber air Gampong Jantho. Dalam waktu enam jam dari desa dengan mobil berpenggerak empat roda, sampailah ke sumber air tersebut. Kondisi jalan tanah terjal, kering hingga kemiringan 45 derajat. Namun, saat tiba di sumber air terlihatlah air yang jernih sekaligus pemandangan air terjun serta hutan.

“Setelah adanya Pamsimas ini, warga Gampong Jantho memulai kebiasaan baik dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat melalui sosialisasi untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan diharapkan masing-masing rumah sudah memiliki jamban,’’ jelas Cut Ratmiyati.

Program Pamsimas ini membuat warga lebih mudah mendapatkan air bersih sekaligus sanitasi yang baik. Mencuci baju dan mandi menjadi lebih mudah dengan air yang tidak tercemar. Lingkungan bersih dengan adanya sanitasi yang baik.

Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Alie menyambut baik Pamsimas III yang dimulai pada 2017 ini. Saat berbincang dengan warga Gampong Jantho, dia mengatakan rencana tahun 2018 adalah melakukan perbaikan-perbaikan dari pipa-pipa aliran dari sumber air hingga rumah warga, serta irigasi untuk sawah.

Foto-foto dokumen PAMSIMAS/Hartono Karyatin

Sementara itu, di Gampong Cot Dulang, Aceh Jaya sedang dilakukan pembangunan SPAM sejak September 2017 yang akan mengalirkan air dari sumber air ke setiap rumah warga desa tersebut. Hal tersebut merupakan bagian program Pamsimas III. Untuk ke Desa Cot Dulang dari kota Banda Aceh diperlukan waktu 2,5 jam.

Perjalanan menuju sumber air dengan mobil harus melewati bukit dan pantai dengan jalan berkelok-kelok. Sumber air warga Desa Cot Dulang berjarak dua kilometer dari desa dengan menggunakan mobil jip berpenggerak empat roda dengan jalan tanah kering, menerobos perkebunan.

Menurut Kadinas PU Provinsi Aceh Ir Samsul Bahri MSi, sarana air masih kurang banyak dan akan dievaluasi untuk kuantitas dan kualitasnya. ’’Pemanfaatan air tidak sekadar untuk kegiatan kehidupan sehari-hari, tetapi juga membantu roda perekonomian warga desa seperti irigasi untuk sawah sehingga warga bisa panen padi lebih dari sekali setahun,’’ ungkap Samsul.

Warga Desa Cot Dulang kebanyakan bertani padi dan berkebun durian karet, kueni, dan pinang. Kepala Desa Cot Dulang Haflizar mengatakan jumlah warga 543 jiwa dari 3 dusun. Hanya 53 rumah yang memiliki jamban, selebihnya menggunakan toilet umum sebanyak tujuh unit. Dengan adanya program Pamsimas III ini, warga Cot Dulang akan mulai menjalani kehidupan yang lebih baik dan higienis.

Pada September 2017, Cot Dulang memulai pekerjaan konstruksi SPAM memanfaatkan sumber air yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer dari permukiman warga. Saat pengerjaan ini dilakukan, Samsul Bahri langsung memantau ke lokasi sumber air di Cot Dulang agar dapat segera diselesaikan dan dapat melayani seluruh warga Cot Dulang. Seperti yang dikatakan Samsul, selain untuk memakmurkan warga, ke depannya program ini juga diharapkan meningkatkan roda perekonomian rakyat Aceh. ​​​​​​[*]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 2 Desember 2017

Leave a Comment