Indonesia Butuh Banyak Tenaga Insinyur

Ada dua faktor utama penggerak roda peradaban, kreativitas dan teknologi. Keduanya memungkinkan kita bermimpi tentang masa depan yang ingin dibangun sekaligus menciptakan jalan menuju ke sana. Tak ayal, kita membutuhkan pendidikan yang kreatif dan pembiasaan berpikir dalam kerangka teknologi.

Contoh kecil tentang bagaimana kita sedang berupaya memajukan lagi peradaban adalah dengan dirancangnya sejumlah kota pintar (smart city). Kota pintar mengintegrasikan teknologi komunikasi dan informasi dengan internet of things (IoT) dalam mengelola kotanya. Pada 2013, ada 21 kota di dunia yang masuk ke dalam daftar kota pintar. Jumlah ini diperkirakan akan menjadi 88 pada 2025. Di Indonesia sendiri, beberapa kota secara bertahap disiapkan menuju kota pintar.

Satu hal yang menarik, peraih penghargaan Personalidad SmartCities Live 2015 di Portugal Vitor Pereira mengatakan, tidak akan ada kota pintar tanpa warga yang cerdas. Lebih dari sekadar konversi banyak hal ke digital, kota pintar terwujud karena intervensi dari partisipasi warganya.

Oleh karena itu, untuk mencapai berbagai kemajuan, menyiapkan sumber daya manusia adalah kuncinya. Hal itu juga disadari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) sebagai institusi pendidikan yang telah meraih akreditasi institusi A. UMN berkomitmen untuk melahirkan pemikir andal, termasuk insinyur-insinyur berkualitas, untuk turut membangun Indonesia.

Terkait dengan arah global dan Indonesia untuk menuju kota pintar, masyarakat pintar (smart society), dan IoT, program studi Sistem Komputer UMN berfokus pada teknologi dan sistem cerdas. Sejalan dengan itu, program studi Teknik Elektro mendidik mahasiswanya untuk menjadi pakar di bidang otomasi industri untuk meningkatkan produktivitas.

“Fokus-fokus program studi tersebut juga relevan dengan visi Indonesia sebagai negara industri maju baru pada 2020 dan negara industri tangguh pada 2025,” ujar Ketua Program Studi Sistem Komputer Hargyo Tri Nugroho, Selasa (11/4).

Kelak, sebagai negara industri maju baru, sektor industri Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria, antara lain memiliki kontribusi tinggi bagi perekonomian nasional, memanfaatkan teknologi maju sebagai ujung tombak pengembangan dan penciptaan pasar, dan memiliki daya saing yang mampu menghadapi liberalisasi penuh dengan negara-negara APEC. Hal itu tentu saja membutuhkan peran besar sumber daya manusia yang berkualitas.

Di sisi lain, kita masih kekurangan tenaga insinyur. Saat ini, hanya 15 persen dari seluruh jumlah mahasiswa di Indonesia yang menuntut ilmu di bidang engineering. Pada 2017, kebutuhan tenaga insinyur diprediksi mencapai 46 ribu orang, sementara penambahannya diperkirakan hanya 19 ribu.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) memperkirakan, hingga 2019 kekurangan tenaga insinyur mencapai 120 ribu orang. Kebutuhan inilah yang bisa direspons generasi muda sebagai peluang pekerjaan yang menjanjikan dan memberi kontribusi yang signifikan bagi perkembangan Indonesia.

Untuk memastikan mahasiswa memiliki kemampuan analisis, teknis, sekaligus kewirausahaan yang mumpuni, program studi Sistem Komputer dan Teknik Elektro juga bekerja sama dengan berbagai industri terkait. “Program studi Sistem Komputer bekerja sama dengan antara lain Huawei, Cisco, dan Microsoft dalam bentuk kurikulum, pengadaan laboratorium, dan sertifikasi. Sementara itu, Teknik Elektro bekerja sama dengan Schneider dan Festo,” tutur Hargyo.

 Manajemen energi

Terwujudnya cita-cita tentang pembangunan ekonomi dan teknologi itu juga terkait erat dengan persoalan manajemen energi. Terkait visi tentang industri yang maju dan tangguh, ada pekerjaan besar yang perlu diselesaikan, konsumsi energi yang boros. Melihat sektor industri secara keseluruhan, pemerintah mencatat setidaknya ada delapan jenis industri yang boros energi, yaitu semen, pupuk dan petrokimia, besi dan baja, pulp dan kertas, tekstil, keramik, minyak goreng, dan gula.

Untuk menjawab persoalan energi secara general, UMN mengambil langkah konkret dengan menjadikan hal ini salah satu fokus dalam kurikulum Teknik Fisika. “Arah pengajarannya difokuskan ke manajemen energi dan fisika bangunan,” kata Ketua Program Studi Teknik Fisika Muhammad Salehuddin, Selasa (11/4).

Saat ini, manajemen energi mencakup bahasan tentang simulasi energi dalam gedung/bangunan, audit dan konservasi energi, dan sistem monitoring konsumsi energi berbasis teknologi infomasi dan komunikasi. Sementara itu, fisika bangunan melingkupi analisis sistem termal, pencahayaan, dan audio gedung/bangunan. Sarjana Teknik Fisika dari UMN kelak diharapkan menjadi SDM yang berperan sebagai pakar dalam merancang penghematan energi sebuah bangunan, konversi energi terbarukan, dan konservasi energi.

Memilih profesi yang tepat sesuai dengan kebutuhan Indonesia adalah salah satu cara bagi generasi muda untuk berkontribusi terhadap pembangunan. Peluang ini masih sangat besar di bidang engineering. [IKLAN/NOV]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 18 April 2017

Leave a Comment