Mengejar Posisi 5 Besar Bank di Indonesia

Pada 2013, Bank BTN tercatat sebagai bank dengan aset terbesar ke-10 di Indonesia. Seiring dengan kinerja bisnis yang positif, perseroan ini melejit ke posisi ke-6 pada akhir 2016. Akhir tahun 2017, Bank BTN kembali memasang target cukup tinggi yaitu menjadi bank dengan aset terbesar ke-5 (top five) di Indonesia. Bagaimana cara mencapai target tersebut?

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Maryono memaparkan strategi untuk mencapai target tersebut pada acara Buka Puasa Bersama dan Talkshow “Mengejar 5 Besar Bank di Indonesia” di Branchee Bistro, Jakarta, Minggu (18/6). Acara tersebut dihadiri juga oleh jajaran direksi Bank BTN dan media.

Transformasi

Maryono menuturkan, Bank BTN sedang melakukan transformasi. Hal ini dimulai sejak 2013 yang merupakan periode survival. Setelah itu, mulai 2015–2016, Bank BTN masuk ke periode digital banking. Pada tahap transformasi inilah performa kinerja Bank BTN mengalami kemajuan yang luar biasa.

“Hampir secara umum kinerja Bank BTN berada di atas rata-rata  industri nasional. Artinya, pertumbuhan kinerja Bank BTN meningkat secara sustain, baik dari sisi aset, kredit, maupun dana pihak ketiga (DPK). Rata-rata kenaikannya berada pada kisaran 18–20 persen,” ungkap Maryono.

Dengan peningkatan kinerja di atas rata-rata industri nasional, perseroan diyakini akan mampu mencatatkan nilai aset sekitar 253 triliun hingga akhir 2017 mendatang. Dengan aset tersebut, Bank BTN berpotensi menjadi bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia.

Sementara itu Chief Economist Bank Tabungan Negara Winang Budoyo yang hadir pada acara tersebut menuturkan, perbankan harus memanfaatkan momentum pada tahun 2017. “Meskipun secara umum perbankan masih fokus menjaga kualitas aset, kami melihat rasio non performing loan (NPL) sudah mulai turun. Bank sudah mulai gencar memberikan pinjaman. Kami percaya pertumbuhan ekonomi akan naik sehingga kredit perumahan akan naik juga,” ujar Winang.

Maryono menambahkan, untuk mencapai posisi aset ke-5 terbesar di Indonesia, Bank BTN akan menjaga laju pertumbuhan kredit dan pembiayaan di level sekitar 18 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Tak hanya itu, dari sisi penghimpunan DPK ditargetkan oleh perseroan akan tumbuh pada kisaran 22 persen hingga 24 persen yoy pada tahun ini.

Untuk meningkatkan perolehan DPK, Bank BTN membidik segmen emerging affluent atau kelompok masyarakat yang berpenghasilan Rp 7 juta hingga Rp 30 juta. Mereka dibidik perseroan sebagai sumber pendanaan sekaligus debitur pinjaman. Bank BTN juga menghimpun DPK dari berbagai nasabah potensial dari segmen UKM, komersial, dan korporasi.

Dalam memacu peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan, Bank BTN turut andil dalam meningkatkan ketersediaan rumah. Ada beberapa hal yang dilakukan. Mulai dari menciptakan pengembang yang andal, bisnis properti berkelanjutan melalui Housing Finance Center (HFC), hingga menyalurkan kredit konstruksi.

Menariknya, selain menyalurkan kredit untuk kepemilikan rumah (KPR), Bank BTN memberikan pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga (home financing), kredit kepemilikan apartemen (KPA), dan kredit konsumsi lainnya.

Selain itu, dari sisi bisnis, Bank BTN meningkatkan produktivitas cabang serta mengoptimalkan sales service model. Kemudian dari sisi SDM, Bank BTN merampingkan struktur cabang, meningkatkan budaya risiko, serta menciptakan organisasi yang fokus kepada nasabah. Dan, dari sisi infrastruktur, perseroan memoles infrastruktur teknologi informasi yang solid, meningkatkan digitalisasi proses bisnis, serta mengintegrasikan governance, risk, and compliance (GRC) dengan four eyes principles.

Kunci sukses

Maryono menjelaskan, kunci sukses untuk naik posisi ke top five ada dua. Pertama yaitu kerja keras. Kedua yaitu membangun tim yang solid. “Harus ada kerja sama antardireksi agar tim yang solid bisa menurun ke bawahannya. Walaupun berbeda direksi, kerja sama korporasi sangat penting karena suatu masalah harus diselesaikan bersama-sama. Contohnya, NPL di awal sangat tinggi, tetapi ini tidak hanya tanggung jawab direktur yang menangani kredit bermasalah, tetapi juga harus menjadi perhatian semua direktur yang ada di Bank BTN.”

Berkat berbagai inovasi tersebut, hingga April 2017, Bank BTN mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 18 persen yoy menjadi Rp 170,45 triliun. Laju kenaikan tersebut berada di atas rata-rata industri perbankan nasional sebesar 9,3 persen yoy per April 2017 (data Bank Indonesia). Tak hanya itu, DPK Bank BTN juga melesat di level 21,82 persen yoy atau naik dari Rp 129,29 triliun pada April 2016 menjadi Rp 157,52 triliun pada bulan yang sama tahun ini.

Maryono menuturkan, ketika Bank BTN nanti berhasil mencapai top five, bank ini akan menjadi lembaga pembiayaan dengan servis perbankan tingkat dunia. Hal ini perlu dilakukan guna mengantisipasi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan membuat bank nasional bersaing dengan bank-bank internasional.

Atas prestasi cemerlang BTN itu, Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia Haryajid Ramelan yang juga hadir dalam acara tersebut memberikan pandangannya seputar peningkatan kinerja Bank BTN di mata investor. Menurut Haryajid, beberapa tahun lalu, saham Bank BTN masih di bawah 1.000 kini angkanya meningkat hingga 2.700.

“Harga saham Bank BTN sekarang dianggap sudah cukup bagus. Apalagi manajemen masih akan melakukan banyak prospek. Hal ini membuat orang yang ingin menjual saham akan menunggu kemungkinan adanya gain lagi. Saya melihat potensi tumbuhnya masih ada sekitar 10–15 persen. Hal ini karena perbankan masih menjadi katalisator orang membeli saham,” jelas Haryajid.

Pencapaian top five sudah pasti akan berdampak sangat positif bagi masyarakat khususnya para nasabah BTN. Salah satunya melalui upaya reorganisasi secara layanan Bank BTN yang akan dilakukan terpusat di kantor pusat dengan berbasis teknologi canggih digital banking. Hal ini bisa berdampak efisiensi pengurangan biaya operasional sehingga biaya layanan yang dibebankan kepada nasabah bisa berkurang dan lebih murah. [INO]

Menguasai Pasar Perumahan di Indonesia dengan Pelayanan Kelas Dunia

Sebagai integrator Program Sejuta Rumah dari Pemerintahan Joko Widodo, Bank BTN tercatat telah menyalurkan kredit untuk 302.231 unit rumah pada periode Januari–April 2017. Rencananya, pada 2022, Bank BTN memasang target akan menjadi pemimpin pasar KPR dengan market share sekitar 40 persen di Indonesia.
Agar dapat terus mengembangkan bisnisnya, Bank BTN membidik naik kelas menjadi bank BUKU 4 (bank dengan modal inti paling sedikit Rp 30 triliun). Hal ini akan dilakukan paling lambat pada 2020 mendatang.
Maryono menjelaskan, target tersebut akan mampu diraih perseroan dengan asumsi kenaikan modal inti sebesar 20 persen per tahun. “Dalam jangka panjang, pada 2020 nanti, kami juga membidik Bank BTN dapat menjadi pemimpin bank perumahan di Indonesia dengan pelayanan kelas dunia”.
Pada tahun tersebut, tambah Maryono, Bank BTN memprediksi akan menjadi pemimpin pasar KPR dengan pangsa pasar sekitar 40 persen dan menyalurkan KPR sekitar 600.000 unit rumah per tahun. Dengan kinerja tersebut, Bank BTN akan menjadi entitas dengan aset sekitar Rp 800 triliun.
“Selama periode 2015–2022, kami juga menargetkan Bank BTN mampu berkontribusi dalam penyediaan rumah sekitar 3,5 juta unit atau sebesar 87,5 persen dari 4 juta unit yang merupakan total target Program Sejuta Rumah selama 5 tahun,” pungkas Maryono. [INO]

Artikel ini terbit di Harian Kompas 22 Juni 2017

Foto-foto iklan Kompas/E. Siagian

Leave a Comment